NovelToon NovelToon
Misteri Hantu Penculik Bayi

Misteri Hantu Penculik Bayi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin / Hantu / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lili Aksara 04

Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.

Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.

Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.

Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.

Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.

Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.

Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.

Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.

Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Aku habis mimpi buruk, Dek, sumpah suaranya serem banget," ucap Arumi.

"Udah, Kak, jangan di inget-inget terus. Tidur aja lagi, ya," kata Bella berusaha menenangkan.

"Iya, aku coba tidur lagi deh," jawab Arumi.

Arumi kembali tidur, tetapi kata-kata dari wanita di mimpinya terus terngiang di kepala gadis itu.

"Apa yang di maksud sama wanita itu ya, kok dia bilang Ibu udah ngehancurin hidup dia?" batin Arumi.

Perlahan, Arumi kembali memejamkan matanya.

***Kicau burung terdengar, mengisi udara pagi hari yang terasa sepi.

Arumi bangun lebih dulu daripada adiknya.

Ia menatap langit-langit kamarnya sejenak, berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih ada setengah.

Sebenarnya, Arumi masih ingin tertidur.

Namun bagaimana lagi, sebab ia pun harus membantu bapak dan ibunya untuk mengawasi para pekerja di kebun.

Saat ini, umur Arumi adalah 19 tahun.

Gadis itu sudah tak bersekolah lagi memang, karena ia sudah lulus.

Awalnya, bapak dan ibunya menyuruh Arumi untuk berkuliah ke kota.

Namun, Arumi menolak, karena ia tidak memiliki keinginan untuk berkuliah.

Paling, Arumi sekarang mengajar anak-anak di desanya untuk mengaji, dan ia diberikan upah oleh orang tua anak-anak itu.

Arumi mengguncangkan tubuh Bella yang masih belum membuka matanya.

Adiknya itu masih berusia 16 tahun, jadi ia harus sekolah.

"Bangun,Dek, sekolah, nanti telat," ucap Arumi.

Bella menggeliat, tapi ia masih belum kunjung bangun.

"Bellaaaa, cepet bangun, woi!" teriak Arumi dengan keras, karena Bella tak kunjung menjawab, dan masih setia memakai selimut.

Bella langsung terkejut, ia langsung spontan membuka matanya.

"Aduuuh, apaan sih kamu itu, Kak, aku kan masih ngantuk," ucap Bella kesal.

"Bangun, heh, kamu mau telat ke sekolah?" tanya Arumi.

"Iya-iya, Kak, aku udah bangun ini," jawab Bella.

Arumi beranjak bangkit, gadis yang memiliki rambut sebahu itu melangkahkan kakinya menuju dapur.

***Di dapur, ia melihat Bi Surti—yang merupakan pembantunya, sedang berkutat mengupasi sayuran.

"Pagi, Bi, wah masak apa nih?" tanya Arumi.

"Pagi, Non, ini Bibi teh mau masak sayur bayam," jawab Bi Surti.

"Jangan lupa pake bakso, ya, Bi, itu kan kesukaan si Bella," ucap Arumi.

"Hehehe, siap, Non," jawab Bi Surti.

Bella itu memang paling dekat sama kakaknya, ia juga manja sekali pada Arumi.

Mungkin karena mereka hanya 2 bersaudara, jadilah mereka sedekat itu.

***Tiga puluh menit berlalu.

Mereka sudah berkumpul di meja makan, setelah sebelumnya mandi terlebih dahulu.

Nyai Sawitri sudah rapi dengan memakai kebaya Sunda berwarna merah, dan rambutnya yang memakai konde.

Sementara, Pak Broto juga memakai baju yang bagus sama seperti sang istri.

Penampilan orang tua itu modis sekali memang, berbeda dengan Arumi dan Bella yang lebih suka berpenampilan sederhana.

"Neng Arumi, kamu tolong awasin para pekerja kita, ya," ucap Pak Broto.

"Apa Bapak sama Ibu nggak ikut?" tanya Arumi.

"Enggak, Neng, kami harus pergi ke desa sebelah untuk pembagian sembako," jawab Pak Broto.

