Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Pertemuan dua keluarga akhirnya terjadi.
Clarinda, Ramdan dan Fenita serta sang adik kecil Kaivan memenuhi undangan Damar Hardinata datang ke kediamannya.
Dimata Fenita kediaman keluarga Hardinata ini sepuluh kali lebih besar dibanding rumahnya.
Orang tua Clarinda sangat antusias mereka senang bukan main. Bagaimana tidak, sebentar lagi putrinya menjadi anggota keluarga Hardinata.
Pertemuan ini hanya dihadiri keluarga inti saja. Damar Hardinata orang dikeluarga Hardinata yang paling senang atas kedatangan keluarga kecil itu.
Cucunya sebentar lagi memiliki pendamping.
Pilihannya.
Bukan tanpa maksud Damar memaksa Zavian menikah. Disamping usianya yang sudah matang pria itu adalah pilihan Damar dari sekian cucu yang dia punya.
Meskipun Zavian blangsak di luar sana tapi di mata Damar, cucu bungsunya itu jujur, apa adanya, tidak serakah. Baginya Zavian orang yang tepat sebagai penerus kepemimpinan.
"Clea senyum dong," Fenita menoel lengan sang putri.
Mana bisa senyum, dari kemarin Clarinda murung. Bayangan dirinya dinikahkan dengan lelaki tua brewokan membuat nya ilfil.
Clarinda tidak memperhatikan orang-orang disekitarnya. Dia tertunduk lesu. Meskipun begitu gadis belia ini masih terlihat sangat manis, cantik dan imut karena Fenita mendadani nya sedemikian rupa.
"Apa kabar mu Nak," suara Damar begitu lembut namun hanya dibalas jawaban lirih oleh Clarinda.
"Baik..."
"Clea..." Fenita kembali menoel lengan putrinya. Clarinda tidak menunjukkan sikap yang sopan. Ia tak mau meninggalkan kesan buruk di keluarga Hardinata.
"Clarinda Arabella, namamu cantik seperti orangnya," Damar kembali bersuara.
Merasa namanya disebut Clarinda mendongak.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Dan akhirnya—
"Masih ingat dengan ku anak manis?"
Mata Clarinda melebar lalu reflek berdiri.
"KAKEK?!"
"Kau kakek kakek yang nyungsep dari becak itu kan?"
Ruangan megah itu seketika hening.
Ucapan spontan Clarinda barusan membuat semua orang membeku beberapa detik. Bahkan Fenita yang sejak tadi berusaha menjaga citra keluarga, langsung menegang seperti patung hidup.
Suara Clarinda menggema cukup keras untuk ukuran ruang tamu yang luas itu.
Damar Hardinata justru tertawa pelan. Matanya berbinar hangat, sama seperti saat pertama kali bertemu gadis itu.
"Syukurlah kamu tidak melupakanku," ujarnya santai, seolah tak ada yang aneh.
*Liburan semester berapa minggu lalu.
Clarinda bersama dua sahabatnya memanfaatkan momen liburan pergi ke kota sebelah. Mengunjungi tempat rekreasi lokal dan menginap di hotel.
Suatu pagi Clarinda, Meta dan Lia mencoba joging track di area wisata itu.
"Huh... Huh... Huh..." Nafas ketiga gadis itu ngos ngisan setelah sepuluh menit joging.
Sesampainya dijalan menanjak mereka berhenti.
"Ayo balapan..." Tantang Clarinda.
"Gila Lo, Cle"
"Males!"
Meta dan Lia kompak menolak.
"Yang menang aku traktir makan steak plus minum apa aja sepuasnya."
Mendengar itu kedua teman Clarinda bersemangat kembali. Tergiur.
Namun tiba-tiba—
"Kalian awas minggir....." Teriakan lelaki dari atas jalan membuat mereka terbelalak.
Becak dengan penumpang lelaki sepuh sedang meluncur bebas dari atas.
Huaaaahhhhh.....!!!!
Entahlah hari itu Clarinda sok menjadi pahlawan kepagian. Ia mencoba menahan becak yang semakin dekat kearahnya.
Pikirannya cuma satu. Memastikan lelaki sepuh itu tidak terjungkal. Namun—
BRAK!
Tetap saja penumpang diatas becak itu terjatuh. Becak dan pengendaranya terguling kesamping.
"Aduuuuuh...." Rintih Clarinda. "Bangun Kek... Beraaat."
Syukurlah lelaki itu tidak terluka justru Clarinda yang encok. Punggungnya menjadi bantalan sehingga kepala lelaki sepuh itu tak terluka. Tangan dan siku Clarinda sedikit lecet karena goresan paving.
*Kembali ke ruang pertemuan keluarga Hardinata.
