Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adopsi Si Hitam! Manajer Cipto Rela Keluar Modal Gede!
Panik, gelisah, dan ketakutan... anjing hitam itu berlarian menghindar dengan susah payah. Sepasang matanya memancarkan keputusasaan yang mendalam.
Tiba-tiba, ia mencium aroma yang sangat familier. Begitu melihat sosok Bima yang baru kembali, secercah harapan langsung bersinar di matanya.
Anjing itu menggonggong keras ke arah Bima dan berlari menerobos kerumunan untuk menghampirinya.
Nahas, kepanikannya itu justru memberi celah bagi para petugas Satpol PP. Sebuah jaring besar sukses menjerat kepala anjing itu. Tarikan kuat pada tali jaring seketika mengunci lehernya erat-erat.
"Kaing! Kaing!" Sorot mata anjing hitam itu dipenuhi teror. Ia meronta-ronta sambil terus melolong ke arah Bima. Tatapannya memelas, mengemis sebuah keajaiban.
Seorang petugas Satpol PP datang membawa kandang besi, dan dibantu oleh rekan-rekannya, mereka menjebloskan anjing malang itu ke dalam sana.
Bahkan dari balik jeruji besi, anjing itu terus merengek menatap Bima. Baru setelah pintu kandang dikunci rapat dengan bunyi 'klik', suaranya melemah menjadi rintihan putus asa. Seluruh tenaga seolah terkuras habis dari tubuhnya. Kepalanya terkulai lemas di atas lantai besi.
Ia sepertinya sudah menyerah. Cahaya di matanya meredup, meski dari sudut ekor matanya, ia masih mencuri pandang ke arah Bima dengan secuil sisa harapan.
Bima menangkap dengan jelas tatapan menyayat hati itu. Hatinya tersentil. Sambil mendesah panjang menyerah pada nuraninya, ia melangkah maju menghampiri para petugas tersebut.
Belakangan ini, melihat anjing hitam itu nongkrong di warungnya sudah jadi rutinitas. Lagipula, dengan saldo ratusan juta di rekeningnya sekarang, masa iya ngasih makan satu ekor anjing aja dia nggak mampu?
Melihat Bima berjalan mendekat, anjing hitam itu mendadak bangkit berdiri. Ekornya kembali mengibas lemah, dan cahaya harapan kembali menyala di matanya.
Bima langsung menghampiri sang komandan regu. "Ndan Suryo, anjing hitam ini kebetulan lumayan dekat sama saya, udah kayak ada jodohnya gitu. Kira-kira bisa dilepas nggak, Ndan? Biar saya aja yang adopsi dan tanggung jawab."
Sambil berbicara dengan nada bersahabat, tangan Bima bergerak cepat menyelinapkan satu slop rokok Surya 12—hasil sogokan dari Manajer Cipto—ke kursi depan mobil patroli Satpol PP.
"Oh, Bos Bima to!" Ndan Suryo yang sering patroli menertibkan PKL di area pasar itu tentu saja hafal dengan wajah bos-bos warung di sini.
Melirik sekilas ke arah slop rokok Surya di mobilnya, raut wajah Ndan Suryo tetap kalem, tak bergeming, namun nada suaranya seketika melembut. "Wah, kalau Bos Bima yang minta, ya kita ini aparat juga masih punya hati nurani, Bos. Tapi saran saya, kalau emang mau diadopsi, mending secepatnya dibawa ke klinik buat divaksin dan dicek kesehatannya. Terus, jangan lupa diurus surat izin peliharaannya ke kelurahan. Lagi ketat-ketatnya nih aturannya, biar kita sama-sama enak kerjanya."
Bima mengangguk mantap. "Siap, Ndan Suryo! Habis ini langsung saya bawa ke pet shop buat divaksin, surat-suratnya juga segera saya urus!"
