Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Tik... Tok... Tik... Tok...
Suara detik jam begitu menguasai ruangan yang terdengar ditelingaku, aku pun mulai memperhatikan sekelilingku dan yang aku dapati adalah...
“Ini mah kamarku...” gumamku kecewa, aku kira aku akan masuk ke isekai di mana aku menjadi raja atau semacamnya seperti di manga, anime atau novel – novel.
“Jadi cuma mimpi ya... tapi ada yang aneh...” gumamku lagi sambil terus memperhatikan tata letak kamarku.
Seragam sekolah yang biasa aku gantung dekat pintu telah hilang, beberapa buku yang aku letakkan di rak buku mendadak hilang, manga yang aku baru baca setengahnya juga hilang di atas meja belajar dekat laptop, terlebih... ponsel yang ada di sebelah kasur, itu bukannya model yang aku beli ketika lulus SMP? Ke mana ponsel keluaran terbaruku...?!!
Aku bergeser sedikit dari dudukku untuk meraih ponsel itu, kembali aku dikejutkan karena ponsel yang seharusnya sudah retak di mana – mana pada layarnya kembali menjadi seperti ponsel baru tanpa goresan sedikit pun, padahal umur ponsel ini sudah lebih dari tiga tahun. Ketika layar aku hidupkan, aku semakin dibuat bingung karena tanggal dan tahun tertera pada layar adalah tiga tahun lalu.
“I... ini... beneran?” gumamku, aku benar – benar bingung dengan apa yang aku lihat.
Harusnya beberapa tahun telah berlalu sejak ingatan ini aku dapatkan, rasanya sulit untuk dipercaya. Tanggal di ponselku tertera persis seperti saat aku baru masuk SMA dulu, tahun baru dan ajaran baru sebagai siswa SMA.
“Tenang dulu, aku harus pikirkan ini tanpa kepanikan apa pun. Kembali ke masa lalu itu sangat mustahil, ini bukan manga, anime ataupun sebuah kisah novel” ucapku berusaha menenangkan diri
Meski begitu aku sangat yakin aku sudah melalui masa tiga tahun SMA ku dengan sadar dan itu bukan sekedar mimpi belaka, aku masih bisa mengingat semua manga, anime maupun novel yang telah aku baca selama tiga tahun itu. Meski begitu, aku kehilangan ingatan tentang wajah teman – temanku. Tapi itu tidak mengherankanku, aku ini seorang serigala penyendiri.
Aku beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi, di sana aku menatap cermin dan aku benar – benar menjadi lebih muda saat ini. Aku semakin bingung dan semakin yakin kalau selama ini masa tiga tahun SMA-ku adalah sebuah mimpi, aku menepuk kedua pipi sambil memastikan jika pantulan dicermin itu benar – benar wajahku yang kembali muda.
“Kenapa kak?” tanya seseorang dari dekat pintu kamar mandi, aku segera menoleh untuk menatap sumber suara.
“Ngaca mulu dah, berapa lama pun ngaca juga gak bakal kakak jadi ganteng” sindir Vanya padaku, dia adik perempuanku...
“Eeh Vanya... tunggu kamu...” agak bergumam aku mengatakannya.... aku terkejut ketika melihat adikku ini...
Memang adikku terlihat semakin muda dan dia seharusnya kelas dua SMP saat ini, jadi begitu ya... aku hampir lupa bagaimana wajah Vanya saat dia masih kelas dua SMP, dia akan terlihat sangat cantik tiga tahun kemudian ketika menjadi anak SMA...
“Tu... tunggu... kenapa kakak nangis?!!” serunya panik, aku tidak sadar meneteskan air mata ketika menatapnya terus menerus..
