Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Aku berdiri di belakang kursi roda Adrian, tanganku masih memegang pegangan dengan erat.
Tatapan Vanessa berpindah antara aku dan Adrian. Senyumnya masih ada, tapi matanya… tidak ikut tersenyum.
“Aku tidak menyangka kalian benar-benar datang,” katanya ringan.
Adrian menjawab tenang, “Kamu yang mengundang.”
Vanessa tertawa kecil. “Benar juga.”
Lalu ia menatapku lagi. Kali ini lebih lama. Lebih jelas menilai.
“Dan kamu…” katanya pelan, “terlihat berbeda dari yang kubayangkan.”
Aku tidak tahu itu pujian atau sindiran.
Namun aku mengingat kata-kata Adrian.
Jangan terlihat lebih rendah dari mereka.
Aku tersenyum kecil. “Mungkin karena aku juga tidak tahu harus terlihat seperti apa.”
Vanessa mengangkat alis sedikit, seolah tidak menyangka aku akan menjawab.
Adrian tidak berkata apa-apa, tapi aku bisa merasakan dia sedikit memperhatikan reaksiku.
“Menarik,” kata Vanessa singkat.
Ia lalu berbalik sedikit, memberi isyarat ke arah dalam ruangan.
“Ayo, aku akan kenalkan kalian ke beberapa orang.”
—
Kami berjalan masuk lebih dalam.
Aku tetap di belakang Adrian, mendorong kursi rodanya. Setiap langkah terasa seperti melewati banyak tatapan. Tapi semakin lama, aku mulai terbiasa.
Atau setidaknya… aku mencoba terlihat terbiasa.
Vanessa mulai memperkenalkan Adrian ke beberapa orang.
“Ini Adrian Kusuma.”
Beberapa orang langsung terlihat berubah sikap. Lebih sopan. Lebih hati-hati. Jelas mereka mengenalnya.
Lalu—
“Istrinya.”
Satu kata itu membuat beberapa orang langsung menoleh ke arahku.
Aku sedikit mengangguk.
Tidak bicara banyak.
Seperti yang Adrian bilang.
Namun dari cara mereka melihatku, aku tahu satu hal—
Mereka tidak mengenalku.
Dan mereka penasaran.
—
Beberapa saat kemudian, Vanessa membawa kami ke sebuah kelompok kecil yang terlihat lebih eksklusif.
“Ini partner-partner penting,” katanya.
Aku berdiri di belakang Adrian, diam, mendengarkan mereka berbicara tentang bisnis, investasi, proyek besar—hal-hal yang sangat jauh dari duniaku dulu.
Sampai tiba-tiba salah satu wanita di sana berkata,
“Maaf, aku baru pertama kali melihat istri Tuan Adrian.”
Semua mata langsung tertuju padaku.
Aku menahan napas sebentar.
“Ya,” jawabku pelan. “Aku juga baru pertama kali datang ke acara seperti ini.”
Wanita itu tersenyum tipis. “Pantas. Aura kamu berbeda.”
Aku tidak tahu maksudnya.
Namun sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, pria lain berkata,
“Kalian menikah karena keluarga, ya?”
Pertanyaan itu langsung membuat suasana sedikit berubah.
Vanessa diam. Tapi jelas… dia menunggu jawabanku.
Aku menggenggam pegangan kursi roda sedikit lebih erat.
Lalu aku menjawab dengan tenang,
“Iya. Awalnya begitu.”
Semua masih diam.
Aku melanjutkan pelan,
“Tapi sekarang… aku tetap di sini karena aku memilih untuk tetap di sini.”
Sunyi.
Beberapa orang terlihat sedikit terkejut.
Vanessa menatapku lebih dalam dari sebelumnya.
Dan Adrian…
tidak bergerak.
Tidak bicara.
Tapi aku bisa merasakan sesuatu berubah.
—
Beberapa menit kemudian, percakapan kembali berjalan normal. Tapi suasananya sudah tidak sama.