"Oh, ya sudah kalau begitu, Pak," Arumi mengangguk mengerti.

"Kamu nggak usah pergi ke sawah, Neng Arumi, cukup awasi saja pekerja di kebun," ucap Nyai Sawitri memberitahu.

"Siap, Bu," jawab Arumi sedikit senang.

Pasalnya, Arumi memang lebih suka pergi ke kebun daripada ke sawah.

Keluarganya memang memiliki sawah dan kebun yang banyak.

Jadi, biasanya Arumi ditugaskan untuk mengawasi para pekerja.

Sebenarnya, para pekerja itu lebih senang apabila Arumilah yang mengawasi mereka.

Karena Arumi dan Bella adalah anak-anak yang sopan dan baik hati.

Sementara itu, Pak Broto dan Nyai Sawitri cendrung lebih menunjukan sikap tegas dan tidak ramah.

Ekspresi wajah mereka juga datar dan tidak banyak bicara.

Arumi menghabiskan makanannya dengan tenang, walaupun didalam pikirannya begitu berkecamuk.

"Apa aku tanyakan aja sama Ibu tentang wanita itu, ya? Tapi, kan itu juga cuma mimpi, terus aku juga nggak lihat wajah wanita itu," batin Arumi.

Wanita yang ada dalam mimpi Arumi itu memang tidak menunjukan wajahnya, yang Arumi dengar hanyalah suara tanpa wujud.

"Kamu kenapa, Arumi, sepertinya wajahmu gelisah," ucap Nyai Sawitri.

Sontak, Arumi sedikit terlonjak dengan pertanyaan ibunya itu.

"Eh, aku nggak apa-apa, Bu," jawab Arumi.

"Yakin? Kalau ada apa-apa, ceritakan saja," ucap Nyai Sawitri.

"Iya, aku beneran nggak papa, Bu," jawab Arumi.

***Keluarga itu sudah menyelesaikan sarapan pagi mereka.

Arumi segera bersiap-siap dengan tas di tangannya.

"Bapak, Ibu, Kak Arumi, aku pamit ya," ucap Bella sambil menyalami tangan mereka satu-persatu.

Begitupun juga Arumi, ia juga menyalami kedua orang tuanya.

"Iya, hati-hati ya kalian," ujar Nyai Sawitri.

"Assalamualaikum!" seru kedua gadis itu.

"Waalaikumsalam," jawab Pak Broto dan Nyai Sawitri bersamaan.

"Ayo, Pak, kita harus ketemu Mbah Sukirman buat bahas soal arwahnya Susi itu," ucap Nyai Sawitri setelah kedua putrinya itu pergi.

"Iya, Bu, ayo," jawab Pak Broto.

***Sementara itu, Arumi dan Bella berpisah di persimpangan jalan.

Arumi melanjutkan langkahnya ke perkebunan.

"Kok pagi ini agak beda, ya, kayak lebih sepi," batin Arumi.

Sebab, biasanya suasana desanya tak sesepi ini.

Arumi menatap langit yang tampak menggelap.

"Apa mau hujan, ya, kok gelap banget? Tapi, ini kayak bukan mendung, deh, desa ini kayak diselimuti sesuatu," gumam Arumi.

***Arumi tiba di perkebunan.

Gadis itu menyapa para pekerjanya dengan ramah.

"Selamat pagi, bapak-bapak," ucapnya.

"Selamat pagi juga, Neng Arumi," jawab mereka semua.

"Oh ya, ini kira-kira ada yang bisa saya bantu atau tidak?" tanya Arumi.

"Eh, tekengeng atuh, Neng, ke mereun kotor," ucap salah satu bapak-bapak.

(Eh, janganlah, Neng, nanti pasti kotor)

"Ah, teu nanaon, Mang. Abiteh bosen, jadi hoyong mantuan," jawab Arumi.

(Ah, nggak apa-apa, Mang. Saya bosan, jadi pengen bantuin)

"Nya entos atuh, itu we Eneng mah masukeun cau anu nggeus asak jang di jual," ucap Bapak itu.

(Ya sudahlah, Eneng masukan saja pisang yang udah matang buat dijual)

"Oh muhun, siap Mang," jawab Arumi sambil beranjak menuju pisang yang berada di dalam gubuk.

