Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Arumi terkejut kala ia mendapati dirinya terbangun di sebuah tempat yang sangat asing.
Tempat itu adalah sebuah istana yang sangat megah.
Gerbangnya terbuat dari batu yang sangat kokoh, dinding istana itu terbuat dari pualam putih yang mengkilap.
Patung harimau berdiri di tengah-tengah gerbang, seolah menjaga gerbang itu.
"Selamat datang di istanaku, Nak," ucap sebuah suara yang berada tepat di belakang Arumi.
Arumi menoleh ke belakang dengan perasaan campur aduk.
"Nyai Sekar Arum," ucap Arumi.
Ya, yang ada di belakang Arumi adalah Nyai Sekar Arum.
Penampilannya adalah seekor harimau putih yang anggun, dan ia mengenakan mahkota seorang Ratu.
"Ini adalah kerajaanku, Arumi. Namanya kerajaan Baytul Asrar," ucap Nyai Sekar Arum.
"Wah, ini sangat indah, Nyai. Tapi, kenapa kamu membawaku ke sini? Dan bagaimana dengan orang tua dan adikku, mereka pasti panik mencariku," jawab Arumi.
Arumi cukup kagum dengan istana milik Nyai Sekar Arum.
Desainnya tampak klasik, tapi tidak terlihat seram, sebab banyak lampu dan bunga-bunga yang tumbuh di halaman istana tersebut.
Meskipun ini adalah kerajaan jin, tetapi tidak ada kesan seramnya sama sekali.
"Aku ingin mengajak kamu berlatih, Nak, makanya aku mengajakmu ke sini," kata Nyai Sekar Arum.
Nyai Sekar Arum kemudian merubah wujudnya, yang sama seperti wanita umur 30 tahunan.
Ia mengenakan kebaya berwarna ungu, dengan tetap memakai mahkota di atas kepalanya.
Arumi sedikit terkesima dengan penampilan Nyai Sekar Arum, pasalmnya wajahnya memang cantik.
"Ayo, masuklah ke dalam istanaku ini, kamu pasti akan menyukainya," ajak Nyai Sekar Arum.
"Maaf Nyai, aku memang suka di sini. Tapi, aku takut adikku mencariku. Nyai belum menjawab pertanyaanku," jawab Arumi.
Arumi awalnya sedang terlelap malam itu, setelah kembali ada bayi yang tewas.
Jika di total, berarti saat ini sudah ada 5 bayi yang meninggal di desa Dukuh Asem.
"Ah, iya benar., aku belum sempat menjawab pertanyaanmu ya. Jadi begini, Nak, saat ini kamu sedang raga sukma. Jadi, hanya sukmamu saja yang ada di sini. Sementara, ragamu tetap ada di kamar dalam kondisi tidur. Besok saat hari di alam manusia sudah pagi, aku akan mengembalikan sukmamu ini, ya," ucap Nyai Sekar Arum menjelaskan.
"Oh begitu. Sebenarnya aku kira saat tadi pagi Nyai menyuruhku untuk ikut, aku pikir itu tetep ada di alam manusia, rupanya ke alam jin," jawab Arumi.
Akhirnya, Arumi pun bersedia untuk diajak masuk ke istana milik Nyai Sekar Arum.
Di istana itu, terdapat banyak wanita yang sangat cantik.
Ketika Arumi dan Nyai Sekar Arum melewati mereka, para wanita tersebut segera membungkukan tubuhnya sambil memberikan hormat.
"Mereka adalah semua dayang di istana ini, Arumi," ucap Nyai Sekar Arum memberitahu.
"Tapi, kenapa mereka juga hormat sama aku, Nyi?" tanya Arumi.
Wajar saja Arumi merasa aneh karena ia juga dihormati di sana, padahal ia bukan siapa-siapa.
"Mereka akan selalu menghormati orang yang aku jaga, Nak," jawab Nyai Sekar Arum sambil tersenyum.
Arumi pun mengerti dengan apa yang di maksud oleh Nyai Sekar Arum.
***Setelah berjalan beberapa saat, sampailah mereka di sebuah ruangan.
"Nak, aku akan mengajarimu ilmu bela diri. Ini agar kamu lebih kuat saat bertarung," ucap Nyai Sekar Arum.
"Loh, kenapa nggak langsung belajar ilmu gaib aja, Nyi?" tanya Arumi penasaran.
Pasalnya, menurut Arumi ilmu bela diri itu tidak ada hubungannya dengan hal gaib, jadi ia merasa malas untuk mempelajarinya, apalagi gerakan ilmu bela diri itu memang cukup rumit.