Mereka tidak lagi melihatku hanya sebagai “istri yang dijodohkan”.
Mereka mulai melihatku sebagai seseorang yang… punya pilihan.
—
Tak lama, Vanessa berkata,
“Ada sesi khusus di dalam. Lebih santai. Kita ke sana saja.”
Kami berpindah ke ruangan lain yang lebih kecil, lebih privat. Musiknya sedikit lebih keras, suasananya lebih santai, dan orang-orangnya… lebih berani.
Minuman mulai dibagikan.
Aku tidak mengambil apa pun.
Namun tiba-tiba Vanessa berdiri di depan semua orang.
“Aku punya ide,” katanya.
Beberapa orang menoleh.
“Kita buat malam ini sedikit lebih menarik.”
Aku langsung punya firasat tidak enak.
Vanessa menatapku.
“Alina, ya?” katanya.
Aku mengangguk.
“Bagaimana kalau kamu ikut permainan kecil?”
Aku langsung ragu. “Permainan?”
“Iya,” katanya santai. “Sederhana saja. Kita biasa lakukan ini di acara seperti ini.”
Aku menoleh sedikit ke arah Adrian.
Dia menatap Vanessa.
Tatapannya… tidak senang.
“Vanessa,” katanya pelan, “jangan macam-macam.”
Namun Vanessa hanya tersenyum.
“Aku hanya ingin mengenal istrimu lebih jauh.”
Ia kembali menatapku.
“Tenang saja. Tidak sulit.”
Aku menarik napas pelan.
Semua orang melihatku sekarang.
Menunggu.
Mengukur.
Ini bukan sekadar permainan.
Ini ujian.
Aku menatap Adrian sebentar.
Dia tidak melarang.
Tapi juga tidak menyuruh.
Seperti biasa… dia memberiku pilihan.
Aku menoleh kembali ke Vanessa.
“Permainannya apa?” tanyaku.
Vanessa tersenyum puas.
“Sederhana. Aku akan tanya sesuatu. Kamu jawab jujur.”
Aku mengangguk pelan.
“Oke.”
Vanessa melangkah lebih dekat.
Matanya menatapku tajam.
“Pertanyaan pertama…”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Lalu dia berkata—
“Kalau suatu hari Adrian kembali seperti dulu… sempurna, sukses, dan bisa berjalan lagi…”
Ia berhenti sebentar.
Menatapku dalam-dalam.
“Dan dia memilih meninggalkanmu…”
Dadaku langsung terasa sesak.
Semua orang diam.
Menunggu jawabanku.
Vanessa tersenyum tipis.
“Kamu akan tetap bertahan… atau kamu yang pergi duluan?”
Sunyi.
Sangat sunyi.
Aku berdiri di sana.
Di belakang kursi roda Adrian.
Tanganku masih memegangnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
aku benar-benar diuji.
Aku berdiri diam.
Pertanyaan Vanessa masih menggantung di udara, tajam seperti pisau yang sengaja diarahkan tepat ke arahku.
Dan saat itu juga… aku mengerti.
Ini bukan permainan.
Ini jebakan.
Bukan untuk mengenalku.
Tapi untuk menjatuhkanku.
Perlahan aku mengangkat pandanganku dan menatap Vanessa.
Senyumnya masih sama—tenang, elegan… tapi sekarang aku bisa melihat sesuatu di baliknya.
Ketidaksukaan.
Penilaian.
Dan mungkin… penyesalan yang disembunyikan.
Aku menarik napas pelan.
Di dalam hatiku, ada satu hal yang tiba-tiba terasa sangat jelas—
Dia tidak suka aku ada di posisi ini.
Padahal…
dia yang pergi lebih dulu.
Dia yang meninggalkan Adrian saat dia tidak lagi sempurna.
Dan sekarang…
dia ingin melihat apakah aku akan melakukan hal yang sama.
Aku menunduk sebentar.
Tanganku masih memegang kursi roda Adrian.
Hangat.
Nyata.
Berbeda dengan semua tatapan di ruangan ini.
