NovelToon NovelToon
Dalam Dekapan Istri Muda

Dalam Dekapan Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ratu_halu

Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.

Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??

Happy Reading 💜
Enjoy 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Seseorang merangkul bahu Liz saat langkah Liz baru saja memasuki lobi.

"Liz, kamu di antar siapa tadi, mobilnya mewah banget."

Liz berusaha bersikap normal, dia tersenyum pada teman kantornya, Widi.

"Temen." Jawab Liz asal.

"Temen ? Nggak mungkin! Circle pertemanan kita itu sama, Liz. Kamu jangan bohong. Aku kan juga mau dong naik mobil yang seperti tadi. Eh, atau jangan-jangan kamu jadi sugar baby pejabat ya ?!"

Pletak!

Aw!

Widi mengaduh saat Liz menyentil keningnya, cukup keras.

"Otak mu ini ya nggak pernah berubah dari pertama kita kenal. Jangan sembarangan kalau bicara. Siapa juga yang mau jadi simpenan pejabat, duitnya aja di dapet dari pajak rakyat, udah jelas duit haram."

"Jaman sekarang jangan terlalu idealis, Liz. Realistis aja, kamu kan lagi butuh duit buat biaya operasi Ibumu."

"Sssttt...berisik!" Liz mengapit tangan Widi, menyuruhnya untuk segera berhenti bicara karena mereka sudah sampai didepan lift bersama karyawan lainnya.

Percakapan pun berakhir dan mereka masuk ke meja kerjanya masing-masing.

"Selamat pagi, Pak." Liz berdiri sambil menunduk hormat pada Revan yang baru saja sampai.

"Liz, persiapkan berkas untuk meeting hari ini." Kata Revan sebelum masuk ke dalam ruangannya.

"Baik, Pak." Jawab Liz sigap.

Liz membuka laptopnya, mengeprint lembar demi lembar bahan meeting hari ini. Setelah itu dia masuk ke ruangan Revan.

"Ini dokumen yang Bapak minta." Liz meletakkan stopmap folio polos diatas meja Revan.

"Terimakasih." Revan langsung memeriksa kertas-kertas yang terselip didalam map tersebut.

"Apa ada lagi, Pak ?" tanya Liz.

"Iya, ada." Jawab Revan sambil menyandarkan punggung di kursi kebesarannya.

"Padahal kamu belum resmi berhenti dari pekerjaan ini, tapi kamu sudah melupakan kebiasaan mu sebagai sekretarisku, Liz."

Raut Liz menunjukkan kebingungan,

"Hari ini untuk pertama kali nya kamu lupa menyiapkan kopi yang asapnya masih mengepul di atas meja kerja saya."

Mata Liz melebar, menatap sisi meja Revan yang kosong.

"Ma-maafkan saya, Pak. Saya tidak teliti." Liz menunduk dalam. Merasa bersalah.

Revan tersenyum getir. "Saya maafkan. Tolong buatkan kopi untuk saya sekarang karena kamu sudah tau kan kalau saya tidak bisa mulai bekerja jika tidak ada kopi buatan kamu."

Liz mengangguk cepat, "Baik, Pak. Saya buatkan kopinya sekarang. Permisi." Liz buru-buru keluar dari ruangan Revan sampai dia tidak menyadari ada makna tersirat dari kalimat panjang yang Revan katakan barusan.

Di pantry.

"Kenapa aku sampai lupa membuat kopi untuk Pak Revan. Ya ampun Liz, kenapa kamu ceroboh sekali." Batin Liz sambil menepuk-nepuk keningnya. Dia merasa tidak enak pada Revan. Pria itu pasti berpikir kalau Liz sengaja melakukan nya karena sebentar lagi sudah tidak bekerja sebagai sekretaris pribadinya lagi. Padahal Liz memang benar-benar lupa.

"Mbak, Liz. Kok bikin kopi jam segini ? Si Bos minta tambah ?" Seorang OB bernama Deri masuk ke pantry sambil membawa nampan kosong.

Liz tersenyum tipis, "Bukan. Tapi saya lupa bikin kopi untuk Pak Revan." Jawab Liz jujur.

Deri terdiam sejenak sambil menatap Liz tak percaya, sebab hampir semua tau bahwa selama Liz bekerja sebagai sekretaris pribadi Revan, tidak pernah sekalipun Liz melupakan tugas sederhananya setiap pagi.

"Mbak Liz nggak lagi sakit kan ?" tanya Deri

Liz menggeleng, "Memangnya kenapa ?"

"Nggak, cuma kaget aja Mbak Liz bisa lupa bikinin kopi buat Pak Revan."

"Namanya juga manusia, Der. Nggak luput dari khilaf dan salah. Hehe.." Jawab Liz sambil terkekeh.

"Yaudah. Saya duluan ya."

Deri mengangguk.

Jam makan siang.

Ponsel Liz berdering. Nama Yurike muncul di layar.

Liz 📞 Halo ?

Yurike 📞 Halo, Liz. Kamu sudah makan siang belum ? Aku ada di lobi kantormu. Kalau belum ayo makan siang bersama.

Liz tersenyum tipis,

Liz 📞 Belum. Kalau gitu aku turun sekarang, ya. Tunggu sebentar.

Telepon Liz matikan. Liz mengetuk pintu ruangan Revan, menyembulkan kepalanya sedikit. Jika sudah bukan jam kerja, Liz dan Revan akan mengesampingkan batasan profesional mereka.

