Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Tama sudah tiba dikantor tepat jam tujuh. Kantor masih sangat sepi. Bahkan saat melewati meja sekretarisnya, terlihat masih kosong.
"Revan," Nama itu terus terngiang dikepala Tama, rasanya sangat mengganggu.
"Aku yakin pasti laki-laki itu menyimpan rasa pada Liz. Tidak bisa! Selama Liz masih terikat kontrak dengan ku, tidak ada siapapun yang boleh mendekatinya!"
Sore hari nya..
"Kau pulang saja duluan. Tidak perlu menungguku." Kata Tama pada Faizal.
"Baik, Tuan. Saya permisi." Faizal pun pamit.
"Ck! Kenapa belum ngabarin juga ?! Apa dia belum pulang ?" Tama mendengus sambil menatap layar ponselnya sejak dua menit lalu.
5 menit......
10 menit.....
Napasnya terasa berat.
"Sudah jam lima, kenapa dia belum pulang juga ?!"
Kesabarannya sudah benar-benar di uji.
Tanpa mau menunggu lagi, Tama langsung menekan tombol call di nama kontak yang sejak tadi dia pandangi.
'Istri Muda 📝'
Tama memberi nama di kontak Liz dengan nama itu, lengkap dengan emoticon yang mengisyaratkan sebuah perjanjian yang mereka sepakati.
Beberapa detik.....panggilan itu diangkat.
Diseberang sana Liz sedang menunggu taksi online nya. Kebetulan dia tidak lembur jadi bisa pulang tepat waktu.
Liz 📞 Halo ?
Tama 📞 Dimana ?
Liz 📞 Di kantor. Kenapa ?
Tama 📞 Sudah pulang ?
Liz 📞 Sudah.
Tama terlonjak, dia sampai bangun dari kursi kebesarannya.
Tama 📞 Kenapa tidak menelepon ?
Liz 📞 Untuk apa ?
Tama 📞 Aku akan menjemputmu.
Liz 📞 Tidak perlu. Taksi online ku sebentar lagi sampai.
Tama menahan emosinya.
Tama 📞 Aku jemput sekarang. Jangan coba-coba naik taksi itu!
Tuuutttt....
Tama memutus sambungan. Sementara Liz hanya bisa menatap layar ponselnya yang mulai redup dengan dahi berkerut.
"Tadi istrinya, sekarang suaminya.... Sebenernya mau mereka itu apa sih ?! Nyusahin!" Gerutu Liz.
Tak lama taksi online nya pun datang.
"Mbak Elizabeth, ya ?" tanya Supir taksi setelah kaca jendela nya dibuka.
Liz mendekat, sedikit membungkuk untuk berbicara pada supir itu.
"Pak, maaf. Saya tidak jadi naik."
Wajah Supir taksi itu berubah kaku.
"Loh. Mbak jangan main-main, ya ?! Saya udah sampe ini. Seharusnya kalau nggak jadi cancel aja dari awal, jangan saya udah sampe malah dibatalin!" Omel supir taksi itu, tidak terima.
Liz menangkupkan kedua tangannya, "Maaf, Pak. Selesaikan saja perjalanannya. Saya tidak jadi naik, tapi ongkosnya tetap saya bayar. Sebentar.." Liz membuka tasnya, mengambil uang di dompet kecilnya. Dua lembar uang berwarna merah.
"Ini Pak. Ongkosnya tujuh puluh lima ribu, ya ? Ini saya kasih dua ratus ribu, ya ? Tolong diterima, sekali lagi maaf." Liz menyodorkan dua lembar uang itu pada supir taksi.
Mata supir itu berbinar, senyum tipisnya hampir terlihat kalau-kalau pria baya tersebut tidak menahannya didepan Liz.
"Yasudah. Saya terima. Lain kali jangan gitu ya, Mbak." Kata supir itu sambil mengambil uang dari tangan Liz.
Setelah perdebatan alot dengan supir taksi dan supir itu pun pergi, mobil Camry hitam mengkilat milik Tama berhenti tepat disampingnya.
Supir pribadinya turun, membukakan pintu untuk Liz.
"Silahkan, Nona." Kata Pak Supir.
"Terimakasih, Pak." Liz masuk ke kursi belakang. Duduk di samping Tama.
Mobil itu pun mulai melaju membelah jalanan ibukota.
