Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Tidak di terima
"Lebih cepat, Revan!" perintah Gallelio. Dia merasa mobil yang dikemudikan oleh asistennya itu berjalan begitu lambat, padahal jelas-jelas Revan sudah menaikkan kecepatan di atas rata-rata.
"Iya, Tuan. Ini sudah sangat cepat," jawab Revan. Dia menoleh sebentar sebelum kembali fokus menatap jalanan di depannya.
Perjalanan dari kantor ke rumah yang biasanya ditempuh dalam waktu dua puluh lima menit, kini hanya memakan waktu nyaris sepuluh menit. Akhirnya mobil itu tiba di halaman rumah dengan suara decit ban yang tajam.
Tanpa menunggu mesin benar-benar mati, Gallelio sudah keluar. Langkahnya lebar dan terburu-buru saat berlari masuk ke dalam rumah.
"APA-APAAN INI, MA!!!" teriak Gallelio.
Suaranya menggema hebat di dalam ruang tamu. Tatapannya menggelap saat menatap sang mama yang sedang duduk di sofa dengan Aurin di sebelahnya. Nafas pria itu naik turun, oleh amarah yang memuncak.
Mama Amanda dan Aurin langsung menoleh secara bersamaan. Beruntung Ayuna dan Geanetta sedang berada di kamar untuk meletakkan barang-barang mereka tadi. Mendengar suara menggelegar dan melihat kilat amarah yang terpancar dari wajah tegas Gallelio, Aurin seketika dicekam ketakutan.
Langkah sepatu Gallelio terdengar tegas dan berat saat melangkah mendekat.
Mama Amanda berdiri perlahan. "Kamu sudah pulang?" tanya wanita itu dengan suara yang tetap tenang. Bahkan wajahnya pun tampak sangat damai, seolah-olah amarah putranya yang meledak itu tidak terlihat olehnya. Ketenangan sang mama justru terasa seperti siraman bensin yang membuat amarah Gallelio semakin tersulut hebat.
"Apa maksud Mama? Kenapa? Kenapa Mama berani membawa orang asing ke rumah Gallel? Kenapa, Ma!"
"Mama tidak membawa orang asing, Gallel!" balas Mama Amanda dengan nada yang tak kalah tajam.
Gallelio terkekeh rendah. Sebuah tawa getir sekaligus penuh rasa muak. Untuk pertama kalinya dia berbicara dengan suara yang lebih keras kepada ibunya, semua itu karena rasa tidak terima yang sudah membuncah di dada.
"Ma, Gallel tidak sedang bercanda saat ini. Mama tidak punya hak untuk memasukkan orang lain ke tempat Gallel. Tolong hargai privasi Gallel! Tolong, Ma, bawa pergi gadis ini!" suaranya lantang, dengan mata tajam menghunus menatap Aurin.
Aurin menunduk semakin dalam, menatap lantai seolah-olah permukaan dingin itu jauh lebih menarik daripada apa pun yang ada di sana. Suara menggelegar dari Gallelio terus berputar di kepalanya, setiap kalimat penolakan dari pria itu menciptakan rasa hina yang begitu dalam di palung hatinya. Dia tidak bersuara, hanya sanggup membatin. Seandainya dia memiliki kekuatan magis, Aurin ingin sekali menghilang detik itu juga agar tidak perlu menanggung malu yang menyesakkan ini.
Aurin jujur tidak sepenuhnya menyalahkan Gallelio atas kalimat tajam yang melukai perasaannya. Dia merasa kemarahan itu wajar bagi seorang pria yang ingin melindungi ruang kenangan untuk wanita yang dicintainya. Malah kini Aurin merasa dialah yang tidak tahu malu. Sudah jelas malam itu Gallelio tidak pernah menerima pernikahan mereka, namun dia masih saja mau diajak pulang ke rumah ini.
Kesadarannya tersentak saat tangan kekar Gallelio mendadak menarik tubuh kecilnya dengan paksa.
.
.
.
"Keluar! Keluar dari rumah ini sekarang juga!" bentak pria itu.
Gallelio menyeret tubuh Aurin dengan kasar, tidak peduli langkah gadis itu terseok-seok karena tidak siap dengan tarikan yang mendadak.
"Gallel, jangan bertindak seperti seorang pengecut!" teriak Mama Amanda dari belakang. Beliau berlari mendekati putranya dan berusaha menarik tangan Gallelio agar melepaskan cengkeramannya dari lengan Aurin, hingga—
Bugh!
Tubuh Aurin terhempas begitu saja dan jatuh menghantam lantai dengan keras.