“Sial, saat aku mengingat masa depan Vanya aku jadi gak kuasa menahan air mata” timpalku sambil menyeka air mata di pipi
“Gak kuasa apa?!! Jangan buat Vanya bingung!! Kakak ini kenapa tiba – tiba nangis gitu?!! Apa karena kakak benci MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah)?!!” semakin panik Vanya mengatakannya, aku hanya tertawa geli sendiri karena ingatan ini hanya aku yang tahu.
“Kamu akan jadi gadis cantik tiga tahun lagi, hidupmu juga baik – baik saja sampai SMA...” agak bergumam aku mengucapkannya dan aku tersadar dari rasa haru ketika mendengar Vanya menyebut MPLS
“Hah? MPLS?!!” seruku bertanya pada Vanya, dengan tangan diletakkan di pinggang terlihat songong Vanya menatapku.
“Iya kan, kemarin kakak bilang mau dapatin pacar di MPLS kan. Apa sudah lupa ucapan sendiri? Kayak kakek – kakek aja!” jawabnya ketus, aku kaget mendengar seberapa noraknya aku tiga tahun lalu.
“Tu.. tunggu!! Aku benar segila itu tiga tahun lalu?!! Orang gila mana bisa dapet pacar di hari pertama masuk sekolah?!! Paling masuk akal cuma punya teman banyak di awal masuk kan?!!” timpalku panik dan malu, aku tidak menyangka bisa punya pemikiran senorak itu.
“Gimana sih?!! Kemarin kayaknya pede banget bilang bakal dapat pacar di MPLS, sekarang bilang itu pemikiran gila!!” bentak Vanya terdengar kesal, aku pun menggelengkan kepalaku beberapa kali dengan tertawa kecil.
Yah aku juga heran kenapa aku bisa se-pede itu mengatakan hal memalukan di depan Vanya, aku akui itu karena aku sangat bersemangat menyambut masa remaja tapi setelah melewatinya selama tiga tahun lamanya sekarang aku merasa aku sangat norak.
“Dari tadi kakak bilang tiga tahun lalu mulu, emang kenapa sama tiga tahun lalu?” tanya Vanya dengan heran, aku pun menatapnya dengan raut wajah meyakinkan agar dia tidak bertanya lebih tentang aku yang kembali ke masa lalu karena aku pun tidak bisa menjelaskan kenapa.
“Bukan apa – apa, mungkin aku memang sedikit gila” jawabku dengan nada tenang, datar, dan mencoba meyakinkan sebisa mungkin namun yang ada malah membuat Vanya kesal.
“Apa pun asal jangan jadi gila beneran!!!” bentaknya, aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan sikap cool supaya Vanya tidak semakin khawatir.
“Tiba – tiba sampai nangis looo!! Kakak sebenarnya kenapa?!!” bentaknya lagi, aku tersenyum tenang sambil mengatakan...
“Tidak apa, aku baik – baik saja” jawabku sambil terus berjalan menuju kamar.
Dengan langkah mantap aku berjalan menuju kamar lalu membuka lemari pakaian, di sana aku mendapati seragam yang terlihat masih baru dan bau toko ‘Sial, aku benar – benar kembali ke masa MPLS!’ ucapku dalam hati, kemudian aku mencari tas sekolah dan di sana aku mendapati sebuah kertas di mana itu adalah pengumuman tentang tata cara dan apa saja yang harus dilakukan dimasa MPLS.
“Sepertinya aku benar – benar harus mengulangi masa SMA-ku yang buruk itu...” keluhku sambil terus aku tatap kertas itu
Tidak, aku tidak bisa menerima kenyataan ini tapi aku harus melangkah maju, jadi setelah bersiap aku menuju meja makan untuk sarapan. Di sana aku bertemu ayah, ibu dan Vanya yang semuanya terlihat kembali muda. Sambil sarapan aku membayangkan ayah akan mengatakan... ‘Ayah sedang membuat program untuk berjalan sepuluh ribu langkah’
“Ayah sedang membuat program untuk berjalan sepuluh ribu langkah loh” ucap ayah, sama persis dengan tiga tahun lalu.
