Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi yang meledak
Lorong IGD rumah sakit swasta dipenuhi aroma antiseptik dan langkah kaki para perawat.
Meta terbaring di ranjang pasien. Gadis itu sudah jauh lebih baik. Dokter bahkan mengatakan ia diperbolehkan pulang begitu administrasi selesai.
Di samping ranjang berdiri ibunya yang sedari tadi mengomel karena proses administrasi dianggap terlalu lama.
Suasana berubah ketika langkah sepatu formal terdengar mendekat.
Zavian datang.
Tubuh tinggi pria itu langsung menarik perhatian beberapa perawat yang lewat. Jas hitamnya rapi, wajahnya dingin seperti biasa. Di belakangnya berjalan Clarinda dengan wajah malas.
Begitu melihat Zavian, senyum Meta langsung merekah.
“Pak Zavian,” sapanya pelan sambil berusaha duduk.
Zavian segera mengangkat tangan memberi isyarat.
“Sudah. Istirahat saja.”
Nada suaranya datar, tapi cukup membuat Meta menurut kembali berbaring.
“Oh iya Pak,” ucap Meta cepat sambil menoleh pada keluarganya. “Ini mama saya… dan ini kakak saya, Dara.”
Ibunya Meta langsung tersenyum lebar. Terlalu lebar malah.
“Aduh akhirnya ketemu juga sama kepala sekolah tampan,” katanya ramah. “Meta sering cerita.”
Sementara Dara, kakak perempuan Meta, yang sedari tadi duduk sambil memainkan ponsel berdiri mengulurkan tangan sopan.
“Halo Pak.”
Zavian membalas sekadarnya. “Halo.”
Ia seolah tidak tertarik dengan peremuan cantik di hadapannya itu.
Penampilannya Dara rapi dan elegan. Rambut panjang bergelombang, tas mahal menggantung di bahu. Makeup di wajahnya terlihat sempurna.
Tatapan ibunya Meta lalu berubah penuh minat.
“Ini putri saya Dara, masih single. Baru balik dari London. Udah selesai kuliahnya.”
Clarinda yang berdiri di belakang langsung mendelik kecil.
‘Yaelah… pake promosi.’
Zavian hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi lebih jauh.
“Syukurlah Meta sudah diperbolehkan pulang,” ucapnya formal. “Saya hanya ingin memastikan kondisinya baik.”
Sebenarnya Zavian tidak berniat lama-lama di sana. Kehadirannya murni karena tanggung jawab sebagai kepala sekolah.
Ia lalu menoleh pada Clarinda.
Hanya sebuah gerakan kecil dari kepalanya, tapi Clarinda paham maksudnya.
Minta maaf.
Clarinda masih enggan.
Males!
Tapi tatapan tajam Zavian membuatnya berubah.
“Iiihhhsss… iya iya iya,” gerutunya pelan.
Ia melangkah maju dengan wajah jutek setengah mati sampai berdiri tepat di depan ranjang Meta.
Tatapan penuh permusuhan tersirat diantara keduanya.
Clarinda menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
“Gue…” Ia menggertakkan gigi. “Minta maaf. Gue khilaf.”
Nada suaranya persis seperti ucapan Meta dan gengnya seolah mengejeknya. Jelas terdengar tidak tulus.
Meta tersenyum miring.
Namun sebelum Meta sempat menjawab—
“Oh jadi kamu yang buat anak saya hampir mati?!”
Suara keras ibunya Meta memecah ruangan.
Semua kepala menoleh.
Clarinda bahkan belum sempat bereaksi, lalu...
PLAK!!!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
Kepala Clarinda langsung tertoleh ke samping. Rambutnya berantakan sedikit.
Suasana IGD mendadak sunyi.
Seorang perawat yang lewat bahkan berhenti kaget.
Dara menutup mulutnya tak percaya.
Meta membelalak.
Ibunya emang rada galak.
Tapi tak menyangka melakukan itu didepan umum.
Perlahan Clarinda kembali menoleh. Pipi kirinya memerah.
Matanya berubah dingin.
Sangat dingin.
“Apa yang anda lakukan, Bu?”
Suara Zavian akhirnya terdengar.
Rendah.
Penuh tekanan.
Ibunya Meta malah semakin berapi-api.
“Gadis ini harus dikasih pelajaran Pak! Anak kurang ajar!”
PLAK!!!
“AWWW!”
Semua orang tersentak lagi.
Meta yang menjerit.
Tubuh gadis itu sampai miring ke kanan di atas ranjang setelah tamparan Clarinda mendarat telak di pipinya.
“Meta!” Dara langsung mendekat panik.
Sementara Clarinda berdiri dengan napas memburu dan mata merah karena emosi.
“Kurang ajar! Kau berani mukul putriku!” teriak ibunya Meta. "Saya nggak terima!"
Clarinda malah menyeringai sinis.
“Sama,” balasnya tajam. “Orang tua saya juga nggak terima ibu mukul saya!”
“Kau—! Anak nggak tahu sopan santun!”
“Anak ibu juga!”
“Clarinda!”
Suara Zavian terdengar seperti nada memperingatkan.
Namun gadis itu sudah benar-benar tersulut.