"Lain kali tidak perlu jemput segala, aku bisa pulang sendiri!" ketus Liz pada Tama. Liz jelas kesal karena tadi dia dimarahi supir taksi, belum lagi rugi secara materi, terpaksa bayar hampir tiga kali lipat dari tarif yang ditentukan oleh aplikasi.
"Siapa yang menyuruhmu naik taksi ?"
Liz mencengkram tas di pangkuannya.
"Sudahlah. Bicara dengan mu tidak akan membuat uang dua ratus ribu-ku kembali!" Liz membuang muka, menatap pemandangan diluar jendela.
Tama yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, terpaksa berhenti sejenak, menatap Liz lebih serius.
"Apa maksudnya ?" tanya Tama tak mengerti.
Liz diam.
Tama yang memiliki kesabaran setipis tisu dibagi tujuh puluh itu langsung menarik pergelangan tangan Liz, membuat Liz terlihat sedikit kaget.
"Tatap aku, jika aku sedang bicara padamu! Jelaskan. Apa maksudnya tadi ?"
Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak juga lembut.
Tapi jelas. Tegas.
Liz menepis tangan Tama.
"Ingat perjanjian kita. Pihak 1 tidak boleh menyentuh pihak 2!"
Tama sepertinya tidak perduli. Dia malah menarik pinggang Liz hingga tubuh mereka nyaris menempel.
Untuk beberapa detik waktu seakan berhenti di antara mereka. Keduanya saling menatap dengan sangat dalam. Hingga suara klakson serta mobil yang mendadak berhenti membuyarkan lamunan mereka.
Ciiiittttt.....
Refleks Liz menjauh dari Tama.
"Ma-maaf, Tuan. Tadi ada yang tiba-tiba menyebrang jalan." Kata Pak Supir sambil memeriksa keadaan Tama di belakang.
"Jalan!" Kata Tama pada supirnya.
"Baik, Tuan." Ada rasa tidak enak di wajah supir itu.
Tama pun bertanya lagi pada Liz tentang uang dua ratus ribu yang Liz ucapkan. Terpaksa Liz pun cerita.
"Aku akan ganti!"
"Tidak perlu!" Liz terlihat sungkan.
Tama mengutak-atik ponsel, lalu menyerahkan ponselnya pada Liz.
"Tulis berapa pun nominal yang kamu mau."
Liz menatap layar ponsel Tama yang menampilkan aplikasi transfer mobile banking.
"Cepat! Tanganku pegal." Kata Tama membuat Liz mau tak mau mengambil benda pipih tersebut.
Karena tak mau lama-lama memegang ponsel Tama, Liz mengetik nominal seratus ribu dan setelah itu dikembalikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.
Dahi Tama mengerut ketika melihat nominal yang tertera di layar.
"Seratus ribu ? Kamu menghinaku ?"
"Bu-bukan. Bukan begitu.." Geleng Liz cepat.
Tama mengganti nominal, lalu mengetik Pin enam digitnya dengan jempol yang bergerak tenang. Dan.... selesai. Transfer berhasil.
"Buka aplikasi mobile banking mu," Titah Tama.
Liz menurut. Dia mengeluarkan ponsel, lalu membuka aplikasi mobile banking.
Wajah Liz berubah. Dahinya mengernyit, menatap nominal di layar dengan jantung yang hampir copot.
Liz menggosok kedua matanya, berharap yang terpampang di layar adalah sebuah kesalahan dari penglihatan matanya sendiri.
"Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam, Tuj......"
Liz menghitung deret angka Nol yang tiba-tiba jadi banyak, padahal tadi dia hanya mengetik angka Nol sebanyak lima kali saja.
"Se-Sepuluh juta ????!!" Liz menutup mulutnya, tak percaya bahkan setelah dia memastikan sendiri.
"Kenapa kamu transfer aku sebanyak ini ? Aku akan kembalikan, sebentar,"
Dengan tangan gemetar, Liz berusaha mengembalikan uang itu pada pemiliknya lagi.
"Aku memberimu seratus kali lipat dari yang kamu ketik tadi. Kalau kamu ingin mengembalikannya, pastikan saldo mu cukup untuk mengembalikan uang ku sepuluh kali lipat juga,"
Degh.
Suara Tama tajam. Tegas. Memotong ruang tanpa menyisakan celah.
Liz tertegun. Tangannya yang sedang memegang ponsel, perlahan turun, jatuh lemah di samping tubuhnya.
Tama melanjutkan. "Simpan uang itu untuk kebutuhanmu, katakan padaku kalau kurang. Aku akan menambahkan nya lagi dengan senang hati."