Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Jam menunjukkan pukul 08.30 menit.
Arumi dan Bella mengantarkan jenazah kedua bayi itu ke pemakaman.
"Lailahailallah, lailahailallah," suara tahlil terdengar dikumandangkan saat masih di perjalanan menuju ke pemakaman.
Ada 2 keranda yang dibawa saat itu, alhasil pembawa keranda pun dibagi 2, karena memang ada 2 jasad yang akan di kebumikan.
Pagi itu, desa Dukuh Asem benar-benar diselimuti duka.
Semuanya tampak tak bicara selain mengumandangkan tahlil, sebab mereka menghormati para keluarga dari bayi yang ditinggalkan.
Sejak jenazah 2 bayi itu ditemukan, suasana desa begitu caos.
Semua orang tampak begitu sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk mengurus mayat, sebab memang mereka juga semuanya serba dibagi 2.
"Kak, ini tahlilannya nanti bagaimana ya, kan ada banyak," ucap Bella—tentu saja dengan berbisik, sehingga hanya mereka berdua saja yang mendengarnya.
"Nah, itulah aku juga bingung, ini kan 2 bayi yang sebelumnya juga masih harus tahlilan," jawab Arumi.
***Setelah sampai di pemakaman, kedua bayi itu diturunkan.
Liang lahat sudah disiapkan, dan proses pemakaman itu pun dimulai.
"Nek, yang sabar ya. Kita doakan saja, semoga cucu Nenek tenang di alam sana," ucap Arumi sambil memeluk Nek Minah, salah 1 Nenek yang ikut kehilangan cucunya, padahal cucunya itu sedang di fase yang begitu menggemaskan.
"Iya, Neng. Nenek tak menyangka, cucuku ikut meninggal juga," tangis Nek minah kembali pecah.
Perlahan, keranda salah 1 bayi itu dibuka, dan jenazah pun diturunkan ke dalam liang lahat.
Tangis para warga dan juga Nenek Minah mengiringi pemakaman tersebut.
Nek Minah hampir saja jatuh, namun berundtungnya Arumi dan Bella bisa menopang tubuh wanita tua itu.
"Yang tenang di sana, Nak, maafin Nenek yang nggak bisa jaga kamu," ucap Nek Minah.
Arumi juga ikut mendoakan cucu dari Nek Minah, agar ia tenang di alamnya.
Bunga-bunga ditaburkan di atas makam tersebut.
Setelah menguburkan jenazah cucu Nenek Minah, kini giliran bayi Pak Gugun yang akan dikuburkan.
Pak Gugun sudah bersiap masuk ke dalam liang lahat, menunggu bayinya diserahkan oleh warga lain yang ada di atas.
Usai dengan meletakan jasad sang anak dan melepas tali pocong, kuburan itu pun segera ditutup dengan tanah.
Bunga kembali diletakan di atas makam tersebut.
Arumi mengajak Nenek Minah untuk meninggalkan pemakaman tersebut.
Namun, Nek Minah tampak enggan untuk meninggalkan tempat peristirahatan terakhir cucunya tersebut.
"Ayo, Nek, kita pulang," ajak Bella.
"Enggak, Neng. Nenek mau di sini saja dulu, menemani cucu Nenek," jawab Nek Minah.
Cetar. Cetar.
Dua sambaran petir terdengar, membuat warga yang masih ada di sana merasa sedikit terkejut.
Seketika itu, suasana pemakaman tampak mencekam
Angin berhembus dengan kencang, menerbangkan apapun yang ada di sana.
"Ayo pulang, Nek. Bentar lagi hujan, biarkan cucu Nenek beristirahat," ucap Arumi.
"Iya, Neng," jawab Nek Minah sambil berdiri.
Arumi bernapas lega, untungnya Nek Minah mau untuk diajak pulang.
Arumi, Bella, dan Nek Minah berjalan meninggalkan pemakaman dengan langkah pelan penuh kesedihan.
Sesekali, suara petir 1 2 terdengar, menemani perjalanan mereka.
Langit berwarna hitam, pertanda hujan memang akan mengguyur bumi pertiwi.
Arumi mengantarkan Nek Minah ke rumahnya.
Sebenarnya itu akan sedikit lama, mengingat kedua gadis itu tak langsung pulang.
Namun, di sisi lain Arumi dan Bella juga merasa kasihan pada Nek Minah jika pulang seorang diri, apalagi wanita itu sudah kesulitan berjalan.
