NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Tak bisa Melepaskan Jeratan itu

Suara gesekan kain gorden yang ditarik kasar seketika memecah keheningan pagi. Cahaya matahari yang menyengat langsung menerobos masuk, menusuk kelopak mata Elleta yang masih terpejam. Ia melenguh terganggu, menghalau silau yang memaksa kesadarannya kembali.

​Saat perlahan membuka mata, hal pertama yang ia tangkap adalah senyuman lembut sang ibu. "Bangun, El. Sudah pagi, ayo sarapan. Mandi dulu, ya, Mama sudah masakan makanan kesukaanmu," ucap Rena sebelum kembali menutup pintu kamar dengan pelan.

​Elleta menghela napas panjang, masih terduduk lunglai di tepi ranjang. Rasa malas dan beban di pundaknya membuat setiap jengkal tubuhnya terasa seberat timah. Lima belas menit berlalu hanya untuknya termenung di depan meja rias.

Ia menatap layar ponsel yang bisu, berharap ada nama Daniel di sana. Kemana kamu, Kak? Di California bahkan baru jam enam sore sekarang, batinnya, getir oleh rasa diabaikan.

​Dengan langkah lesu, Elleta menyeret kakinya menuruni tangga menuju dapur. Aroma gurih rempah langsung menyambutnya.

​"Ayo duduk, El. Mama masak kari ayam," sambut Rena hangat seraya ikut menarik kursi di hadapan putrinya.

​Elleta menyendokkan nasi dengan gerakan pelan, matanya melirik waspada ke sekeliling ruangan. "Papa... beneran sudah berangkat, Ma?"

​"Sudah, pagi-pagi sekali malah. Katanya ada urusan mendesak di kantor, Mama juga tidak paham," jawab Rena.

Ia memajukan sedikit kursinya, menatap Elleta lekat-lekat. "Oh ya, bagaimana kabar abangmu?"

​Michael Rayn Crassia. Kakak laki-laki kandung Elleta itu memang sudah bertahun-tahun menetap di luar negeri dan nyaris melupakan jalan pulang ke Indonesia.

​"Abang baik, Ma. Cuma ya begitu, susah sekali dihubungi kalau bukan Elleta duluan yang menelepon," jawab Elleta di sela suapannya.

​Rena berdecak pelan, menggeleng-gelengkan kepala. "Abangmu itu terlalu gila kerja di Kanada. Sampai lupa kalau harus mencari menantu untuk Mama dan Papa. Coba kamu carikan, El. Mana bisa dia cari sendiri kalau dunianya hanya pekerjaan."

​Elleta tertawa kecil, sedikit terhibur. "Hahaha, sudah pernah, Ma. Tapi Abang sepertinya bebal soal wanita. Padahal di Kanada banyak yang cantik, teman-temanku di California juga tidak kurang. Dia tetap saja setia pada tumpukan berkasnya."

​Rena terkekeh geli. "Sifatnya memang keras, susah ya, El."

​Elleta mengangguk setuju. Namun, tawa hangat di dapur itu mendadak surut saat gema langkah sepatu pantofel yang tegas berdentang di atas lantai marmer. Elleta membeku.

Tatapan matanya langsung beradu pandang dengan manik hitam legam milik Yuda, pria yang paling ingin ia hindari saat ini.

​"Loh, Mas, kok sudah pulang?" tanya Rena, dahinya berkerut heran.

​"Ada urusan yang harus kuselesaikan dengan Elleta," jawab Yuda dingin, suaranya tak menyisakan ruang untuk didebat.

"Ikut ke ruangan Papa, El. Ada yang harus kita bicarakan."

​Elleta meletakkan sendoknya. Dengan dada yang mulai berdegup kencang, ia bangkit dan melangkah mengekor di belakang punggung tegap ayahnya menuju ruang kerja, sebuah ruangan kedap tanpa celah cahaya luar.

​Begitu pintu tertutup, Yuda langsung membalikkan tubuh dan menyodorkan layar ponselnya. Ia menunjukkan hasil pencarian internet; semua artikel skandal, akun palsu, hingga ribuan komentar hujatan yang menyerang Elleta kemarin kini telah lenyap. Semuanya bersih, berganti dengan tulisan 'Pencarian tidak ditemukan'.

​"Kamu paham maksud semua ini, El?" tanya Yuda, nadanya sarat akan intimidasi.