“Ooh” aku dan Vanya memberi respons yang sama, Vanya merespons karena tidak percaya ayah akan melakukannya sedangkan aku tahu itu hanya akan bertahan selama tiga hari.
Setelah sarapan aku segera berangkat sekolah dan jika memang aku kembali ke masa lalu maka aku akan melihat pemandangan yang sama seperti tiga tahun lalu, kan? Ingatanku tiga tahun lalu memang samar – samar tapi aku ingat beberapa detail, bersamaan dengan itu aku melihat beberapa siswa – siswi yang menuju ke SMA-ku. Aku sedikit melamun sampai detik ini...
Semua orang terlihat mengecil, yaah sekarang saja aku tidak merasa sebagai siswa baru. Aku masih terbiasa menjadi siswa kelas tiga dan bersamaan dengan pemikiran itu, aku melihat satu detail kecil, aku menatap ke bawah tepat setelah aku menatap gedung sekolah.
“Yak... itu dia e'ek kucing yang sudah terinjak. Padahal sudah mengulang tapi tetap aja e'ek itu sudah terinjak, apa dia gak pernah belajar dari pengalaman? Kasihan amat” gumamku, tidak lama aku meyakini sesuatu yang penting dan terjadi pada hidupku
“Hah?!! Ini benar – benar ingatanku tiga tahun lalu!! Terdengar seperti karakter MC ketika dia sadar telah kembali ke masa lalu, tapi kenapa aku cuma ingat bagian e'ek kucing yang terinjak saja!!” ucapku panik, aku semakin yakin kalau aku sudah diseret kembali ke tiga tahun lalu.
Aku sangat ingat di pagi hari ketika berjalan menuju sekolah, aku melihat ada tumpukan e'ek kucing yang terinjak di dekat jalan menuju SMA-ku!! Lagian, dari semua ingatan, kenapa aku malah yakin cuma gara – gara e'ek kucing yang terinjak ini?!! kalau benar aku punya ingatan ini, maka aku benar – benar terseret ke masa lalu kan?! Tapi kenapa harus e'ek kucing yang aku jadikan alasan verifikasi kebenaran ini sih?!
Aku sudah tidak paham lagi...
Di dalam kelas, satu per satu siswa – siswi memperkenalkan diri mereka masing – masing....
“Namaku Reza dari SMP xxx dan aku senang berkenalan dengan kalian, ditambah tadi aku menginjak kotoran kucing saat perjalanan kesini. Jadi tolong hibur aku dong” ucap Reza teman sekelasku, seketika kelas tertawa bersama namun tidak denganku.
Aku berpikir ternyata yang menginjak e'ek kucing itu teman sekelasku toh dan kalau tidak salah ingat memang dulu ada yang memperkenalkan dirinya dengan kalimat seperti itu, entah apa responsku ketika itu namun saat ini rasanya aku sulit untuk ikut tertawa. Lebih dari itu aku kagum sama orang – orang ekstrovert, hal sial dan memalukan seperti itu saja bisa jadi candaan ya.
Kalau itu aku sih, aku pasti mati – matian membersihkannya dulu sebelum masuk ke kelas agar tidak mengganggu orang. Karena aku sudah bisa membayangkan akan bagaimana jadinya kalau sampai ada yang menyadari aku menginjak e'ek kucing itu, aku pasti akan gemetaran dan tidak berani untuk berkata jujur kalau akulah yang membawa bau itu ke dalam kelas.
“Oke berikutnya” celetuk pak guru di depan kelas, aku pun berdiri dan bersiap untuk memperkenalkan diri.
Saat berdiri aku berkata ‘Aku datang dari tiga tahun mendatang’ Ahaha... tidak, aku tidak akan berkata hal aneh seperti itu, jadi aku memperkenalkan diriku biasa – biasa saja. Lagian, kalaupun aku katakan itu pasti tidak akan ada yang percaya. Aku malah akan dianggap sebagai orang aneh. Alasan kenapa aku diseret kembali ke tiga tahun lalu juga masih menjadi misteri, sampai saat ini pun aku bingung apa yang harus aku lakukan. Hal terbaik yang aku pikirkan dan harus aku lakukan saat ini hanyalah berhati – hati dengan kecelakaan lalu lintas.
