Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kolam renang mesra
“SETAAAAAN!!!”
Clarinda mundur ketakutan hingga dirinya sendiri ikut jatuh terduduk.
Kepala yang tadi tenggelam perlahan muncul lagi ke permukaan.
Rambut hitam basah menempel di dahi. Tatapan tajam itu langsung menusuk ke arah Clarinda.
Clarinda membeku.
“Pak Tua?”
Ternyata Zavian.
Lelaki itu berdiri di dalam kolam dengan ekspresi gelap. Air menetes dari wajah dan bahunya.
“Clarinda...!!!” teriaknya.
“A-apa?” Clarinda gugup.
Ia ingin kabur.
Sumpah pingin banget.
Tapi tubuhnya malah kaku di tempat.
Matanya mengikuti Zavian yang naik perlahan ke kolam. Kini Zavian berdiri tepat di hadapannya.
Air mengalir membasahi tubuh Zavian yang masih dipenuhi tetesan air kolam.
Clarinda mendongak, mulutnya membentuk huruf O. Kalau air liurnya sudah penuh pasti tumpah.
Tubuh atletis lelaki itu terpampang jelas di bawah sinar matahari membuat kulitnya nampak berkilau.
Pahatan kotak-kotak berotot yang menggoda iman wanita dewasa terpampang jelas di mata Clarinda. Jantung gadis itu berdebar tak karuan.
Matanya bergerak tak terkendali, dari da da bidang nan pulen lelaki itu sampai ke perut berototnya.
Dan sialnya mata Clarinda turun hingga bawah perut, matanya mendelik sempurna lalu...
“Aaaaaahhh! Dasar cabul!!”
Clarinda langsung menutupi wajahnya sendiri.
Segitiga pengaman hitam pekat yang menutupi kegagahan lelaki itu berhasil membuat panik Clarinda.
Zavian yang baru sadar langsung mengambil handuk besar di kursi dekat sana lalu melemparkannya.
Pluk!
Handuk itu menutupi kepala Clarinda.
"Jaga matamu. Jelalatan!” ucap Zavian dingin," lalu ia berdecak.
“Tubuhmu merusak pemandangan.”
"HAH?!"
Tentu kalimat itu mematik emosi Clarinda.
Clarinda langsung berdiri emosi. Handuk itu longsor ke bawah.
Detik berikutnya…
Mata gadis itu membelalak sempurna.
Karena ia baru sadar dirinya hanya mengenakan dalaman saja, atas bawah.
“HUAAAAA!!”
Clarinda buru-buru menarik handuk itu lagi menutupi tubuhnya sambil mundur panik.
“PAK TUA CABUL!!!”
“Cabul?” Zavian menyipit.
“K-kau lihat kan tadi?!”
“Aku punya mata.”
“Huuaaaahhh!!”
Wajah Clarinda merah padam antara malu dan emosi.
Sementara Zavian justru terlihat santai. Lelaki itu menyeka rambut basahnya dengan handuk kecil lalu memandang Clarinda remeh.
“Tak ada yang menarik juga.”
“Apa?!”
“Kerempeng.”
Deg.
Urat emosi Clarinda langsung naik ke ubun-ubun.
“PAK TUA KURANG AJAR!!”
Ia langsung maju hendak memukul dada Zavian.
Namun lelaki itu buru-buru menahan pergelangan tangannya.
“Mau mukul atau mau megang? Modus?”
“A-APA?!”
Clarinda hampir meledak, menarik tangannya kasar.
"Jujur saja kau terpesona pada tubuhku kan?" Ucap Zavian santai mengelus da da nya yang pulen.
"Ya.. ya... Ya... Memang tubuh ini idaman semua wanita," Zavian merasa bangga.
“SIAPA YANG TERPESONA?!”
"Liurmu saja hampir tumpah."
"Huek!" Clarinda gumoh tapi tak keluar apapun.
Zavian malah terkekeh kecil. “Tubuh ini memang sulit diabaikan para wanita."
Clarinda langsung memalingkan wajah.
“Narsis!”
“Fakta.”
Zavian duduk di salah satu kursi. Santai selonjoran. Entahlah kenapa dia tak jadi marah pada Clarinda padahal gadis ini tadi sudah sangat amat tidak sopan padanya.
Leher Clarinda menoleh ke arah Zavian tapi gadis itu memalingkan wajah lagi.
"Lihat saja sepuasnya."
"Siapa juga yang mau lihat. Sama sekali tak tertarik!"
“Begitu?” Zavian menaikkan sebelah alis. “Lalu kenapa kau masih lihat terus tadi?”
Kepala Clarinda kembali kearah Zavian lagi. 'Duh ini kepala kenapa sih? Kok noleh aja!' batin Clarinda, gugup.
Zavian tersenyum mengangkat alis memperhatikan tingkah istri masih bocah ini.
Clarinda langsung membeku.
“Ak-aku cuma kaget!”
“Sampai matamu keluar?” sindir Zavian.
"Ku kira setan."
"Setan ganteng."
“Expired."
"Heh!!! Aku jepret mulutmu!"
Clarinda mengambil bantal di kursi lain lalu melemparnya pada Zavian.
Bug!
Zavian menangkapnya dengan mudah.
“Cih!”
Clarinda mendengus lalu duduk di kursi kolam dengan kesal. Handuk besar melilit tubuhnya rapat-rapat sekarang.
Beberapa saat suasana menjadi hening.
Hanya suara air kolam dan dedaunan tertiup angin.
Lagi, Clarinda diam-diam melirik Zavian.
