Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 kesepakatan dilembah akar kering dan alkemis buangan
Jalan kembali menuju pinggiran asrama terasa bagaikan mendaki tebing berduri. Adrenalin yang sebelumnya membakar nadi Lin Chen perlahan menguap, meninggalkan kenyataan pahit berupa rasa sakit yang meremukkan tulang. Setiap kali kaki berbalut Baja Hitam Rawa itu melangkah, getarannya menjalar ke atas, menyiksa tulang rusuk kanannya yang retak.
Langit sore menaburkan warna jingga kemerahan di atas Sekte Pedang Awan. Tidak ada satupun murid yang berani mendekati Lin Chen. Mereka hanya mengawasi dari kejauhan, menatap sosok pemuda berjubah abu-abu kotor itu seolah sedang melihat malaikat maut yang sedang beristirahat. Kematian Li Kuang sang raksasa masih tercetak jelas di benak mereka.
Sesampainya di gubuk tanpa pintu miliknya, Lin Chen kehilangan keseimbangan. Ia jatuh bertumpu pada satu lutut, terbatuk keras memuntahkan gumpalan darah hitam ke atas lantai kayu. Pertarungan tadi benar-benar menguras setiap tetes esensi kehidupannya. Tinju Li Kuang yang mengenai perut dan dadanya menyisakan energi destruktif yang masih berkeliaran liar di dalam meridiannya.
Pemuda itu menyeret tubuhnya ke sudut ruangan. Bersandar pada dinding kayu yang dingin, ia memejamkan mata dan memaksa sisa-sisa *Napas Karang Esensi* untuk berputar. Udara di sekitarnya sedikit beriak, energi alam yang sangat tipis mulai tersedot masuk untuk menambal kerusakan organ dalamnya. Proses ini terlalu lambat. Jika ia membiarkan luka-lukanya sembuh secara alami, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan. Di tempat kejam seperti pelataran luar, berbaring sakit selama itu sama dengan menyerahkan lehernya kepada Fraksi Pedang Darah.
Ia memiliki dua Batu Roh Tingkat Menengah di dalam sakunya. Benda itu memancarkan hawa murni yang menggoda. Godaan untuk langsung menyerapnya sangat besar. Menelan energi murni dalam kondisi tubuh yang hancur berisiko meledakkan pembuluh darah. Wadah yang retak tidak akan mampu menahan air bah.
Layar cahaya biru berpendar seketika di tengah kegelapan matanya, seolah merespons krisis fisik yang sedang ia alami.
**[Kondisi Fisik Kritis Terdeteksi. Kerusakan Tulang Rusuk 40%, Pendarahan Internal.]**
**[Silakan tentukan metode pemulihan Anda:]**
**[Pilihan 1: Pergi ke Balai Pengobatan Pelataran Luar. Gunakan Batu Roh untuk menyewa Tetua Penyembuh.
Hadiah: Kesembuhan 80%. Rahasia kultivasi Anda akan diperiksa oleh Tetua, dan Fraksi Pedang Darah memiliki mata-mata di sana untuk meracuni ramuan Anda.]**
**[Pilihan 2: Serap paksa satu Batu Roh Tingkat Menengah sekarang juga.
Hadiah: Anda menerobos ke tingkat empat seketika. Rusuk Anda yang retak akan tersambung secara cacat permanen, membatasi fleksibilitas pergerakan Anda seumur hidup.]**
**[Pilihan 3: Pergi ke Lembah Akar Kering di ujung barat sekte. Temukan Mu Qing, murid magang alkemis buangan. Tawarkan kesepakatan rahasia untuk meracik 'Mandi Ekstrak Tulang Binatang'.
Hadiah: Kesembuhan 100%. Peningkatan ketangguhan kulit tingkat lanjut. Anda membuka jalur pasokan sumber daya independen.]**
Lin Chen membaca deretan teks holografik tersebut dengan sisa kesadarannya. Sistem ini kembali menunjukkan jalan memutar yang penuh dengan penderitaan tersembunyi. Pilihan pertama dan kedua adalah jalan buntu yang menghancurkan potensinya di masa depan. Balai Pengobatan jelas merupakan sarang intrik yang tidak bisa ia percaya. Memaksakan terobosan adalah tindakan bunuh diri bagi fondasi bela dirinya.
