NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Sejak malam itu, suasana rumah terasa… berbeda.

Tidak ada yang benar-benar berubah secara terlihat. Aku tetap bangun pagi, membersihkan rumah, dan menghindari masalah sebisa mungkin. Celine tetap dengan dunianya yang penuh kemewahan, dan ibu tiriku tetap memainkan perannya dengan sempurna di depan ayah.

Namun ada satu hal yang tidak bisa kuabaikan—

Aku mulai diperhatikan.

Bukan dalam arti hangat.

Lebih seperti… diawasi.

“Alina, jangan lupa pakai baju yang rapi hari ini.”

Aku menoleh, sedikit terkejut. Ibu tiriku berdiri di depan kamar, menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

“Iya, Bu…” jawabku pelan.

“Dan jangan terlihat murung. Tidak enak dilihat,” tambahnya.

Aku hanya mengangguk.

Aneh.

Biasanya, penampilanku tidak pernah menjadi hal penting bagi mereka.

Tapi sekarang…

Seolah-olah aku sedang dipersiapkan untuk sesuatu.

Siang harinya, rumah kami kedatangan tamu.

Aku berdiri di dapur, memegang nampan berisi minuman. Tanganku sedikit gemetar, meskipun aku tidak tahu kenapa.

Dari balik pintu, aku bisa mendengar suara percakapan di ruang tamu.

Suara ayah.

Suara ibu tiriku.

Dan satu suara pria yang asing—tenang, dalam, dan terdengar… berkelas.

“Itu pasti orang yang semalam ayah katakan…” bisikku dalam hati.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Hari ini?

Secepat ini?

“Alina, cepat ke sini!”

Aku tersentak mendengar panggilan ibu tiriku.

“Iya, Bu…”

Aku menarik napas dalam, lalu melangkah keluar membawa nampan.

Begitu masuk ke ruang tamu, langkahku sedikit terhenti.

Di sana duduk seorang pria.

Penampilannya rapi, wajahnya tampan dengan garis tegas, dan aura yang ia bawa… berbeda. Tatapannya tajam, seolah menilai segala sesuatu dengan cepat.

Nathaniel Santoso.

Aku langsung tahu—tanpa perlu diperkenalkan.

“Ini Alina,” kata ayah singkat.

Aku menunduk sedikit. “Selamat siang…”

“Hmm,” pria itu hanya mengangguk pelan.

Tatapannya sempat bertemu denganku beberapa detik.

Singkat.

Namun cukup untuk membuatku merasa kecil.

Aku meletakkan minuman di meja satu per satu, berusaha tidak melakukan kesalahan.

Namun saat aku hendak berbalik—

“Sebentar.”

Suara itu menghentikanku.

Aku menoleh.

Nathaniel menatapku, sedikit menyipitkan mata.

“Dia… anak yang mana?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak hening.

Aku menahan napas.

Ayah belum sempat menjawab, tapi Celine sudah lebih dulu bergerak.

Dengan langkah anggun, ia mendekat dan duduk di samping Nathaniel.

“Aku Celine,” katanya dengan senyum manis. “Anak pertama.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku.

Sesak.

Padahal aku tahu… ini akan terjadi.

Tatapan Nathaniel langsung berubah.

Lebih tertarik.

“Oh?” katanya singkat.

Celine tertawa kecil. “Kalau dia…” ia melirik ke arahku sekilas, “adikku.”

Hanya itu.

Adik.

Bukan nama.

Bukan siapa aku.

Aku menunduk, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang muncul.

Namun saat aku hendak pergi—

“Aku ingin bicara lebih jauh,” kata Nathaniel.

Aku berhenti lagi.

“Dengan Celine,” lanjutnya tanpa ragu.

Seperti palu yang jatuh tepat di hatiku.

Selesai.

Harapan itu… selesai.

Aku tidak menunggu lebih lama. Aku langsung kembali ke dapur, menahan langkah agar tidak terlihat terburu-buru.

Begitu pergi dari pandangan mereka, aku meletakkan nampan di meja dengan pelan.

Tanganku gemetar.

Aku menggenggamnya erat, mencoba menenangkan diri.

“Ya sudah…” bisikku pelan.

Aku sudah tahu dari awal.

Aku sudah seharusnya tidak berharap.

Namun tetap saja…

Sakit.

Sore itu, keputusan diumumkan.

Aku berdiri di ruang keluarga, sama seperti beberapa hari lalu. Bedanya, kali ini tidak ada harapan yang tersisa.