​Atmosfer di dalam ruangan ber-AC itu mendadak terasa mencekik, seolah kehabisan oksigen. Elleta mengepalkan tangannya di balik saku. "Aku tahu apa maksud Papa! Lalu aku harus gimana lagi?! Apa belum cukup Papa membuatku seperti tawanan di rumah ini?!"

​"Tawanan?!" Yuda mendengus retorika, mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan kasar.

"Hidupmu bergelimang harta, Elleta! Jangan naif! Apa laki-laki pilihanmu di California itu bisa melakukan hal secepat ini?! Bisa menghapus jejak digital dalam hitungan jam?!"

​"Daniel memang tidak sekaya atau seberkuasa Steve Athariz!" sahut Elleta, suaranya meninggi, menantang langsung ambisi pria di depannya.

"Tapi dia punya sesuatu yang tidak dimiliki Steve, dia punya ketulusan untukku!"

​"LANCANG KAMU, ELLETA CLARISSA CRASSIA! BERANI-BERANINYA MEMBELA LAKI-LAKI TIDAK BERGUNA ITU!"

​PLAK!

​Suara tamparan keras menggema di dinding ruangan. Sentakan itu begitu kuat hingga memaksa wajah Elleta menoleh ke samping. Pipi kanannya seketika terasa panas menyengat, memicu denyut nyeri yang membakar kulitnya.

Air mata refleks menggenang di pelupuk matanya, namun dengan cepat ia seka dengan punggung tangan. Ia menolak terlihat lemah di depan ayahnya.

​Elleta mendongak, menatap Yuda dengan pandangan menantang, tanpa ada ketakutan lagi. "Kalau begitu bunuh aku saja, Pa! Daripada aku hidup mewah tapi diatur seperti boneka mati!"

​Raut wajah Yuda mengeras, ego dan kemarahannya tersulut.

"Pergi ke kantor Steve sekarang. Dia sudah menunggumu. Ganti bajumu dengan yang lebih layak, rias wajahmu, jangan mempermalukan nama keluarga di depannya!" Yuda menjeda kalimatnya, merapikan jasnya dengan angkuh.

"Ucapkan terima kasih karena dia sudah membersihkan namamu. Dan ingat, Sabtu malam besok adalah pertemuan ulang dengan keluarga Danendra. Papa harap kamu tidak membuat malu lagi seperti kemarin. Jika kamu berani berulah... kamu tahu sendiri akibatnya."

​Tanpa sepatah kata pun, Elleta berbalik dan melangkah keluar, membanting pintu ruang kerja ayahnya dengan keras. Ia memacu langkahnya menaiki tangga, masuk ke dalam kamarnya sendiri, lalu mengunci pintu rapat-rapat.

​Frustrasi dan amarah bergejolak di dadanya. Elleta menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Di sana, di pipi kanannya, rona kemerahan bekas tamparan tercetak jelas. Tangannya yang sedikit bergetar mulai bergerak dengan cekatan, memoleskan foundation tebal untuk menyamarkan tanda kekerasan tersebut hingga tak bersisa.

​"Aku enggak butuh bantuanmu, Steve. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri," gumamnya tajam pada cermin.

​Ia melangkah ke lemari, memilih kemeja cokelat formal yang dipadukan dengan rok teknis putih berpotongan tegas, serta sepatu heels senada. Ia harus tampil sempurna, bukan untuk tunduk, melainkan untuk melindungi harga dirinya.

​Ting!

​Rentetan pesan masuk berturut-turut dari Daniel memecah keheningan.

​Daniel: El, aku punya kabar baik!

Daniel: Ada investor baru yang mendanai proyek besarku secara penuh.

Daniel: Aku baru saja menandatangani kontraknya hari ini.

Daniel: Kalau proyek ini sukses, aku akan langsung membawamu kembali ke California. Tunggu aku, ya.

​Mata Elleta membelalak. Dadanya naik-turun membaca pesan tersebut. Investor baru? Otaknya langsung menghubungkan semua benang merah dengan cepat. Hanya ada satu nama yang mampu melakukan manipulasi sehalus dan sekejam ini di waktu yang bersamaan.

​Steve Athariz Danendra.

​Elleta menyambar tas selempang hitamnya, keluar kamar dengan langkah tergesa, dan langsung memacu mobil BMW bernuansa gold miliknya membelah jalanan kota yang padat. Amarahnya sudah di ubun-ubun.