Pilihan ketiga menyebutkan sebuah nama dan lokasi yang asing. Lembah Akar Kering dikenal sebagai tempat pembuangan limbah sisa eksperimen alkimia sekte. Tempat itu dipenuhi racun herbal dan bau busuk yang tidak tertahankan. Meminta bantuan dari seorang alkemis buangan terdengar berisiko, setidaknya ia bisa memegang kendali atas transaksinya tanpa campur tangan birokrasi faksi mana pun.
"Pilihan ketiga," bisik Lin Chen, suaranya parau.
Layar biru memudar perlahan. Ia tidak menunda waktu sedetik pun. Mengistirahatkan tubuhnya saat ini hanya akan membuat ototnya mengeras dan semakin sulit digerakkan. Mengumpulkan seluruh sisa tekadnya, pemuda itu bangkit berdiri. Kaki yang terbelenggu Baja Hitam kembali diseret keluar, melangkah menembus malam yang mulai turun.
Perjalanan ke Lembah Akar Kering memakan waktu satu jam akibat kondisi fisiknya yang hancur. Sesampainya di batas barat sekte, hawa dingin seketika digantikan oleh kelembapan udara yang berbau tajam. Bau belerang, daun busuk, dan sisa pembakaran logam merajai tempat ini. Tidak ada murid yang mau mendekati area tersebut.
Lin Chen menyusuri jalan setapak berbatu yang licin oleh lumut bercahaya hijau redup. Di dasar lembah, sebuah gua batu besar memancarkan cahaya api yang tidak stabil. Suara mendidih dan kepulan asap ungu keluar dari mulut gua tersebut.
Ia melangkah masuk. Interior gua itu sangat berantakan, dipenuhi oleh puluhan rak kayu reyot yang menampung ribuan toples kaca berisi organ hewan iblis dan akar herbal aneh. Di tengah gua, sebuah kuali tembaga hitam berukuran sedang sedang dipanaskan di atas api spiritual berwarna kebiruan.
Di depan kuali itu, berjongkok sesosok perempuan yang sedang mengaduk cairan mendidih menggunakan tongkat besi panjang. Ia mengenakan jubah abu-abu kotor yang kedodoran. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai menutupi separuh wajah kirinya. Separuh wajah kanannya yang terlihat memiliki struktur tulang yang sangat indah, kontras dengan bekas luka bakar kehitaman yang menjalar dari leher hingga rahang bawahnya.
Itulah Mu Qing. Jenius alkimia yang diasingkan karena obsesinya terhadap metode pengobatan ekstrem yang sering kali melukai pasiennya.
Merasakan kehadiran seseorang, Mu Qing tidak menoleh. Tangan kanannya dengan gesit mengambil segenggam bubuk putih dari meja di sebelahnya dan menaburkannya ke dalam kuali. Cairan di dalam kuali langsung berdesis marah, mengubah asap ungu menjadi kelabu.
"Gua ini bukan tempat bagi murid yang salah jalan," suara Mu Qing terdengar serak dan dingin, penuh dengan ketidakpedulian mutlak. "Jika kau datang untuk membuang sampah, letakkan di luar. Jika kau datang mencari pil penyembuh luka ringan, kau salah alamat. Aku tidak membuat permen manis untuk anak-anak cengeng."
Lin Chen berjalan mendekat, berhenti lima langkah di belakang perempuan itu. Hawa panas dari kuali membuat luka di dadanya berdenyut semakin keras.
"Aku tidak mencari permen manis," jawab Lin Chen datar. "Aku membutuhkan 'Mandi Ekstrak Tulang Binatang'. Tubuhku hancur setelah menerima pukulan dari praktisi tingkat lima puncak. Rusukku retak, ototku robek. Balai Pengobatan tidak akan merawatku tanpa menjadikanku target."
Mendengar nama ramuan tersebut, pergerakan tongkat besi Mu Qing terhenti. Ia perlahan menoleh. Mata hitamnya yang tajam memindai tubuh Lin Chen dari atas ke bawah, berhenti sejenak pada balok Baja Hitam di kaki pemuda itu, lalu beralih pada bekas darah yang mengering di sekujur jubahnya.