Ia melangkah maju berhadapan dengan ibunya Meta tanpa rasa takut dan menunjuk Meta.
“Bilangin sama anak ibu yang sok cantik itu,” katanya lantang. “Sekali lagi bikin gara-gara sama saya…”
Tatapannya tajam menusuk.
“…bukan rumah sakit lagi tempatnya. Saya antar langsung ke penjara!”
Semua terdiam.
Clarinda menoleh sekilas pada Zavian.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Mata gadis itu merah karena emosi yang meledak.
Clarinda pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
“Clarinda!” panggil Zavian.
Namun gadis itu tak peduli.
Langkahnya cepat menyusuri lorong rumah sakit.
Sementara di belakang, suara ibunya Meta masih terdengar mengomel panjang.
***
Rumah terasa aneh.
Sepi.
Sangat sepi.
Biasanya Clarinda akan ribut. Bernyanyi dengan suara keras meski nadanya lompat kesana dan kesini. Mengeluh lapar, mengejek Zavian, atau mengomeli hal random yang bahkan tidak penting.
Namun malam ini tidak.
Panggilan Pak Tua tidak terdengar sama sekali.
Keesokan paginya suasana tetap sama.
Clarinda memakai seragam sekolah rapi keluar dari kamar.
Zavian menuju ruang makan. Mereka berpapasan namun Clarinda tidak melihatnya.
Sengaja.
"Sarapan dulu," Zavian akhirnya mengalah.
"Aku sudah telat," jawab Clarinda singkat.
"Berapa bulan?"
Clarinda mendesis seperti ular. Ia memilih tidak meladeni candaan Zavian berjalan menuju pintu depan.
“Fokus belajar.”
Clarinda berhenti di depan pintu.
“Masalah ini biar aku yang urus.”
Suara Zavian tenang tapi meyakinkan.
Clarinda diam beberapa detik lalu pergi begitu saja.
Meskipun memiliki tujuan yang sama namun mereka berangkat sendiri-sendiri.
Clarinda dengan motornya sedangkan Zavian mengendarai mobilnya.
**
Masalah kemarin rupanya masih belum usai. ibu Meta datang ke sekolah bersama suaminya dan Dara. Wajah wanita itu penuh emosi sejak turun dari mobil.
Mereka langsung menuju ruang kepala sekolah.
Di dalam ruangan sudah ada Bu Rista selaku guru BK.
Zavian duduk di meja kerjanya memperhatikan para tamunya.
Clarinda sengaja tidak dipanggil.
Zavian tahu kalau dua gadis itu dipertemukan lagi sekarang, bukan solusi yang didapat. Tapi perang.
“Pokoknya saya mau tuntut gadis kurang ajar itu!” bentak ibu Meta. “Saya akan lapor polisi!”
Bu Rista berusaha menenangkan.
“Sabar dulu Mama Meta… kita selesaikan baik-baik.”
“Baik-baik bagaimana Bu? Putri saya dikasih kalajengking sampai masuk rumah sakit malah di depan mata saya dia berani memukul putri saya!”
Bu Rista menyela.
“Anak-anak sebentar lagi ujian. Dan saya rasa kasus ini tidak perlu sampai jalur hukum.”
“Lho tidak bisa begitu Bu!” suara ibu Meta meninggi lagi. “Murid semena-mena harus dikasih pelajaran. Sekarang Meta yang celaka, besok bisa murid lain!”
“Iya Mama Meta saya mengerti,” ucap Bu Rista sabar. “Tapi tidak ada asap kalau tidak ada api.”
Meta mulai gelisah.
“Clarinda murid berprestasi,” lanjut Bu Rista. “Dia juga tidak punya catatan buruk.”
“Lho ibu kok pilih kasih? Putri saya jelas terluka!” ibunya Meta berapi-api.
“Ibu membela murid bermasalah begitu?”
“Bukan begitu maksud saya. Clarinda dan Meta sama-sama anak kami. Tidak ada pilih kasih, kita sebagai pendidik dan orang tua di sekolah sayang pada anak-anak kami."
“Kami tidak berpihak pada siapapun Bu. Tapi setiap masalah pasti ada akarnya." Bu Rista dengan sabar mencoba meredam emosi keluarga Meta.
Zavian lalu memberi isyarat kecil pada Bu Rista.
Guru BK itu langsung mengangguk.
“Mari kita lihat sesuatu dulu.”
Lampu ruangan diredupkan.
Layar proyektor menyala.
Video CCTV parkiran sekolah mulai diputar.
Beberapa detik pertama biasa saja.
Lalu wajah Meta perlahan memucat.
Rekaman jelas memperlihatkan dirinya bersama gengnya mendatangi motor Clarinda.
Satu orang mengawasi keadaan sekitar.
Dua temannya jongkok mengempesi ban depan dan belakang.
Sementara Meta menggores bodi motor dengan cutter kemudian menendang motor itu sebelum meninggalkannya.
Mereka tertawa seolah puas melakukan hal tak terpuji itu.
Sangat jelas.
Tak bisa dibantah.
“META!!!"
Suara ayahnya terdengar berat penuh amarah.
Gadis itu langsung menunduk.
Ibunya Meta membeku.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"