“Papa sudah memutuskan,” kata ayah tegas.

Aku menatap lantai.

Tidak perlu mendengar pun, aku sudah tahu jawabannya.

“Celine yang akan melanjutkan perjodohan ini.”

Sunyi.

Aku mengangguk pelan.

“Iya, Yah…”

Suara itu keluar begitu saja.

Tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Di sampingku, Celine tersenyum puas.

“Terima kasih, Pa,” katanya manja.

Ibu tiriku juga terlihat lega.

Tentu saja.

Ini yang mereka inginkan.

Ayah menatapku sekilas.

“Hari ini juga ada satu hal lagi,” katanya.

Aku mengangkat sedikit kepalaku.

Satu hal lagi?

“Sebagai bentuk balasan… keluarga itu juga menawarkan satu perjodohan lain.”

Aku mengerutkan kening.

“Apa maksudnya, Yah?”

Ayah tidak langsung menjawab.

Tatapannya… aneh.

Seperti ragu, tapi tetap memaksakan.

“Untukmu, Alina.”

Aku membeku.

Untukku?

Jantungku kembali berdetak cepat.

Bukan karena harapan—

Tapi karena firasat buruk.

“Pria itu…” ayah berhenti sejenak, “berasal dari keluarga yang tidak kalah terpandang.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Menunggu.

“Namun,” lanjutnya pelan, “kondisinya… tidak sempurna.”

Aku menggenggam rokku erat.

Tidak sempurna?

“Dia… lumpuh.”

Dunia terasa berhenti.

Aku tidak tahu berapa lama aku diam.

Satu detik.

Atau mungkin lebih.

“Papa sudah setuju,” lanjut ayah tanpa memberiku waktu. “Pernikahan akan segera diatur.”

Aku mengangkat kepalaku perlahan.

Menatapnya.

Mencari sesuatu—

Penjelasan.

Penolakan.

Atau… sedikit saja kepedulian.

“Tapi… Yah—”

“Ini keputusan terbaik,” potongnya tegas.

Selesai.

Tidak ada ruang untuk bicara.

Tidak ada ruang untuk menolak.

Aku tersenyum kecil.

Entah kenapa.

Mungkin karena aku sudah terlalu lelah untuk menangis.

“Iya, Yah…”

Suara itu terdengar asing.

Seolah bukan milikku.

Di sudut mataku, aku bisa melihat senyum tipis di wajah Celine.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti—

Aku tidak hanya kehilangan kesempatan.

Aku… tidak dipedulikan.

Pintu kamarku tertutup rapat.

Aku berdiri di tengah ruangan, masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Kata-kata ayah terus terngiang di kepalaku, berulang-ulang, seolah tidak ingin pergi.

“Dia… lumpuh.”

“Papa sudah setuju.”

Aku tertawa kecil.

Pelan.

Hampa.

Jadi ini balasannya?

Untuk apa aku bertahan selama ini… kalau akhirnya tetap seperti ini?

Tok!

Pintu kamarku tiba-tiba terbuka tanpa aba-aba.

Aku tersentak dan langsung menoleh.

Celine. 

Tanpa izin. Tanpa mengetuk dengan benar. Ia masuk begitu saja, seperti kamar ini juga miliknya.

Seperti biasa.

“Astaga… kamu di sini ternyata,” katanya sambil melangkah masuk, matanya menyapu seluruh kamar dengan ekspresi meremehkan.

Aku tidak menjawab.

Tidak ingin.

“Aku kira kamu bakal nangis kejar-kejaran sama Papa,” lanjutnya sambil terkekeh kecil.

Aku menarik napas pelan, berusaha tetap tenang. “Ada apa?”

Celine mengangkat alis, seolah pertanyaanku itu lucu.

“Ada apa?” ulangnya. “Aku cuma penasaran aja.”

Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depanku.

“Sebenarnya rasanya gimana sih… dapat suami lumpuh?”

Dadaku terasa sesak.

Tapi aku menahan diri.

“Kalau tidak ada yang penting, keluar,” kataku pelan.

Alih-alih tersinggung, Celine justru tersenyum lebih lebar.

“Wah… berani juga sekarang,” katanya. “Tapi ya wajar sih. Mungkin kamu lagi berusaha kuat.”

Ia memiringkan kepala, menatapku dari atas ke bawah.

“Tapi tetap saja… kasihan.”

Tanganku mengepal tanpa sadar.