"Mandi Ekstrak Tulang Binatang bukanlah ramuan penyembuh, melainkan metode penyiksaan untuk menempa fisik," ucap Mu Qing, nada suaranya berubah menjadi penuh minat layaknya seorang peneliti yang menemukan subjek langka. "Merendam tubuh yang hancur ke dalam ekstrak tersebut sama saja dengan menuangkan cairan besi panas ke dalam luka terbuka. Sembilan dari sepuluh orang akan pingsan karena rasa sakitnya, lalu tenggelam dan mati direbus. Kau berani memintanya?"
"Jika aku takut pada rasa sakit, aku sudah berbaring di tanah sebagai mayat hari ini," balas Lin Chen tanpa keraguan. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan lima keping perak dan sebuah kantong berisi empedu Ular Sisik Besi sisa buruannya di masa lalu. Ia melemparkannya ke atas meja kayu di dekat Mu Qing. "Itu untuk biaya bahan. Kau bebas meminta bayaran tambahan jika ini belum cukup."
Mu Qing menatap benda-benda tersebut, lalu tersenyum sinis. Bekas luka di rahangnya ikut tertarik, membuat senyumannya terlihat sedikit menakutkan.
"Perak dan empedu busuk tidak cukup untuk menutupi biaya akar ginseng darah yang kubutuhkan untuk campuran ramuan itu," ujar Mu Qing seraya berdiri. Ia melangkah mendekati Lin Chen, mengabaikan bau amis darah dari tubuh pemuda itu. "Sebagai gantinya, aku memiliki sebuah penawaran. Aku sedang meracik 'Pil Ledakan Meridian', sebuah pil eksperimental yang dirancang untuk memperlebar jalur Qi secara paksa. Aku butuh subjek tes yang memiliki ketahanan fisik di atas rata-rata. Subjekku sebelumnya mati meledak minggu lalu."
Syarat yang ditawarkan Mu Qing sangat mengerikan. Menjadi kelinci percobaan bagi alkemis gila adalah sesuatu yang dihindari oleh semua kultivator waras.
Lin Chen menatap mata perempuan itu. Ia tidak melihat kelicikan atau niat jahat; ia hanya melihat dedikasi fanatik terhadap seni alkimia. Di dunia ini, hubungan transaksional yang didasari oleh kegilaan yang sama jauh lebih bisa dipercaya daripada senyum palsu para tetua.
"Sepakat," jawab Lin Chen tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Sembuhkan aku malam ini. Begitu tubuhku utuh, kau boleh menguji pil laknatmu itu padaku."
Mata Mu Qing sedikit melebar. Ia tidak menyangka pemuda ini akan setuju dengan begitu mudah. Tawa serak meluncur dari bibirnya. "Bagus. Aku suka orang gila. Lepaskan jubahmu. Masuk ke dalam tong kayu di sudut sana. Aku akan menyiapkan air mendidihnya sekarang."
Selama satu jam berikutnya, Lin Chen duduk di dalam sebuah tong kayu raksasa berbentuk silinder. Mu Qing berlalu-lalang memasukkan berbagai macam tulang hewan iblis, akar tumbuhan berwarna merah pekat, dan cairan kental berbau menyengat ke dalam tong tersebut. Ia kemudian menyalurkan api spiritualnya ke dasar tong, memanaskan air di dalamnya hingga mencapai titik didih.
Air berubah warna menjadi merah kehitaman, menggelembung meletup-letup. Asap panas mengepul memenuhi sudut gua.
Lin Chen melepaskan jubah abu-abunya, menyisakan celana pendek. Tubuhnya yang dipenuhi bekas luka dan memar terekspos jelas. Ia melangkah naik ke pinggiran tong. Hawa panas dari air tersebut sangat ekstrem, cukup untuk melepuh kulit manusia biasa dalam hitungan detik. Mengabaikan insting bertahannya, pemuda itu menurunkan dirinya ke dalam tong hingga cairan mendidih merendamnya sebatas leher. Kaki berbalut Baja Hitamnya ikut terendam, menyerap panas dan menekan kakinya ke dasar tong.
*Cesss!*
Kulit Lin Chen memerah seketika. Sensasi melepuh yang luar biasa menyengat seluruh pori-porinya.
"Tahan napasmu jika cairan itu mulai menyusup ke dalam lukamu," instruksi Mu Qing sambil menuangkan sebotol cairan abu-abu ke dalam tong. "Ini adalah tahap pertama. Ekstrak tulang akan mulai meleburkan darah bekumu dan memaksa sumsum tulangmu menyerap nutrisi dari herbal."