Ndan Suryo mengangguk puas, memberi kode pada anak buahnya untuk membuka kandang. Sebenarnya, ia juga bisa melihat kalau anjing hitam ini cukup pintar dan beda dari anjing liar kebanyakan. Hitung-hitung sekalian menjalin hubungan baik dengan pedagang lokal.
Saat Bima dan seorang petugas mendekati kandang, anjing hitam itu seolah paham bahwa eksekusi matinya telah dibatalkan. Ia melolong manja dan berputar-putar gembira di dalam kurungan.
Begitu pintu jeruji dibuka, ia melesat keluar bagai peluru, langsung menempel di kaki Bima, menggosok-gosokkan kepalanya ke betis pemuda itu dengan penuh kelegaan.
Bima yang bisa merasakan emosi haru anjing tersebut, berjongkok dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Guk! Guk!" Suara gonggongan si hitam kini terdengar lantang dan bersemangat.
Setelah mobil patroli Ndan Suryo pergi, Bima tak mau buang waktu. Ia memutuskan untuk langsung membawa anjing itu ke klinik hewan terdekat untuk divaksin dan diberi obat cacing. Syarat mutlak adopsi anjing liar adalah memastikan kesehatannya terjamin.
Tak jauh dari jalanan pasar, ada sebuah pet shop merangkap klinik kecil. Bima memanggil anjing hitam itu, dan hewan pintar itu langsung mengekor di belakangnya tanpa perlu ditarik.
Setibanya di pet shop, Bima mendapati sang owner—seorang pria berantakan dengan rambut gondrong dan brewok tak terurus—sedang dengan sangat telaten menyisir dan merapikan bulu seekor anjing ras pudel.
Pemandangannya agak ironis.
Si owner sama sekali nggak peduli sama penampilan gembelnya sendiri, tapi dia merawat anjing pelanggannya sampai cantik paripurna.
"Eh, ada tamu!" sapa pria brewok itu setelah menyadari kedatangan Bima.
Bima tersenyum ramah. "Mas, bisa tolong check-up anjing ini sekalian dimandiin nggak? Tolong dikasih obat cacing sama suntik vaksin juga ya."
Mata pria itu berbinar tertarik melihat si anjing hitam. "Wah, ini anjing rescue dari jalanan, ya?"
Bima mengangguk. "Iya, Mas. Udah lumayan lama dia ngekos di depan warung saya. Daripada ditangkep Satpol PP, mending saya adopsi aja sekalian."
Pria brewok itu menatap Bima dengan kagum. "Mas, Sampeyan ini beruntung banget lho. Anjing jalanan yang milih majikannya sendiri itu tandanya dia punya insting tajam. Dia tahu kalau Sampeyan bisa ngasih dia rasa aman. Dia cuma pengen punya rumah yang hangat... dan jelas, Sampeyan nggak ngecewain dia."
Sekali buka mulut, jiwa filsuf pria brewok ini seolah tak bisa direm. Meski begitu, tangannya sangat cekatan. Ia menuntun si hitam ke ruang belakang, melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, memandikannya, mencekokinya obat cacing, dan menyuntikkan vaksin dengan sangat profesional.
Proses makeover itu memakan waktu sekitar satu jam. Begitu keluar, penampilan si anjing hitam sudah berubah 180 derajat. Badannya tegap bertenaga, bulunya yang tadinya kusam dekil kini bersih dan berkilau elegan. Auranya langsung memancarkan karisma yang gagah.
Si Mas Brewok berdecak kagum. "Mas, ini tuh anjing betina lho, dan dia udah steril dari sananya. Dilihat dari perawakannya, dia dulunya pasti anjing peliharaan rumahan elit. Nggak ngerti juga kenapa bisa sampai ditelantarkan."
"Jenisnya ini Herder Hitam (Black German Shepherd). Salah satu ras anjing yang paling cerdas dan tingkat kesetiaannya nggak ada obat. Kalau Sampeyan rawat dia baik-baik, dia bakal ngabdi sampai mati."
