[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kesepakatan dalam Isak
Pagi yang cerah di San Diego tak secerah suasana hatinya. Langkah yang berat untuk meninggalkan apartemennya. Di depan lobi, terparkir mobil sedan hitam mewah yang menantinya. Yuda berdiri tegak di samping pintu mobil itu. Mata laki-laki itu seperti mengatakan keputusan yang ia setujui tidak bisa di batalkan.
"Masuk, Elleta! Kita tidak punya banyak waktu, sebentar lagi pesawat kita take off," ucap Yuda, mata itu menyorotkan perintah yang tidak bisa di bantah.
Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menatap bangunan apartemen untuk terakhir kalinya. Ada rasa berat hati, momen yang indah ia menyimpan banyak perjalanan dari kebebasannya selama enam tahun terakhir.
"Ayo, El. Tunggu apalagi, cepat masuk." Ia menarik napasnya perlahan, lalu mengikuti papanya menyusul masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan menuju Bandara Internasional Los Angeles, dia hanya bisa menatap kosong ke jendela. Pikirannya terasa masih tertinggal di apartemennya. Mungkin ia harus terbiasa untuk tidak menyeduh kopi buatan Daniel di pagi hari. Semua rencana dan mimpi-mimpi yang ia bangun dengan laki-laki itu yang jauh di California, sekarang hanya akan tinggal kenangan.
Kakinya menginjak lantai bandara. Selesai melakukan cek-in hingga prosedur imigrasi yang melelahkan. Ia duduk kursi first class pesawat, papanya duduk tepat di sebelahnya. Majalah bisnis di pangkuannya, kacamata yang sudah bertengger di hidung.
Ponselnya yang bergetar hebat, membuat dirinya bisa terkena serangan jantung. Itu panggilan dari Daniel. Rasa ingin mengangkat teleponnya, lirikan mata Yuda menghentikannya. Elleta dengan cepat menggeser tombol merah. Ia tahu kalau dirinya mengangkat panggilan telepon itu namanya cari mati. Elleta tidak boleh egois. Ini demi keamanan laki-laki itu.
Yuda yang melihat putri langsung mematikan panggilan telepon itu, tersenyum senang. "Bagus, El. Sekarang kamu tahu posisimu."
Yuda memperbaiki posisi duduknya, melipat majalah bisnis itu tanpa menimbulkan suara. Dari tatapan matanya saja sudah mengatakan untuk jangan bermacam-macam, Elleta hanya bisa menunduk menahan air matanya jatuh.
"Laki-laki itu tidak bisa menjamin hidupmu, apalagi menjamin keluarga kita. Menangislah sepuasmu, sebelum roda pesawat ini mendarat ke Jakarta. Dan ingat, saat tiba nanti. Kamu tetap mengikuti aturan papa tanpa bantahan, atau laki-laki miskin California itu papa lenyapkan." Ancaman itu lagi, Elleta muak mendengarnya. Ia tak menjawab ucapan itu, memegang ponselnya dengan erat, melampiaskan hatinya yang ingin berteriak. Hanya isakan kecil untuk meredahkan amarahnya yang siap meledak.
...***...
Tak terasa lima belas jam perjalanan, ia sudah sampai di Jakarta. Kota kelahirannya tidak pernah ia rindukan. Matanya tidak bisa terpejam, suara berisik di kepalanya, mengusik ketenangannya. Di mana bayang-bayang Daniel kebingungan mencarinya.
Roda pesawat itu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Elleta di sadarkan oleh realita. Udah yang lembab Jakarta menyambutnya, saat ia turun dari pesawat.
Di are ruang tunggu, pertama kali yang dia lihat. Mamanya, Rena Crassia. Wanita yang tangguh, wanita yang melahirkannya ke dunia ini. Menunggunya dengan raut wajah yang penuh kerinduan yang dalam, baju dress krem dan syal sutra yang melingkar di lehernya sangat anggun di matanya. Dia samping Mamanya, dia Dania Dira Crassia. Sepupunya sekaligus sahabatnya sejak kecil.
"Elleta!" panggil Rena, berlari berhambur memeluk Elleta erat. Ia membalas pelukan mamanya tak kalah erat. Jujur, ia rindu dengan aroma tubuhnya. Dia menyembunyikan wajahnya di balik bahu Rena. Sisi rapuhnya akhirnya runtuh.
"Elleta, kangen banget sama mama. Maaf, ma. Elleta selalu enggak mau pulang. Tapi kenapa pulangnya, Elleta. Dengan cara kayak gini?" bisik Elleta parau, suaranya terendam riuh ricuhnya bandara.
"Sabar, El. Maaf, mama enggak bisa bantu kamu. Tahu sendiri sifat papamu enggak bisa di bantah," bisik Rena pelan sambil mengelus punggung putrinya, memberi dukungan emosi karena merasa bersalah tidak bisa membela putrinya di hadapan suaminya.