Rasa panas berubah menjadi gigitan ribuan semut api saat ramuan itu menemukan celah pada luka sobek di dada dan bahu Lin Chen. Obat itu menyusup masuk, bereaksi keras dengan Qi di dalam tubuhnya. Lin Chen menggertakkan giginya erat-erat hingga suara gemeretak terdengar jelas. Urat-urat di dahinya menonjol keras. Ia mencengkeram pinggiran tong kayu hingga kukunya menancap masuk ke dalam kayu.
Ia segera memutar *Napas Karang Esensi*. Teknik ini bekerja seperti spons kering yang bertemu air. Alih-alih menolak rasa sakit, teknik itu justru menghisap esensi energi murni dari ramuan mematikan tersebut. Energi buas dari tulang hewan iblis mengalir deras ke arah tulang rusuk kanannya yang retak.
Sensasi ngilu luar biasa meledak di dadanya. Seolah ada tangan tak kasat mata yang meraih tulang rusuknya, mematahkannya secara sempurna, lalu merekatkannya kembali menggunakan cairan logam.
Mu Qing berdiri di samping tong, matanya mencatat setiap perubahan warna kulit dan pola pernapasan Lin Chen. Ia diam-diam merasa takjub. Subjeknya tidak memuntahkan darah atau kehilangan kesadaran. Pria ini justru menahan seluruh siksaan itu dalam keheningan yang mencekam, seolah ia telah menjadikan penderitaan sebagai kawan lamanya.
Proses perendaman itu berlangsung selama empat jam tanpa henti. Saat fajar menjelang, warna air di dalam tong telah berubah menjadi bening. Seluruh esensi obat dan darah herbal telah diserap habis oleh pori-pori Lin Chen.
Pemuda itu membuka matanya. Tidak ada lagi penderitaan di sana, yang tersisa hanyalah kejernihan mutlak. Ia berdiri perlahan. Air bening menetes dari tubuhnya yang kini memancarkan kilau perunggu tipis di bawah cahaya api. Bekas memar berwarna keunguan akibat serangan Li Kuang telah lenyap tanpa bekas. Tulang rusuk kanannya tidak lagi terasa nyeri saat disentuh; kepadatannya bahkan terasa jauh lebih keras dari sebelumnya. Kulitnya kini memiliki lapisan pertahanan luar yang mampu menahan goresan pedang biasa.
Kesembuhan total telah tercapai.
Lin Chen melompat keluar dari tong, pendaratannya terdengar berat akibat beban di kakinya. Ia meraih jubah lamanya dan memakainya kembali.
Mu Qing melempar sebuah handuk kasar ke arahnya. "Tubuh fisikmu sangat aneh. Regenerasinya brutal, jauh melampaui standar manusia biasa. Aku tidak tahu metode apa yang kau kembangkan, kekuatan semacam itu akan menarik banyak mata elang di sekte ini."
"Aku hanya bertahan hidup," jawab Lin Chen sambil mengeringkan rambutnya. Ia menatap Mu Qing. "Lukaku sudah sembuh. Berikan pil laknatmu padaku. Aku tidak suka memiliki hutang yang tertunda."
Mu Qing tersenyum misterius. Ia berjalan menuju sebuah peti besi kecil di ujung rak, membukanya, dan mengambil sebuah kotak giok hijau. Di dalamnya, tergeletak sebutir pil berwarna merah menyala yang memancarkan hawa tidak stabil. Pil itu berdenyut pelan, mirip sebuah jantung kecil yang memompa darah.
"Pil Ledakan Meridian," ucap Mu Qing bangga. "Terbuat dari inti hewan berelemen api tingkat tiga dan teratai salju elemen es. Dua elemen yang saling bertolak belakang disatukan secara paksa. Tujuannya adalah menciptakan ledakan terkontrol di dalam tubuh untuk membersihkan penyumbatan kotoran di meridian tersempit. Risikonya, jika tubuhmu tidak kuat menahan benturan panas dan dingin, meridianmu akan hancur dan kau menjadi lumpuh."