"Mama egois! Mama terlalu ikut campur urusan Gallel! Mama tidak pernah menghargai Gallel, tidak pula menghargai Sera, istri Gallel! Kenapa Mama seenaknya membawa orang lain ke rumahku? Ma, aku bukan anak kecil yang bisa terima-terima saja diperlakukan begini! Aku punya ruang sendiri dan aku tidak pernah mengizinkan siapa pun, orang asing mana pun, masuk ke ruang pribadiku! Paham tidak, Ma!" teriak Gallelio, frustrasi menghadapi ibunya yang dianggap terlalu jauh mencampuri hidupnya.
"Paham! Tapi kamu yang memulai semuanya, Gallel!" balas Mama Amanda dengan pekikan yang tak kalah kencang.
"Seandainya malam itu kamu membiarkan Aurin di jalanan, seandainya kamu tidak menolongnya, seandainya kamu tetap sekeras sekarang dengan tidak membiarkan siapa pun berada di sekitarmu, semua ini tidak akan pernah terjadi! Kamu tahu itu! Kamu sendiri yang membawanya masuk ke lingkaran hidupmu, Gallel!" Ucap Mama Amanda sebelum mendekat ke arah Aurin, membantu gadis itu untuk berdiri, memeluk lengannya.
"Jangan lupakan fakta bahwa malam itu kamu menolongnya hingga berakhir dinikahkan! Dan jangan lupa juga, kamu sudah mengucapkan janji pernikahan dengan gadis ini! Itu artinya, dia sekarang bukan lagi orang asing, melainkan bagian dari hidupmu, Gallelio Alastar!"
Gallelio terdiam, napasnya memburu, namun Mama Amanda belum selesai.
"Kamu berlagak seolah tidak melakukan apa pun, seolah-olah cintamu kepada Sera masih tetap suci. Padahal, kamu sudah mengkhianatinya sejak malam kamu menyebut nama Aurin dalam ikrar itu! Dan Mama pikir, itu sah-sah saja, Gallelio!"
"Tidak, Ma!"
"Diam! Mama tidak mau tahu. Pokoknya Aurin harus tetap di sini. Sejatinya seorang istri harus tetap berada di sisi suaminya!" ujar wanita itu tegas sembari membawa kembali Aurin untuk masuk ke dalam rumah.
Aurin hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam bangunan yang terasa begitu mengintimidasi itu.
"Ingat, malam ini Mama dan Papa akan menginap di sini. Jangan memikirkan apa pun atau merencanakan hal lain. Papa akan bicara padamu nanti!" lanjut Mama Amanda sambil menoleh sekilas, sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam.
Gallel menggertakkan giginya kuat-kuat hingga rahangnya menonjol tajam. Dia menggigit bibir bagian dalamnya sampai terasa anyir darah. Tatapannya menatap pasrah sekaligus penuh benci pada dua punggung wanita di depannya yang sudah menghilang di balik pintu.
Amarahnya semakin menjadi-jadi, membakar habis sisa logikanya. Tanpa menunggu lebih lama, Gallel berbalik. Dia tidak ikut masuk, melainkan kembali menuju mobilnya dengan wajah gelap yang memendam badai.
"Keluar!" perintahnya dingin pada Revan yang sejak tadi menyaksikan segalanya dari balik kaca mobil.
Revan segera keluar tanpa banyak kata, membiarkan tuannya mengambil alih kemudi. Sedetik kemudian, raungan mesin mobil itu memecah keheningan halaman, melesat meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi.
Mobil Gallel membelah jalanan sore, melaju dengan kecepatan tinggi yang berbahaya. Tujuannya kali ini sangat jelas, menuju pemakaman istrinya. Dia membawa hati yang remuk dan perasaan bersalah yang justru semakin membengkak setelah kalimat Mama Amanda terus menghantuinya tanpa henti.
"Kamu sudah mengkhianatinya sejak malam kamu menyebut nama Aurin," kalimat itu terus bergaung di telinganya, lebih bising daripada deru mesin mobil yang dia kendarai.
Gallel mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap inci aspal yang dia lewati terasa seperti duri yang menusuk kesadarannya. Dia merasa perlu memohon ampun, perlu menjelaskan pada Sera bahwa semua ini bukan keinginannya.
Sore itu langit tampak temaram, seolah ikut merasakan badai yang sedang berkecamuk di dalam dada Gallelio. Dia merasa kotor, merasa bahwa kehadiran Aurin di dalam hidupnya adalah sebuah noda yang merusak kesetiaan yang selama ini dia jaga mati-matian untuk mendiang istrinya. Begitu sampai di gerbang pemakaman, Gallel menghentikan mobilnya dengan kasar. Dia keluar dan melangkah terburu-buru, mencari satu-satunya tempat yang dia anggap sebagai rumah bagi hatinya yang kini sedang tersesat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...