“Aku nggak kebayang,” lanjutnya santai, “kamu harus ngurus orang yang bahkan nggak bisa jalan sendiri.”

Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti sengaja diarahkan untuk melukai.

Dan ia berhasil.

“Capek banget nggak sih hidup kamu?” katanya lagi, pura-pura prihatin. “Dari dulu udah jadi pembantu di rumah sendiri… sekarang lanjut jadi perawat suami lumpuh.”

Aku menunduk sedikit.

Bukan karena kalah.

Tapi karena aku tahu… kalau aku menatapnya sekarang, aku mungkin tidak bisa menahan emosiku.

“Aku sih nggak akan kuat,” tambahnya. “Untung aja aku yang dipilih Nathaniel.”

Ia tersenyum bangga.

“Bayangin, hidup mewah, suami kaya, semua orang iri…” Ia berhenti sejenak, lalu menatapku tajam. “Beda jauh ya sama kamu.”

Sunyi.

Beberapa detik yang terasa lama.

Aku mengangkat kepalaku perlahan.

Menatapnya.

Untuk pertama kalinya tanpa menghindar.

“Kalau kamu cuma mau bilang itu,” kataku pelan, “kamu sudah selesai?”

Celine sedikit terkejut.

Mungkin tidak menyangka aku akan menjawab.

Namun ekspresinya cepat kembali seperti semula—meremehkan.

“Belum,” katanya singkat.

Ia melangkah lebih dekat.

“Tahu nggak kenapa semua ini bisa terjadi?”

Aku diam.

“Karena kamu lemah, Alina,” bisiknya pelan, tapi tajam. “Kamu selalu diam. Selalu nerima. Jadi ya… orang lain bebas ngambil apa aja dari kamu.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang sebelumnya.

Bukan karena kasar.

Tapi karena… ada bagian dari diriku yang tahu itu benar.

Celine tersenyum puas melihat reaksiku.

“Oh ya,” katanya seolah baru ingat. “Jangan lupa ya… nanti kalau suamimu butuh apa-apa, kamu harus siap.”

Ia menepuk pelan pundakku.

“Namanya juga istri.”

Aku menepis tangannya pelan.

Refleks.

Tanpa berpikir.

Celine langsung menarik tangannya, sedikit terkejut.

“Jangan sentuh aku,” kataku lirih.

Ruangan mendadak sunyi.

Untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap.

Lalu—

Celine tertawa kecil.

“Menarik,” katanya. “Akhirnya kamu punya sedikit… keberanian.”

Ia mundur selangkah, lalu berbalik menuju pintu.

“Tapi sayangnya,” lanjutnya tanpa menoleh, “itu nggak akan mengubah apa-apa.”

Tangannya menyentuh gagang pintu.

“Kamu tetap di posisi kamu.”

Ia membuka pintu.

“Dan aku… tetap di atas.”

Pintu tertutup.

Meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.

Aku berdiri di tempatku.

Diam.

Beberapa detik.

Beberapa menit.

Aku tidak tahu.

Tanganku masih gemetar.

Napas terasa berat.

Perlahan, aku berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepinya.

Pandangan mataku kosong.

Kata-kata Celine terus berputar di kepalaku.

“Kamu lemah.”

“Orang lain bebas ngambil apa aja dari kamu.”

Aku menggenggam sprei di bawahku.

Erat.

Apa benar… selama ini aku hanya diam?

Apa benar… aku membiarkan semua ini terjadi?

Air mataku jatuh.

Satu.

Lalu yang lain menyusul.

Aku menunduk, menutup wajahku dengan kedua tangan.

Tangis itu akhirnya keluar—

Pelan.

Tertahan.

Seperti luka lama yang akhirnya terbuka lagi.

“Ibu… aku mau ketemu sama ibu..” bisikku lirih di sela tangis.

Aku lelah.

Benar-benar lelah.

Namun di balik semua rasa sakit itu…

Untuk pertama kalinya, muncul sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya sedih.

Bukan hanya kecewa.

Tapi juga—

Keinginan.

Keinginan untuk tidak selalu menjadi orang yang sama.

Aku mengangkat wajahku perlahan.

Air mata masih mengalir, tapi tatapanku mulai berubah.

Kalau aku terus diam…

Semuanya akan tetap seperti ini.

Dan entah kenapa—

Untuk pertama kalinya dalam hidupku,

Aku tidak ingin itu terjadi lagi.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!