Lin Chen menatap pil tersebut. Instingnya mengirimkan sinyal bahaya. Energinya memang sangat liar. Mengingat Dantiannya telah dikonsolidasi dengan sempurna pada tingkat tiga, dan tubuhnya baru saja menyerap esensi tulang tingkat tinggi, ia memiliki kapasitas wadah yang cukup untuk menahan ledakan tersebut.
Ia tidak membuang waktu. Tangan kanannya menyambar pil itu dari kotak giok dan langsung memasukkannya ke dalam mulut, menelannya utuh-utuh.
Tindakan nekat itu membuat Mu Qing sedikit terperanjat. "Kau benar-benar tidak mengenal takut."
Seketika, perut Lin Chen terasa seperti menelan sebongkah arang menyala yang dilapisi es abadi. Dua aliran energi berlawanan meledak secara serempak di dalam Dantiannya. Gelombang panas membakar jalur Qi utamanya, disusul oleh gelombang dingin yang membekukan darahnya di detik berikutnya.
Pemuda itu langsung duduk bersila di tanah berdebu. Wajahnya bergantian memerah dan memucat. Ia tidak melawan aliran energi itu. Sebaliknya, ia menggunakan *Napas Karang Esensi* sebagai tameng untuk mengarahkan ledakan tersebut menuju meridian tersier—jalur energi kecil yang selama ini sulit dibuka menggunakan metode meditasi standar.
*Duar! Duar!*
Suara letupan kecil terdengar dari balik kulit Lin Chen. Tiga titik meridian tersembunyi di bagian punggung dan lengannya terbuka secara paksa, menyemburkan uap energi berwarna merah dan biru secara bersamaan. Aliran Qi di tubuhnya seketika menjadi jauh lebih lancar, kapasitas pernapasannya meluas, memungkinkan penyerapan energi alam dengan efisiensi ganda.
Kepadatan Qi di Dantiannya melonjak naik. Dari tahap ketiga yang solid, terdorong mencapai ambang batas puncak tingkat tiga, nyaris menyentuh gerbang tingkat empat.
Lin Chen menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya membawa butiran es kecil bercampur hawa panas. Ia membuka mata, menatap tangannya yang kini diliputi energi murni yang jauh lebih stabil. Pil itu berhasil, meskipun rasa sakitnya setara dengan dikuliti hidup-hidup.
"Luar biasa," gumam Mu Qing sambil mencatat sesuatu di atas perkamennya dengan penuh semangat. "Keseimbangan energi sempurna. Tubuhmu menyerapnya tanpa kerusakan berarti. Kau adalah kanvas eksperimen terbaik yang pernah kutemukan, Lin Chen."
Lin Chen berdiri. "Hutangku lunas. Aku akan kembali menemuimu jika aku membutuhkan sesuatu yang lain. Simpan identitasku rapat-rapat."
Mu Qing tidak mengangkat wajahnya dari perkamen. "Mulutku jauh lebih rapat dari botol racun. Datanglah kapan saja kau ingin menguji kematian."
Lin Chen berbalik dan melangkah keluar dari Lembah Akar Kering. Matahari telah muncul sepenuhnya, menyinari pelataran luar sekte. Kondisinya kini berada di puncak absolutnya. Dengan kombinasi *Batu Tumbuk*, kecepatan letupan dari *Langkah Bayangan Berat*, ketahanan fisik perunggu yang baru, serta Dantian yang stabil di puncak tingkat tiga, ia siap menghadapi tantangan apa pun yang menunggunya.
Di sisi lain sekte, di dalam paviliun mewah yang dipenuhi kemarahan yang tertahan, meja kayu ulin berharga ribuan keping perak hancur berantakan menjadi serpihan.
Zhao Tian berdiri di tengah ruangan, napasnya sedikit tidak beraturan. Jubah merah marunnya memancarkan fluktuasi Qi tingkat tujuh yang menakutkan, membuat Mo Jue dan beberapa petinggi Fraksi Pedang Darah lainnya menundukkan kepala sangat dalam, tidak berani bernapas terlalu keras.
Li Kuang telah tewas. Jenderal garis depan terbaiknya dibunuh secara memalukan di depan ribuan mata, dipukul mundur oleh seorang pemula yang kultivasinya dua tingkat lebih rendah. Kehormatan fraksinya terkoyak habis.