"Mas harus tahu... buat anjing jalanan yang pernah trauma, milih majikan baru itu butuh keberanian besar. Begitu dia nerima Sampeyan, di matanya, seluruh dunianya cuma ada Sampeyan seorang."
"Cewek itu bisa aja ninggalin Sampeyan, selingkuh, atau bikin patah hati. Tapi anjing? Nggak bakal. Dia itu makhluk yang gampang bersyukur. Selama Sampeyan ngasih dia kasih sayang, dia bakal nemenin dalam suka dan duka. Nggak kayak perempuan yang kadang ekspektasinya nggak ada habisnya..."
"..." Mulut Bima setengah terbuka. Awalnya dia pikir Mas Brewok ini cuma lagi ngedongeng soal anjing. Tapi makin ke belakang kok vibes-nya makin berubah jadi curhatan mas-mas sadboy yang habis diselingkuhin, ya? Fix, bapak ini pasti punya masa lalu yang kelam soal asmara.
Pria brewok itu mengakhiri curhatannya dengan embusan napas berat, lalu kembali ke mode kasir. "Mandiin Rp 400.000, Obat Cacing Rp 100.000, Vaksin Rp 200.000, Check-up Rp 100.000. Totalnya jadi Rp 800.000 ya, Mas."
Bima cuma bisa mbatin pasrah dengar nominalnya. Buset, mahal amat!
Pantesan aja bapak ini rela kelihatan gembel demi ngerawat anjing pelanggannya sampai glowing. Duitnya kenceng begini dari jasa grooming doang!
"Mas, sekalian mau beli leash (tali tuntun) nggak?" tawar si owner. "Sekarang aturan lagi ketat, anjing segede gini kalau diajak jalan wajib dipakein tali. Sekalian bawa dogfood-nya dua sack buat stok di rumah."
Bima mengiyakan. "Boleh deh, Mas. Tali tuntun satu sama dogfood-nya dua."
Mas Brewok mengambil seutas tali tuntun elegan dan dua karung dogfood premium dari etalase. "Tali tuntunnya Rp 100.000, dogfood Rp 600.000. Jadi total tambahannya Rp 700.000. Keseluruhan jadi Rp 1.500.000 ya, Mas."
Bima sekarang paham seratus persen kenapa populasi anjing liar di Jatiroso meledak. Baru adopsi hari pertama aja udah melayang sejuta setengah!
Di kabupaten dengan UMR mentok tiga sampai empat jutaan ini, melihara anjing ras begini jelas bikin dompet menjerit. Makanya, kalau dompet masih kembang kempis, mending jangan sok-sokan melihara anjing dari awal. Ujung-ujungnya pasti nyusahin hewan dan masyarakat sekitar.
Setelah melunasi tagihannya, Bima mengambil tali tuntun itu dan bersiap memakaikannya ke leher si hitam. Ajaibnya, tanpa perlu dipaksa, anjing itu dengan sukarela menyodorkan kepalanya masuk ke dalam kalung tali tersebut. Betul-betul jinak dan penurut.
Melihat adegan itu, Mas Brewok kembali berdecak kagum. "Asli, ini anjing pinter banget. Diajarin dikit aja udah bisa jadi anjing selebgram di TikTok ini mah. Sayang banget dia keburu milih Sampeyan jadi majikannya."
Begitu keluar dari pet shop, langkah kaki si Herder Hitam terlihat sangat riang dan gagah. Ekornya mengibas penuh energi. Ia tahu betul, mulai detik ini, hidup luntang-lantungnya di jalanan sudah berakhir. Ia punya keluarga sekarang.
Urusan berikutnya adalah birokrasi. Bima membawa anjingnya ke kantor Kelurahan untuk mengurus surat pengantar izin peliharaan. Dari Kelurahan, ia harus lanjut membawa KTP-nya ke Polsek setempat untuk didata secara resmi.