Lalu aku mengangkat wajahku kembali.
Tenang.
“Kalau itu terjadi…” kataku pelan.
Semua orang langsung fokus.
“Kalau suatu hari Adrian bisa berjalan lagi… dan dia memilih meninggalkanku…”
Aku berhenti sebentar.
Bukan karena ragu.
Tapi karena aku ingin memastikan kata-kataku jelas.
Aku menatap langsung ke arah Vanessa.
“Aku tidak akan pergi duluan.”
Sunyi.
Beberapa orang terlihat sedikit terkejut.
Vanessa masih tersenyum… tapi matanya mulai berubah.
Aku melanjutkan,
“Karena sejak awal aku tidak datang ke hidupnya untuk pergi saat keadaan berubah.”
Kali ini suasana benar-benar berbeda.
Aku bisa merasakan itu.
Aku menoleh sedikit ke arah Adrian.
Ia tidak bergerak.
Tapi tatapannya… sangat dalam.
Aku kembali menatap Vanessa.
“Dan kalau dia memilih pergi…”
Aku menarik napas pelan.
“Aku tidak akan menahannya.”
Ruangan kembali sunyi.
Bukan sunyi yang kosong.
Tapi sunyi yang penuh makna.
Vanessa sedikit memiringkan kepala.
“Jadi kamu hanya akan diam saja?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
“Bukan diam.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku hanya tidak akan memaksa seseorang untuk tinggal… seperti aku tidak ingin dipaksa untuk pergi.”
Kalimat itu jatuh dengan tenang.
Tapi cukup untuk mengubah suasana ruangan sepenuhnya.
Beberapa orang mulai saling melirik.
Vanessa terdiam beberapa detik.
Lalu…
ia tersenyum lagi.
Tapi kali ini berbeda.
Tidak setenang tadi.
“Jawaban yang bagus,” katanya.
Namun aku tahu—
dia tidak puas.
Dan mungkin… itu justru yang membuatku sedikit lega.
—
Beberapa saat setelah itu, suasana mulai kembali seperti biasa. Percakapan berlanjut, orang-orang kembali berbicara, tertawa, minum.
Tapi aku bisa merasakan—
cara mereka melihatku sudah berubah.
Bukan lagi sekadar penasaran.
Tapi… menghargai.
Atau setidaknya… tidak meremehkan.
—
Tak lama, Adrian berkata pelan,
“Kita pulang.”
Aku langsung mengangguk.
“Iya.”
Kami tidak pamit panjang. Hanya ucapan singkat, lalu aku mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan itu.
Begitu keluar dari gedung, udara malam terasa jauh lebih segar.
Aku menghela napas panjang.
Seperti baru keluar dari tekanan yang lama sekali.
Kami masuk ke mobil.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Sampai akhirnya Adrian berkata—
“Kamu tahu dia sedang menjebakmu?”
Aku tersenyum kecil.
“Iya.”
“Kenapa kamu tetap jawab?”
Aku menoleh ke arahnya.
“Kalau aku diam, mereka akan berpikir dia benar.”
Adrian menatapku cukup lama.
Lalu berkata pelan,
“Kamu tidak seperti yang mereka kira.”
Aku sedikit tertawa kecil. “Aku juga tidak seperti yang aku kira.”
Ia tidak menjawab.
Namun beberapa detik kemudian, ia berkata—
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Kalimat itu datang tiba-tiba.
Tanpa konteks.
Tanpa penjelasan.
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Karena aku tahu—
Adrian bukan orang yang berbicara sembarangan.
Kalau dia mengatakan sesuatu…
dia akan melakukannya.
Aku menunduk sedikit.
Dan tanpa sadar—
aku tersenyum.
Kali ini bukan senyum kecil yang biasa.
Tapi senyum yang benar-benar terasa sangat hangat.
Dan mungkin…
untuk pertama kalinya,
aku tidak hanya bertahan di pernikahan ini—
aku mulai benar-benar ingin tinggal.