"Tuan Muda," suara Mo Jue memecah kesunyian yang mencekik itu dengan sangat hati-hati. "Kita meremehkan bakat bertarung anak itu. Pukulannya memiliki kekuatan tembus yang mengabaikan pertahanan fisik. Menantangnya satu lawan satu di arena terbuka terbukti menjadi bumerang."
Zhao Tian memutar tubuhnya, menatap Mo Jue dengan mata semerah darah. "Lalu apa saranmu, Mo Jue? Membiarkannya berkeliaran sambil membawa gelar Iblis Pelataran Luar, sementara sisa murid di sekte ini mulai menertawakan ketidakmampuan Fraksi Pedang Darah?"
"Tentu tidak, Tuan Muda," jawab Mo Jue, mengeluarkan sebuah gulungan bambu berstempel emas dari balik jubahnya. "Tiga hari lagi, Tetua sekte akan membuka Hutan Ilusi untuk 'Perburuan Urat Nadi Roh' tahunan. Ini adalah acara wajib bagi seluruh murid tingkat tiga hingga tingkat enam. Hutan itu adalah ruang dimensi tertutup. Tidak ada tetua yang mengawasi di dalam sana. Hukum pembunuhan di dalam sana dihalalkan dengan dalih perebutan sumber daya."
Mata Zhao Tian menyipit tajam. Hutan Ilusi. Dimensi terpisah di mana ribuan murid luar akan dilemparkan untuk mencari tanaman obat langka dan batu urat roh. Di tempat seperti itu, mayat yang tertinggal akan menjadi pupuk tanah tanpa pernah ada yang menyelidiki penyebab kematiannya.
"Aku mengerti jalan pikiranmu," ucap Zhao Tian dingin, amarahnya perlahan digantikan oleh kalkulasi mematikan. "Dia sangat kuat dalam pertarungan jarak dekat. Akan tetapi, Hutan Ilusi adalah tempat yang membutuhkan kewaspadaan area dan kelangsungan hidup kelompok. Berapa banyak elit kita yang bisa masuk ke dalam sana?"
"Tiga puluh orang di tahap tingkat lima dan enam," jawab Mo Jue cepat. "Kita akan membentuk formasi jaring laba-laba. Aku sendiri yang akan memimpin kelompok pemburu. Tidak peduli seberapa kuat tubuh anak itu, dia tidak akan bisa bertahan dari serangan formasi tiga puluh orang praktisi kelas menengah."
Zhao Tian berjalan mendekati jendela paviliunnya, menatap ke arah gunung besar yang menjadi lokasi Hutan Ilusi. Senyum kejam perlahan terbentuk di wajah aristokratnya. Menghancurkan musuh dengan kekuatan absolut adalah prinsip utamanya. Jika panggung resmi menolaknya, ia akan mengubah hutan tersebut menjadi kuburan tanpa nisan.
"Lakukan," perintah Zhao Tian tanpa menoleh. "Bagikan ramuan peningkat Qi kepada seluruh elit yang berangkat. Siapkan racun pelumpuh indra. Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun. Bawa kepala Lin Chen kepadaku, atau jangan pernah kembali sama sekali."
Mo Jue membungkuk hormat. "Sesuai perintah Anda."
Sementara konspirasi besar itu mulai ditenun dalam kegelapan, Lin Chen yang baru saja kembali ke gubuknya sedang duduk tenang mengamati sebuah perkamen usang yang ia temukan dari rampasan Ma Kun di masa lalu. Perkamen itu berisi sedikit informasi mengenai letak tanaman roh kuno.
Ia mengambil Batu Roh Tingkat Menengah pertamanya, menggenggamnya erat, dan mulai menyerap energinya dengan perlahan, membiarkan aliran murni itu memelihara meridiannya yang baru saja diperlebar. Ia merasakan hawa badai mulai berkumpul di langit sekte luar. Ketimbang merasa cemas, darah di nadinya justru berdesir penuh antusiasme.
Dunia kultivasi tidak pernah memberikan jeda. Setelah memancangkan kekuatannya di arena, langkah berikutnya adalah memanen sumber daya dari tangan musuh-musuhnya. Hutan Ilusi akan segera dibuka. Bagi Lin Chen, tempat itu bukanlah arena ujian, melainkan lahan perburuan tanpa aturan di mana sang Iblis Pelataran Luar akan memamerkan taringnya yang sesungguhnya. Pembantaian besar baru saja bersiap di balik tirai.