(Oh iya, siap Mang)

Arumi melihat pisang itu memang sudah matang, telah siap untuk dijual.

Arumi mengambil beberapa plastik besar, lalu mulai memasukan pisang-pisang itu ke dalamnya.

Wuss!

Gerakan tangan Arumi terhenti kala matanya tak sengaja tertuju pada sebuah pohon.

Di antara pepohonan, Arumi melihat bayangan seseorang yang bergerak dengan cepat.

"Eh, itu orang apa bukan, ya? Tapi, masa secepet itu sih," batin Arumi.

Namun, Arumi tak memikirkan hal itu lebih lanjut.

***Hari telah beranjak sore ketika Arumi pulang dari kebun.

Ia berjalan dengan santai, menikmati udara sore hari.

Saat di persimpangan jalan yang menuju ke rumahnya, Arumi melihat seorang nenek-nenek membawa sayuran di tangannya.

Arumi belum pernah melihat nenek itu sebelumnya.

Seingatnya, nenek itu bukanlah salah satu warga di desanya.

Namun, karena penasaran, akhirnya Arumi menghampiri nenek tua itu.

"Assalamualaikum, Nek," ucap Arumi.

"Anak baik, kamu mau kemana?" tanya Nenek itu—tanpa menjawab salam Arumi.

"Saya mau pulang ke rumah, Nenek," jawabnya.

"Maaf, kalau boleh tahu, Nenek ini dari mana, dan sekarang mau ke mana?" tanya Arumi.

"Aku ini dari desa sebelah, Nak, desa yang tak akan kamu tahu. Tunggulah saatnya, ya, kamu pasti akan bisa ke tempatku," Nenek itu tersenyum lebar.

Namun, senyum itu terlihat aneh, karena senyuman itu terlihat begitu lebar.

"Maksud Nenek..."

Arumi menghentikan ucapannya, kala melihat nenek itu sudah tidak ada.

"Ke mana nenek itu, bukannya tadi dia masih ada di situ," batin Arumi.

Arumi menatap kiri kanan, masih mencari keberadaan nenek yang tadi mengobrol dengannya.

Karena sudah merasa takut, akhirnya Arumi segera berlari ke rumahnya.

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ayoo cari tahu alasannya arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
dahar heula,, lapar aing eui😄
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
mangan saetik😄
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kayak disirep ya ini, buat orangnya jadi lupa ingatan beberapa saat
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor, yang paling kusukai dari novel ini adalah gaya penceritaan nya, pemilihan kata yang sederhana dan bahasa sehari-hari.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
pake istilah yang kekinian, cetaaaakkkkk
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
😄 aku suka sama istilah kamu Thor, ilmu melipat bumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
aduh, ya iya ada dong,, kayak kita Mauk ke dalam dunia cermin, nah dalam kamuflase cermin itu ada pantulan matahari juga, gitu kan yaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
emang iyaa dengan meditasi bisa fokus, trus fikiran tentang hantu akan hilang
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
di Sumatera istilah begu juga ada dipakai, begu artinya setan di salah satu daerah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ini tahapan-tahapan bersemedi yah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kayaknya meditasi kalau di dalam gua cocok bagi yang perlu liburan weekend kelar mumet kerjaan numpuk yaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
berat kalau jalani tirakat yaaa, tapi nanti semua keinginan sikabulin begitu kah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
tenaga dalamnya terkuras ya Arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
terima kasih sudah menyajikan cerita horor atau misteri dengan sederhana. Saya jadi tak parno membacanya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor tahu gak, kamu membuat sebuah cerita misteri jadi terkesan dialog sehari-hari antar sesama manusia, padahal mah setan dan cs semua tokoh-tokoh pembantunya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kenapa gak beli aja Arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
oh ini toh kujang
Lili Aksara
Nah guys, sekarang saya udah tahu ya caranya nambahin ilustrasi ke dalam bab, jadi mungkin sedikit saya akan masukan ilustrasi supaya nggak terlalu ngebosenin.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
emang tubuh yang sudah ditakdirkan dirasuki leluhur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!