"Aku senang kau akan segera jadi cucu mantuku."
Clarinda berdiri kaku. Jantungnya berdebar tak karuan. Dunia ini terasa terlalu sempit.
Dari sekian banyak orang di dunia…
Kenapa harus dia?!
"Jangan-jangan Kakek yang merancang semua ini ya?"
Damar tersenyum. "Tentu."
"Omegat omegat omegat," Clarinda menepuk jidatnya.
"Anggap saja sebagai balas budi."
"Tau begini aku biarkan saja Kakek glundung."
Fenita dan Ramdan hampir pingsan di tempat.
"Clea!" bisik Fenita panik. "Jaga bicaramu!"
Ramdan langsung berdehem keras mencoba mencairkan suasana. "Maaf Tuan Damar. Anak ini memang sedikit… spontan. Tapi hatinya baik."
"Baik sekali malah," sahut Damar sambil tersenyum lebar. "Kalau bukan karena dia, mungkin kepala saya sudah pecah waktu itu."
Clarinda langsung mengerucutkan bibirnya.
Iya sih, tapi yang encok itu aku… batinnya meronta.
"Jadi… Tuan Damar dan Clea sudah saling kenal rupanya," ujar Ramdan mencoba masuk ke inti pembicaraan.
Pantas saja Damar Hardinata ngotot memilih Clarinda. Ramdan sempat berpikir yang tidak-tidak ketika utusan keluarga Hardinata menyampaikan pesan meminta putrinya menjadi calon mantu keluarga terpandang itu. Tapi karena nama besar Hardinata kedua orang tua Clarinda langsung menyetujui, apalagi mereka terdesak waktu segera berangkat ke Jerman.
"Belum sepenuhnya," jawab Damar. "Tapi saya sudah mengenal sifat cucu mantu saya ini dari bagaimana dia menolong orang asing tanpa berpikir panjang."
"Senyum dong dikit, Clea…" bisik Fenita.
Dengan terpaksa Clarinda menarik sudut bibirnya. Senyum yang lebih mirip orang menahan sakit gigi. "Kakek terlalu memuji."
"Bagus," gumam Fenita puas.
Padahal di dalam hati, Clarinda ingin menjerit.
"Maaf harus menunggu" suara Damar kembali terdengar, "cucu saya belum turun. Mungkin masih bersiap."
DEG.
Jantung Clarinda kembali berdegup lebih cepat.
Cucu… berarti calon suamiku…
Bayangan lelaki tua, brewokan, berwajah sangar, dan mungkin perut buncit langsung memenuhi kepalanya.
Ia menelan ludah.
"Ma… batalin aja ya. Yuk pulang yuk," bisiknya cepat pada Fenita.
"TIDAK," jawab Fenita tegas tanpa melihatnya.
"Pura-pura pingsan aja deh."
"Clarinda!"
Clarinda langsung diam.
Tak lama kemudian…
Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Tap… tap… tap…
Semua mata otomatis menoleh ke arah tangga besar di sisi ruangan.
Dan saat sosok itu muncul—
Waktu seperti berhenti.
Clarinda yang awalnya malas melihat, perlahan mengangkat wajahnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Matanya membulat sempurna.
Bukan bapak-bapak.
Bukan om-om.
Bahkan…
Bukan seperti bayangannya sama sekali.
Seorang pria tinggi dengan kemeja hitam rapi berjalan turun dengan santai. Rambutnya sedikit berantakan tapi justru menambah aura maskulin. Wajahnya… terlalu tampan untuk ukuran manusia normal.
Tatapannya tajam, dingin, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menarik.
Clarinda refleks menelan ludah.
Oke… aku tarik semua hinaan di kepalaku tadi. Batin Clarinda.
Pria itu berhenti di anak tangga terakhir.
"Maaf lama," ucapnya datar.
Suara itu dalam… dan bikin jantung Clarinda salah ritme.
"Itu cucu saya," ujar Damar bangga. "Zavian Hardinata."
DEG!
Nama calon suaminya...
Zavian Hardinata… laki-laki 35 tahun…
Ia menatap lagi.
Lalu mengerjap.
Tunggu… ini 35 tahun?!
"35 tahun dari mana?! Ini maksimal 28!" batinnya teriak. Secercah cahaya muncul.
Seolah membaca pikirannya, Zavian melirik sekilas ke arah Clarinda.
Tatapan mereka bertemu.
Dan anehnya—
Clarinda langsung menunduk cepat.
'Panas… kenapa panas banget sih mukaku…' Clarinda salah tingkah.
Zavian berjalan mendekat.
Langkahnya tenang, percaya diri, tanpa usaha berlebihan.
Ia berhenti tepat di depan keluarga Clarinda.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"