Karena memutuskan untuk adopsi, Bima bertekad mengurus semua legalitasnya agar tak ada lagi drama Satpol PP di kemudian hari.
Sayangnya, birokrasi negeri ini memang juaranya bikin orang tua di jalan. Mengurus berkas ke sana kemari sangat menguras waktu. Sampai sore tiba, saat okra dan stroberi di gamenya sudah panen, surat-surat anjingnya belum juga beres.
Terpaksa, urusan dokumen dilanjutkan besok. Ia pulang ke warungnya, memanen seluruh tanaman dari dalam game, dan kali ini ia sukses memanen 2,5 Kilogram (5 jin) Okra Kualitas 2 lagi!
Setelah menaburkan benih baru dan meninggalkan si anjing hitam di dalam warung dengan semangkuk dogfood, Bima meluncur ke gudang sewaannya untuk mengeluarkan semua barang dari dalam game.
Tiba di Toserba Makmur Jaya, ia menyetorkan barangnya ke area bongkar muat. Total hari ini ia menyuplai 305 Kilogram stroberi dan 1.555 Kilogram okra reguler.
Dan kali ini, tanpa disuruh, Manajer Cipto dengan perut buncitnya turun tangan langsung ke area gudang untuk menyambut Bima.
"Wah, Bos Bima! Udah beres ditimbang semua barangnya?" sapa Cipto dengan wajah berseri-seri. Ia bahkan proaktif mengambil lembar faktur dan menandatanganinya di tempat. Pelayanannya benar-benar sekelas VIP hari ini.
Bima yang sudah paham arah permainan si manajer tambun ini, tersenyum kecil. Ia merogoh sebuah kantong kresek dari bak motor Tossa-nya dan menyodorkannya secara sembunyi-sembunyi. "Pak Manajer, ini pesanan Bapak yang kemarin. Ada 2,5 kilogram okra budidaya khusus. Susah payah lho saya bujuk petaninya biar mau lepas stok ke saya."
Bima sengaja tidak mengeluarkan seluruh 5 kilogram okra ajaibnya. Makin Cipto sakau dan kelaparan, makin kuat daya tawar Bima.
Menerima 2,5 kilogram okra sakti itu, wajah Cipto langsung cerah bercahaya bak disinari rembulan. Ia menarik lengan Bima menjauh dari keramaian staf gudang dan berbisik pelan, "Bos Bima, sumpah matur nuwun banget! Ke depannya... tolong banget Sampeyan usahain pasok barang ini terus ya buat saya? Sebagai gantinya, janji deh, mulai hari ini semua tagihan Sampeyan bakal saya acc murni sesuai harga mark-up di faktur tanpa potongan apapun buat saya!"
Bima nyaris bersiul mendengarnya.
Ini artinya, Cipto merelakan seluruh jatah 'uang pelicin' hariannya demi mendapatkan pasokan okra penambah stamina itu!
Gila, demi urusan vitalitas dan kejantanan di atas ranjang, manajer birokrasi ini bener-bener rela potong urat nadi penghasilan gelapnya!
Tentu saja Bima tak menolak tawaran emas itu.
Saat ia melangkah keluar dari Makmur Jaya, tagihan yang ditransfer ke rekeningnya dibayar penuh sesuai harga faktur yang sudah di-mark-up gila-gilaan!
Stroberi diharga Rp 128.000/kg x 305 kg = Rp 39.040.000.
Okra reguler dihargai Rp 26.000/kg x 1.555 kg = Rp 40.430.000.
Ditambah penjualan 2,5 kg Okra Kualitas 2 seharga Rp 4.000.000.
Total pendapatan harian Bima melonjak fantastis menembus Rp 83.470.000!
Dan seiring dengan masuknya notifikasi transfer tersebut, saldo di rekening bank Bima pun resmi mendobrak angka menakjubkan: Rp 640.964.000!