Lelaki itu tampak santai menikmati pagi. Rambutnya masih sedikit basah. Kacamata hitam kini bertengger di hidungnya membuat auranya makin menyebalkan.
Tapi… keren.
Clarinda buru-buru menggeleng.
“Astaga Clarinda sadar!” bisiknya sendiri.
Zavian menyeringai kecil.
Lelaki itu sebenarnya tahu Clarinda diam-diam memperhatikannya lagi. Namun ia sengaja pura-pura tidak sadar.
Lucu juga melihat gadis itu panik sendiri.
"Kau... Kenapa di rumah?" Clarianda penasaran.
"Tidak lihat aku lagi santai?"
"Cih, percuma nanya," gerutu Clarinda.
Zavian juga tak ke sekolah hari ini. Ia ingin bersantai sejenak. Malas menatap berkas-berkas dan masalah lainnya disekolah. Belum lagi menghadapi calon wali murid baru yang pada genit.
Lagipula hari ini tidak ada rapat atau semacamnya. Daripada berdiam diri di ruang kepsek lebih baik menikmati hari santai.
Ini menyebalkan. Clarinda ingin sekali nyebur ke air tapi Zavian tak pergi dari tempatnya.
“Permisi Tuan Zavian... Ini minumnya," bi Imah datang membawa segelas jus warna orange segar.
“Hm," sahut Zavian.
Bi Imah menaruhnya di meja yang ada di antara kedua kursi Zavian dan Clarinda.
"Loh... Bik Imah dari mana?"
"Tadi Bibik ke kios buah sebantar. Jeruknya habis."
"Aku nggak dibutin juga Bik," protes Clarinda bibirnya di manyunkan.
"Tunggu ya Non. Bibik kira Non Clea tadi masih tidur."
Clarinda berdiri. "Ah nggak usah Bik, aku mau kedalam kok." Ia melirik Zavian. Lebih tepatnya melirik da da pulen nya. "Disini sudah sudah nggak asyik."
Zavian tiba-tiba membuka kacamata lalu menyibakkan rambut basahnya ke belakang.
"Lho bukannya tadi kau mau berenang." Duh tatapan Zavian terlalu maut dengan keadaan rambut basah seperti ini.
"Ayo dong, aku ingin lihat kau jago gaya apa?" Zavian tersenyum kecil. "Nanti aku bisa mengikutkan mu lomba mewakili sekolah."
“Pak tuaaaaa!!!”
Dasar menyebalkan. Niat banget ngeledeknya. Clarinda berjalan dengan sebal menginjak lantai keras.
Zavian memandang punggung gadis itu dengan senyum samar.
Namun baru beberapa langkah…
Bruk!
“AWWW!”
Clarinda terpeleset karena lantai basah lalu jatuh terduduk.
Zavian spontan berdiri.
Clarinda meringis sambil memegangi pinggangnya.
"Pinggangku...aduhhh..."
"Kuwalat sama orang tua!"
Zavian sudah ada di depannya. Niat nya bantu Clarinda berdiri. Tapi...
“Ini semua salahmu!”
“Loh... Kenapa jadi salahku?”
"Lihat lantai ini basah. Tuh, tuh, tuh, tuh jejak kaki siapa, hah?!" Clarinda menunjukkan lantai basah yang di lewati Zavian tadi. Area kolam ya emang basah. Clarinda cuma cari alasan.
Zavian mendengus tapi mendekat lalu mengulurkan tangan.
Clarinda menatap tangan itu lama.
“Ngapain?"
“Oh..., aku kira kau tak bisa bangun,"
Clarinda mendengus.
Meski kesal, ia tetap menerima uluran tangan itu.
Namun karena tangannya masih licin dan kakinya belum seimbang...
Byur!
“AAAAAAAHHH!!”
Clarinda malah ikut tercebur ke kolam sambil menarik Zavian bersamanya.
Air muncrat ke mana-mana.
Beberapa detik suasana hening.
Lalu…
“Hahahahahaha!”
Zavian tertawa cukup keras melihat Clarinda panik di air.
“Pak tua gila!”
"Tolong aku. Pinggangku sakit, bisa tenggelam kalau gini."
Clarinda memukul air kesal.
Rambutnya basah kuyup sekarang.
“Kau yang narik.”
“Harusnya nggak usah nolong!”
“Kalau begitu tenggelam saja.”
“PAK TUA JAHAT!”
Clarinda berusaha berenang ke tepian.
Sayangnya saat naik ia terpeleset lagi.
Tubuh gadis membentur tubuh Zavian yang kokoh. Dan Zavian reflek menahannya dari belakang.
Detik itu…
Keduanya mendadak diam.
Clarinda membeku saat sadar posisi mereka sangat dekat.
Waktu serasa berhenti sejenak. Sunyi. Tapi seolah hanya detak jantung keduanya yang terdengar.
“Ya ampun… senangnya lihat Tuan Zavi sama Non Clea mesra begini..."
Suara Bik Imah menyadarkan mereka.
Sementara Bik Imah malah menutup wajah sambil senyum-senyum sendiri. "Bibik jadi malu..."
“MESRA APANYAAAAA?!” teriak mereka bersamaan.
Lalu...
"AAAAAAA!!! Apa yang kau pegang pak tua!!!" Teriak Clarinda panik sendiri.
Zavian yang sadar segera menjauhkan kedua tangannya dari buah empuk milik Clarinda.
"Dasar CABUL!!!"
"Huaaaahhh..." Calrinda dengan cepat naik ke atas kolam tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Marah, kesal, malu jadi satu. Sakit di pinggangnya sampai lupa.
Sedangkan Zavian masih berdiri di dalam kolam termenung melihat kedua tangannya.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"