"Ini benar-benar keterlaluan," desisnya sepanjang jalan.

​Mobilnya berdecit di area parkir gedung pencakar langit Danendra Group. Elleta melangkah masuk dengan aura intimidatif yang kental, mengabaikan tatapan orang-orang di lobi, lalu menekan tombol lift menuju lantai 18.

Begitu pintu lift terbuka, ia menerobos masuk ke ruangan utama berdidinding kaca besar. Theo, sang sekretaris yang baru saja hendak menyapanya, langsung mengurungkan niat begitu melihat kilat permusuhan di mata gadis itu.

​Di balik meja besarnya, Steve tengah fokus memeriksa dokumen dengan sebuah kacamata bertengger di hidung bangirnya. Mendengar derap langkah yang menghentak, ia mendongak.

​Steve melepaskan kacamatanya perlahan, melipatnya dengan gerakan santai yang anggun, lalu menatap Elleta intens. "Duduklah, El."

​Elleta memilih tetap berdiri mematung di depan meja luas itu. Napasnya memburu. "Papaku menyuruhku ke sini untuk mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membersihkan namaku di media sosial. Tapi perlu kamu tahu, aku sama sekali enggak pernah meminta bantuanmu!"

​Steve hanya mengedikkan bahu sekilas, bersandar santai pada kursi kebesarannya. "Jadi, begini caramu memperlakukan orang yang sudah menolongmu, El?"

​Mata tajam Steve tidak bisa dibohongi. Ia menangkap sisa sembab di mata Elleta dan lapisan bedak yang sedikit lebih tebal di pipi kanan gadis itu. Seringai tipis muncul di sudut bibirnya; ia tahu persis apa yang baru saja terjadi di rumah keluarga Crassia.

​"Apakah kamu butuh tempat berlindung yang aman, El?" tanya Steve, jemarinya mengetuk selembar kartu akses penthouse mewah miliknya di atas meja, menyodorkannya ke arah Elleta.

​"Aku enggak butuh!" sentak Elleta, menepis tawaran itu dengan tatapan jijik.

"Bukan cuma soal urusan media sosial, aku datang ke sini untuk meminta penjelasanmu. Apa maksudmu mendanai proyek di perusahaan tempat Daniel bekerja?! Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan, Steve?!"

​Steve terkekeh rendah, melipat kakinya dengan gestur dominan. "Oh, beritanya sudah sampai ke telingamu? Naif sekali kekasihmu itu. Dia bahkan tidak sadar kalau wanitanya sedang berada dalam bahaya, dan dia dengan senang hati menerima umpan dariku."

​"Jangan berani-berani menyentuh Kak Daniel! Kamu... benar-benar iblis tidak punya hati!"

​Elleta berbalik, berniat angkat kaki dari ruangan terkutuk itu, namun suara berat bariton Steve menghentikan langkahnya seketika.

​"El, di dalam tas itu ada gaun untuk acara gala malam ini dan makan malam hari Sabtu besok. Jam tujuh malam ini aku jemput kamu di rumah. Bersiaplah," perintah Steve, nadanya beralih menjadi dingin dan mutlak.

Kalau kamu berniat menolak atau melarikan diri, aku pastikan karier Daniel di California akan hancur malam ini juga lewat kontrak yang baru saja ia tanda tangani."

​Elleta mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Dengan sentakan penuh amarah, ia menyambar totebag hitam berlogo merek mewah itu dari atas meja. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dengan hentakan kaki yang berani.

​Begitu sampai di dalam mobil, Elleta melemparkan tas berisi gaun itu ke kursi penumpang dengan kasar. Dadanya naik-turun menahan sesak. Ia benci kenyataan bahwa dirinya kerap dijadikan bidak catur oleh dua pria egois dalam hidupnya, ayahnya dan Steve. Ia menatap jam di dashboard yang menunjukkan pukul sebelas siang, lalu mencengkeram lingkar kemudi erat-erat.

​"Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja dan menjadi boneka penurutmu, Steve?" gumam Elleta dengan suara rendah yang bergetar oleh tekad.

​Sebuah senyuman miring terukir di bibirnya bukan senyum kekalahan, melainkan sebuah maklumat perang yang nyata. Jika Steve menginginkan sebuah pertunjukan publik di mana ia tampil sebagai pemenang, maka Elleta akan memastikan dirinya menjadi badai yang siap mengacaukan seluruh panggung sandiwara pria itu.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!