"Nah, ini sudah sampai, Nek. Kalau begitu, kami pamit dulu, ya," ucap Arumi saat mereka tiba di depan rumah panggung Nek Minah.
"Iya, Neng. Terima kasih, ya, karena kalian sudah mau mengantarkan Nenek tua ini," jawab Nek Minah.
"Sama-sama, Nek. Assalamualaikum," ucap Arumi dan Bella.
"Waalaikumsalam," jawab Nek Minah.
Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan, menyiram tanah subur desa Dukuh Asem.
Namun, saat Arumi dan Bella masih berjalan, tampaklah Bella yang terlihat lemas, seolah tak memiliki tenaga.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Bella.
"Aku laper banget, Kak, kan kita belum makan dari tadi," jawab Bella.
Arumi menepuk jidatnya.
Ia sampai lupa kalau mereka memang belum makan.
Kedua gadis itu memang sibuk, mereka juga sempat membantu para gadis sebaya mereka untuk mencari bahan-bahan untuk mengurus jenazah, seperti daun pandan dan lain-lain, jadi belum sempat sarapan sama sekali.
"Ya udah, ayo kita ke warung nasi uduk Bu Marni aja dulu, ya, deket juga itu," ucap Arumi.
"Iya, Kak," jawab Bella.
Untungnya, hujan saat itu belum terlalu deras, jadi mereka hanya kehujanan sedikit saja.
Entah mengapa, hari ini hujan datang di pagi hari.
Padahal, sekarang adalah waktunya untuk beraktifitas.
Sepertinya sang mentari sedang enggan untuk menyinari bumi dengan cahayanya, jadilah ia menyuruh hujan untuk menggantikan tugas tersebut sejenak.
Arumi dan Bella tiba di warung Bu Marni beberapa saat kemudian.
Warung itu tidaklah sepi, tapi juga tidaklah ramai.
Ada para pemuda dan beberapa gadis desa yang ada di sana.
Ada yang sedang memakan nasi uduk, ada juga yang hanya sedang meminum teh hangat sembari mengobrol dengan temannya.
Sebelum duduk di kursi warung, Arumi lebih dulu mengeringkan pakaiannya dengan tangan, agar tidak terlalu basah.
"Kalian berdua mau pesan apa, Neng?" tanya Bu Marni dengan ramah.
"Nasi uduk 2, ya, Bu. Sama tambahin gorengan bala-bala 4 biji. Minumnya teh anget aja," jawab Arumi.
"Oh, siap, Neng. Tunggu bentar ya," imbuh Ibu Marni sambil berlalu ke dalam warung.
"Ieu tah gorenganana, Neng, manga keur ngaganjel, meh teu lapar teuing," ucap Bu Marni, sambil membawakan bakwan yang tadi mereka pesan.
(Ini nih gorengannya, Neng. Silakan, untuk mengganjal, biar tidak terlalu lapar banget)
"Oh muhun, Bu, hatur nuhun," jawab Arumi.
(Oh iya, Bu, terima kasih)
Arumi dan Bella menyantap bakwan tersebut dengan lahap, karena mereka memang lapar.
"Tahu gitu tadi kita makan dulu, ya, Kak," ucap Bella.
"Nggak bakal keburu lah, Dek. Kita kan harus nyari jenazah tadi," jawab Arumi.
"Ya, iya sih," ucap Bella.
Wuuuuus.
Arumi terperanjat kaget saat ia melihat sekelebat bayangan wanita tanpa tubuh melewati warung tersebut.
Itu adalah kuyang. Wujudnya hanya sebuah kepala, dengan organ-organ yang terlihat terburai keluar.
Melihat penampakan itu, Arumi merasa sangat takut, karena memang wujudnya begitu mengerikan, dengan banyaknya darah yang menggenang.
Arumi berdiri dari duduknya karena merasa terkejut, namun tubuhnya tampak gemetaran.
"Kak, kamu kenapa sih?" tanya Bella, yang juga melihat kakaknya yang tampak gemetaran.
"A... aku nggak papa, Dek," jawab Arumi.
"Tenangkan dirimu, Arumi. Dia hanya lewat saja," bisik Nyai Sekar Arum.
"Serem banget, Nyi, aku nggak kuat lihat jeroannya itu," jawab Arumi.
Arumi berlari keluar warung.
Hueeek.
Gadis cantik itu memuntahkan isi perutmnya.
Rasanya ia begitu ngerri melihat jeroan dari kuyang itu yang terbuka.