"Dengarkanlah ini baik-baik. Yang harus diperkuat itu bukan ilmu kebatinanmu saja, tapi juga kamu harus mahir bela diri. Kalau kamu tidak bisa bela diri, lalu bagaimana jika kamu menemukan lawan yang tak hanya menguasai ilmu kebatinan, tapi juga memiliki ilmu bela diri? Jika seperti itu, lalu bagaimana jika lawanmu nantinya memanfaatkan hal itu, dan malah menyerang fisikmu? Karenanya, kamu harus juga mahir dalam ilmu bela diri untuk menjaga fisikmu," nasehat Nyai Sekar Arum.
Arumi terdiam, merenungi nasehat dari Nyai Sekar Arum.
"Baiklah, Nyi, aku paham. Ajarkan aja, aku siap," ucap Arumi setelah memahami ucapan khodamnya itu.
Dengan sabar, Nyai Sekar Arum menjelaskan setiap gerakan bela diri pada Arumi.
Sesekali, jin yang merubah wujudnya menjadi wanusia itu juga mempraktekkan sedikit gerakan, agar Arumi mengerti.
Namun, karena Arumi saat ini berbentuk sukma, jadi ia sedikit kesulitan ketika ikut melakukan gerakan yang diajarkan.
Karena Arumi saat ini berwujud sedikit transparan, jadi ia tidak bisa menapak di tanah.
Alhasil, Arumi hanya bisa menyimak teori saja tanpa bisa praktek.
"Arumi, sudah cukup teorinya, ya. Aku ingin kamu melakukan tirakat selama 3 hari," ucap Nyai Sekar Arum.
"Memangnya tirakat untuk apa, Nyi?" tanya Arumi.
"Ini untuk menguatkan dirimu, Arumi. Ini agar batinmu lebih kuat. Mungkin selama kamu melakukan puasa selama 3 hari itu, akan banyak ujian yang kamu hadapi. Terutamanya, akan banyak wujud makhluk halus yang kamu lihat. Kamu tidak boleh takut, karena bisa saja ini gagal," jawab Nyai Sekar Arum.
Arumi terdiam dengan perasaan ragu yang menyelimuti hatinya.
"Tapi, apa aku bisa, Nyai? Jujur saja, aku takut. Mungkin Nyai tahu, tadi pagi aku begitu ketakutan ketika melihat hantu kuyang," ucap Arumi.
"Aku tahu, Nak. Tapi, berdoalah kepada Allah, agar mata dan hatimu dikuatkan ketika melihat bangsa jin. Kalau kamu takut, maka kamu tidak akan bisa melawan kuntilanak merah itu, dan kamu tidak akan tahu kejahatan apa yang telah di perbuat oleh kedua orang tuamu," jawab Nyai Sekar Arum.
"Baiklah, Nyai, aku akan melakukan tirakat itu," kata Arumi dengan mantap.
Kali ini, tak ada keraguan di dalam hatinya.
Arumi bertekat untuk menguak kenapa kuntilanak merah itu meneror desanya.
Apalagi, yang dimangsa oleh kuntilanak itu adalah bayi yang tak berdosa, jadi Arumi benar-benar merasa sedih.
"Nyai, apakah aku nggak boleh makan dan minum selama 3 hari itu?" tanya Arumi.
"Kamu hanya bisa berbuka puasa saat isya, Arumi," jawab Nyai Sekar Arum.
Jawaban itu, tentu saja membuat Arumi merasa terkejut.
"Lo, lama banget sih, Nyai. Puasa ramadan aja sampe magrib, kok ini malah sampe isya," protes Arumi.
"Ini kan bukan puasa bulan ramadan, jadi ya berbeda, sudahlah tidak usah banyak protes seperti itu," ucap Nyai Sekar Arum.
Arumi hanya bisa berdecak sebal atas jawaban Nyai Sekar Arum yang menurutnya terlalu santai itu.
Beberapa saat bersama Nyai Sekar Arum, Arumi memang sudah akrab dengan penjagamya tersebut.
Gadis itu juga sudah bisa santai ketika mengobrol dengan Nyai Sekar Arum.
"Nyai, jadi gimana ini aku belajar ilmu bela dirinya, masa aku nggak bisa napak tanah sih," ucap Arumi.
"Nanti aku akan memikirkan caranya bagaimana, ya, tapi sepertinya kamu harus datang ke sini dengan tubuh fisikmu, tidak bisa hanya dengan sukma saja seperti ini," jawab Nyai Sekar Arum.
"Ah, repot itu, Nyai, nanti aku di tanyain sama keluargaku," ucap Arumi.
Pasalnya, ia cukup bingung harus alasan pergi ke mana jika ingin keluar dari rumahnya.
"Sudahlah, kamu pulang dulu saja. Nanti biar aku yang pikirkam caranya, tenang saja," kata Nyai Sekar Arum.
"Iya, Nyai, anterin aku ya," jawab Arumi.
Nyai Sekar Arum memegang pundak Arumi, lalu menghilang dari istana itu.