"Pak, sudah jam istirahat." Ucap Liz,

Revan berdiri, "Kalau gitu ayo cari makan, disekitar sini saja."

"Maaf Pak, saya tidak bisa menemani bapak makan siang hari ini. Saya sudah ditunggu teman saya dilobi. Saya istirahat duluan ya, Pak. Permisi." Tanpa menunggu jawaban Revan, Liz langsung menutup kembali pintu ruangan itu, khawatir membuat Yurike menunggu lama.

Revan berdiri terpaku, merasakan kehampaan yang pelan-pelan memenuhi rongga dadanya.

Sesampainya di lobi, Liz melihat Yurike berdiri dekat meja resepsionis sambil melambaikan tangan ke arahnya. Setengah berlari Liz menghampiri Yurike.

"Kenapa nggak ngasih kabar kalau mau datang ?" tanya Liz

Yurike tersenyum lalu menggandeng tangan Liz keluar lobi.

"Ya gapapa, mumpung aku lagi senggang sekarang. em... Kita mau makan dimana ?"

"Kayanya di sekitar sini aja. Jalan ke depan situ ada warung ayam penyet yang murah dan enak." Liz menunjuk ke luar gedung tempat dimana warung yang dia sebutkan berada. Mereka berdua memang suka makanan pedas. Salah satu kesamaan itu juga yang membuat persahabatan mereka awet sampai detik ini.

Yurike tetap mengangguk setuju meskipun terkadang kata 'murah' yang hampir selalu diucapkan Liz terdengar seperti lelucon ditelinganya.

Sampai di warung sederhana itu, Liz dan Yurike duduk di kursi paling belakang karena kebetulan hanya meja itu yang masih kosong. Setelah itu merekapun memesan makanan untuk diri masing-masing.

"Gimana kerjaan hari ini ? Lancar ?" tanya Yurike membuka percakapan.

Liz mengangguk sambil menyedot es jeruk yang dia pesan. "Lancar, seperti biasanya." Jawab Liz setelahnya.

"Baguslah. Kamu memang selalu bisa di andalkan Liz. Bukan cuma bagi Pak Revan, tapi bagiku juga."

Yurike tau siapa Bos di kantor tempat Liz bekerja. Beberapa kali bertemu tanpa sengaja ketika Yurike menjemput Liz pulang kerja.

"Oh iya, Liz. Aku ingat kamu pernah cerita kalau Pak Revan yang sudah mengganti kamar rawat Ibu ke VIP."

"Iya. Benar."

"Baik sekali ya Bos mu itu. Tapi Liz, apa kamu tidak curiga, mungkin saja Pak Revan itu punya niat lain."

Liz mengerutkan dahi nya, "Maksudmu ?"

"No free lunch, Liz. Nggak ada makan siang yang gratis. Aku bisa tebak, pasti Pak Revan suka sama kamu."

Liz terkekeh hambar, "Ck! Kamu ini ngomong apa sih, Ri! Pak Revan itu baik sama semua bawahannya."

"Aku nggak yakin soal itu. Biaya perawatan kelas satu dirumah sakit swasta itu bisa satu sampai tiga juta loh perhari nya. Coba hitung, seminggu saja kalikan tiga juta, sudah berapa coba ?! Sedangkan Ibu sudah lebih dari seminggu dirawat."

Liz terdiam. Kali ini ekspresinya berubah kaku.

"Liz, kalau bener Pak Revan suka sama kamu, aku yakin setelah bercerai dengan suami ku nanti, Pak Revan masih mau menerima kamu, meskipun statusmu bukan perawan lagi, tapi sudah berubah menjadi JANDA,"

Degh.

Yurike mengulum bibirnya setelah mengatakan hal menyakitkan itu pada Liz. Bahkan seperti sengaja ditekankan diakhir kalimatnya.

Jadi ini alasan Yurike mengajak Liz bertemu. Untuk membicarakan lalu menertawakan nasibnya setelah statusnya berubah menjadi seorang janda.

Melihat ekspresi Yurike yang seolah mengejeknya, membuat hati Liz terasa sakit.

Liz sampai tidak bisa berkata-kata untuk sekedar membalas sakit hatinya, padahal biasanya dia selalu lantang membela diri.

Tiba-tiba saja makanan di depannya sudah tak menggugah selera lagi. Liz memundurkan piringnya, menjauh. Dia membuka sarung tangan plastiknya, meneguk sisa es jeruknya di gelas, kemudian berdiri.

"Aku duluan. Kalau sudah selesai kamu langsung pulang saja. Makanan ini nanti aku yang bayar. Permisi."

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
hadeh Yurike kudu diapain yaa 🤨 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh kasihan Liz KK 🙄 KK cantik kereen 😘 kereen 😘
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
asyik..asyik.. mereka mau bersatu ... 🫠 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
semoga mereka selalu bersama dan bersatu 🤲 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
nahloo Yurike...senjata makan tuan ...🙄 KK cantik mantaf 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍 kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
kasihan kau Liz 🥺 KK cantik kereen 😘 kereen 😘
Fitria Syafei
yang sabar yaa Liz 🥺 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh ngancem nya... jahat juga yaa ..kaya rentenir 😜 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
mungkin kah mereka bersatu 😔 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
hadeh Yurike Yee kalau ngomong nyakitin orang 😡 kk cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
aneh yaa mereka 🙄 KK cantik pinisirin 😘
Fitria Syafei
semangat KK cantik 😘 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh KK mungkinkah mereka bersatu 🙄 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😘 kereen 😘 terimakasih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!