Terlihat jelas di sana ada jantung, usus, dan hati.
"Ya Allah, Kak, kamu ini kenapa sampai muntah begini?" tanya Bella.
Bella agak panik juga melihat kakaknya yang seperti itu.
"Nanti aku ceritain ya, pas udah di rumah," jawab Arumi dengan lemas.
Dengan dibantu oleh Bella, Arumi kembali dipapah masuk ke dalam warung.
Bella menyodorkan segelas air hangat pada Arumi.
"Terima kasih, Dek," ucap Arumi setelah meminum air yang diberikan Bella.
***Tak lama berselang, Bu Marni menyajikan nasi uduk pesanan mereka.
"Silakan dimakan, Neng, kayaknya si Eneng Arumi lagi lemes ini," ucap Bu Marni.
"Iya, Bu. Nggak tahu itu dia entah kenapa," jawab Bella.
Arumi berusaha makan dengan baik, meskipun gadis itu masih merasa takut dengan kuyang yang tadi ia lihat.
***
Halo, para pembaca semuaa.
Makasih banyak udah mau baca ceritaku ini, yang mungkin terkesan biasa bagi kalian.
Dan author juga mau minta maaf dulu, nih, kalau cerita ini kerasa ngebosenin, karena nggak sama kayak cerita lain, yang ada ilustrasi gambarnya.
Contohnya kayak tokohnya lagi ngapain, gitu, itu ada gambar fiswalnya dia lagi ngapain.
Jadi gini, alasan aku nggak bisa pakai ilustrasi itu karena ini.
Jadi, aku itu seorang tunanetra, guys.
Buat yang nggak tahu tunanetra, tunanetra itu sebutan medis bagi para orang buta.
Yaaa, aku nggak bisa lihat, alias buta kalau kata orang.
Terus, kalau Kak Lili nggak bisa lihat, gimana dong cara main HP-nya? Gimana cara ngetiknya.
Atau jangan-jangan, di ketikin orang lain ya?
Nah, jawabannya enggak ya, guys.
Lagian, kayaknya orang juga nggak akan segitu baiknya deh, sampai mau ngetikkin capek-capek 1000 kata tanpa dibayar, hahaha wkwk.
Jadi, aku itu pakai fitur aksesibilitas, yang di semua HP juga ada pengaturan aksesibilitasnya di setelan.
Nah, dengan fitur ini, membuat apapun yang aku sentuh di HP ini, bisa dibacakan dalam berupa suara.
Buat yang penasaran cara kerjanya, cari aja deh di youtube atau di google, ya, soalnya takut kepanjangan ini, bahaya nanti, hihihi.
Balik lagi ke soal ilustrasi.
Sebenarnya, aku ini pakai HP full sendiri.
Dan aku juga bisa tahu gambar yang dikirim orang itu gambar apa, aku bisa tahu, karena emang ada sih cara dan aplikasinya.
Tapi, masalahnya, nggak semua aplikasi ramah untuk para tunanetra.
Bahkan di aplikasi noveltoon ini, cuma 80% tombol yang bisa dibacakan oleh pembaca layar.
Sisanya, Cuma tombol yang entah tombol apa itu.
Oleh karena itu, untuk menambahkan gambar sebagai ilustrasi juga susah banget huhu.
Ini bagi aku ya, bagi kalian sih gampang emang.
Padahal, aku sendiri itu bisa sih nyari gambar ilustrasi dari google, tapi masukin ke aplikasinya itu loh yang susah, minta digetuk emang ini, eh maksudnya digetok, hihihi.
Cuma ya udahlah ya, walaupun nggak ada ilustrasinya, semoga aja kalian tetep bisa menikmati cerita ini.
Dan maaf juga kalau cerita ini kurang bagus, karena aku juga masih pemula.
Doakan semoga aku lebih semangat update.
Aku nyeritain ini bukan karena pengen dapet rasa kasihan dari kalian, ini emang aku pengen cerita aja, biar kalian tahu alasan aku kenapa nggak pakai ilustrasi.
Aku ini orangnya emang agak suka bercanda, jadi ya gini deh.
Mungkin di next novel, aku bisa mengisahkan tentang bagaimana tunanetra menjalani hidup, seperti main handphone dan lain-lain.
Tentu aja beda sama yang kayak di TV yang sedih dan dikit-dikit tendang gelas dan piring itu, ya, guys, hahaha wkwk.
Oke, bye, guys, selamat malam.