Setelah pelukan itu terlepas, Elleta menatap sosok di samping mamanya. Dania membalas dengan senyuman lebar khasnya. "Ya ampun, El! Ini kamu? Gila, cantik banget. Udah cocok jadi bule di California," puji Dania riang, mencoba mencairkan suasana yang tegang sambil memutar tubuh Elleta gemas.
Elleta membalas dengan senyuman tipis. "Bisa aja kamu. Dan. Kamu juga makin cantik tahu."
Yuda yang melihat memandangan di depannya, mencoba menghentikannya. "Sudah, kangen-kangenannya. Lanjut di rumah aja," potong Yuda tegas.
Mobil sedan hitam mewah itu meluncur bebas membelah kemacetan kota Jakarta. Memasuki kawasan elite di Jakarta Selatan. Suasana yang ia benci saat mobil sedan hitam itu, masuk ke dalam gerbang yang terbuka lebar.
Elleta terdiam sejenak, ia lupa rumah megah ini penuh pilar-pilar tinggi, taman yang tertata rapi. Semuanya masih terekam di kepalanya.
Penjara berkedok rumah," batin Elleta miris.
Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di depan terasnya. Elleta turun langsung tanpa menunggu dibukakan pintu. Ia melenggang pergi masuk ke dalam rumahnya, mengabaikan deretan lukisan mahal yang memancarkan aura keangkuhan papanya.
"Elleta! Papa belum selesai bicara," panggil Yuda dari arah belakang tubuhnya. Ia tetap jalan menaiki tangga tanpa memperdulikan teriakan papanya.
Sampai di depan pintu kamarnya, helaan napas untuk mulai membuka kamarnya. Satu-satunya tempat yang aman dan menenangkan. Pintu terbuka, aroma vanilla bercampur jasmine menyambutnya datang. Kamar yang bernuansa hijau soft yang terlihat masih sama sejak enam tahun terakhir ia meninggalkan kamarnya.
Dari arah pintu sosok asisten rumah tangga mengetuk pintu dengan sopan. "Permisi, Non. Saya izin taruh koper-kopernya. Ini di taruh di mana?"
"Taruh di sana aja, bi. Makasih ya," jawab Elleta datar, menunjuk ke arah pojok kamarnya sambil mendudukan dirinya di tepi ranjang.
Saat asisten rumah tangga itu keluar dan menutup pintunya kembali. Kesunyian itu kembali menyerangnya. Ia masih merasa asing di rumahnya sendiri. Hingga pikirannya tertuju pada ponselnya. Dengan gerakan satset, ia menyalahkan ponselnya. Elleta menepuk dahinya, puluhan notifikasi panggilan telepon dari Daniel yang membanjiri layar ponselnya.
Ia langsung memencet tombol panggilan ulang. Hanya menunggu beberapa detik, nada sambung itu terhubung.
"El! Kamu di mana? Kenapa kamu enggak bisa di hubungi. Aku khawatir, apartemenmu kosong. Kamu enggak ada, jadi kamu di mana?" Daniel yang panik, penuh pertanyaan yang beruntun dan napas yang memburu.
Elleta yang mendengar kekhawatiran laki-laki di seberang telepon. Malah air matanya yang menetes saru persatu tanpa permisi. Ia meremas seprai ranjangnya dengan erat. Menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar. "Kak Daniel, maaf."
"Ya, udah. Kamu di mana sekarang? Aku nyusul kamu sekarang, tapi kamu baik-baik aja, kan?" desak Daniel, napas laki-laki itu terdengar sedikit stabil.
Elleta menarik napas perlahan, mencoba menstabilkan suaranya sekuat tenaga. "Aku butuh waktu sendiri, kak."
"Ya, di mana El? Aku udah keliling ke semua tempat yang biasa kita kunjungi. Kenapa panggilan aku tadi kamu tolak, tolong jangan kayak gini. Kalau ada apa-apa cerita sama aku, kamu tahu, aku kayak orang gila cariin kamu, El." Daniel terlihat sedikit menaikkan nada bicaranya. Elleta merasa bersalah membuat laki-laki itu dilanda kepanikan.
"El! Jawab! Kamu di mana? Jangan diem aja, aku khawatir kamu kenapa-kenapa? Jangan kayak anak kecil, El. Kita bersama selama 6 tahun. Jadi kalau ada masalah berbagi sama aku." Daniel di seberang telepon merasakan frustasi. Suaranya begitu menuntut penjelasan.
"Enggak! Aku cuman butuh waktu sendiri aja," jawab Elleta ketus langsung mematikan telepon sepihak.
"El, tunggu..."
Panggilan itu terputus, Elleta menghela napas perlahan-lahan. Ada perasaan lega di hatinya, matahari berwarna jingga malu-malu menyapa kamarnya.
Elleta tahu yang sebenarnya baru saja di mulai. Entah badai apa yang menghantamnya nanti, ia bertekad akan menghadapi dengan kekuatan dan keberaniannya.