Setelah semua memperkenalkan diri....
“Baiklah, hati – hati di perjalanan pulang nanti ya” ucap pak Guru, serentak siswa – siswi berkata ‘Baik pak!’ kecuali aku.
Serempak setelahnya mereka mulai saling mencari kelompok mereka masing – masing, berkenalan lebih dekat satu sama lain. Aaah... yah mereka benar – benar tampak masih muda, mereka harus buru – buru mencari teman dan memperkuat hubungan agar semakin solid menghadapi kerasnya kehidupan masa SMA. Dulu aku seperti kalian, tapi aku menderita kekalahan yang memalukan.
Aku bukannya punya gangguan cara berkomunikasi, aku paham bagaimana cara bersosialisasi yang baik dan benar, tapi aku kesulitan mengikuti alur pembicaraan kalau aku merasa tidak cocok dengan mereka. Aku jadi teringat dulu ketika aku tidak bisa membuat suatu hubungan pertemanan, dengan yakinnya aku menjadi seorang penyendiri pada hari golden week seperti ini.
Aku bukannya tidak berupaya kok, aku sudah berusaha maksimal tapi ujung – ujungnya aku tetap masih sendiri. Aku rasa ini adalah minggu tragis dalam kehidupan seorang serigala penyendiri, memutuskan untuk mencari kelompok lalu terbuang begitu saja. Contohnya cowok yang sedang mengobrol di sebelah kananku itu, dia pasti dulu pernah berpikir ‘Oh dia yang dulu pernah mencoba berteman denganku, tapi kami sudah tidak pernah mengobrol lagi’ gawat kan kalau itu kembali terjadi dimasa sekarang.
Jadi sekarang akan berbeda!!
Karena aku sudah pernah merasakan jadi murid SMA, maka levelku sudah tidak setara dengan para bidak seperti kalian. Aku akan menghadapi tiga tahun masa SMA yang telah aku ulang ini dengan berkaca dari pengalamanku dulu dan pelajaran terbesar pastinya adalah aku tidak cocok dengan hubungan interpersonal, dengan kata lain hal terbaik yang harus aku lakukan sekarang ada menyerah lalu pulang.
Aku berdiri dari tempat dudukku lalu segera keluar dari kelas, dan keahlian meninggalkan kelas ketika MPLS sudah selesai seperti ini adalah keahlian di luar jangkauan murid baru, karena aku yang dulu ketika itu malah duduk di bangku sampai satu per satu siswa pulang.
“Tunggu” terdengar suara cewek ketika aku baru saja menginjakkan kaki keluar kelas, tapi aku abaikan saja.
Akan sangat memalukan kalau aku sampai salah sangka lalu membalik badan untuk menatap cewek yang mengatakan 'Tunggu' itu, aku tidak akan melakukan kesalahan pemula seperti itu. Ooh... siapa pun yang bisa menyeretku kembali ke masa lalu, pujilah pertumbuhan mentalku yang luar biasa ini ketika menghadapi MPLS.
“Tunggu!!!” teriaknya lagi dan dia pun menarik tasku dengan cukup kuat sampai aku tidak bisa melangkah lagi
“Kenapa kamu mengabaikanku?!!!” bentaknya lagi, aku terpaksa berbalik untuk menatap siapa yang memanggilku.
“Ternyata benar” ucapnya saat aku membalik badan dan menatap cewek di depanku ini, matanya terlihat berkaca dengan raut wajah haru, senang, dan apalah itu aku tidak cukup mengerti ekspresi apa yang dia tunjukkan padaku ketika aku menatapnya.