Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran Dan Kebohongan
"Ibu Arini?" Panggilan petugas loket memecah konsentrasi Arini yang sedang mengawasi pergerakan pasar saham di ponselnya.
Arini berdiri dan melangkah maju, "Iya, Pak. Saya ingin mengurus penerbitan Kartu Keluarga baru. "Ia lalu memberikan berkas-berkas yang diperlukan kepada petugas itu.
Petugas pria berkacamata itu menerima dokumen Arini dan jemarinya mulai menari di atas keyboard. Keheningan yang mengikuti proses itu terasa lama bagi Arini. ia memperhatikan wajah petugas yang perlahan berubah dari datar menjadi berkerut penuh kebingungan.
" Maaf, Bu. saya sudah memeriksa Nik atas nama Galang Pramudya di sistem nasional." ujar petugas itu pelan, matanya masih Menatap layar monitor dengan serius. "Tapi di data kami status pernikahan Bapak Galang dan ibu belum terdaftar secara negara."
Arini tersenyum kecut, dia merasa pasti ada kesalahpahaman. "Mungkin ada kesalahan input, Pak. Kami sudah menikah lima tahun. Dan surat nikah kami yang asli disimpan suami."
Petugas itu menggeleng perlahan, ekspresinya kini berubah menjadi Iba. "Bukan itu masalah utamanya, Bu. Nama Bapak Galang Pramudya sudah terdaftar dalam sebuah kartu keluarga yang aktif sejak 6 tahun lalu. Di sini tercatat istrinya bukan atas nama Ibu melainkan seorang wanita bernama Dita Amalia. dan yang mengejutkan ada seorang anak laki-laki bernama Galih Pramudya yang terdaftar sebagai anak mereka dalam kartu keluarga tersebut.
Dunia Arini seketika berhenti berputar. Udara di ruangan ber-ac itu mendadak hilang, dan membuatnya sesak nafas. Fakta dan Kenyataan ini begitu mengejutkan.
" Apa maksud bapak? Dita? Itu... itu adalah nama pengasuh anak saya." suara Arini bergetar hebat. " Dan Galih, gali itu anak saya! Mana mungkin!"
" Saya hanya menyampaikan data di sistem, Bu. " petugas itu memutar komputernya mengarah ke Arini agar dia bisa melihat dan membaca sendiri, " Galih tercatat sebagai anak kandung dari Galang dan Dita. pernikahan mereka sah secara negara. sedangkan nama ibu... tidak muncul sama sekali dalam silsilah keluarga ini."
Kalimat itu menghantam Arini seperti petir yang menyambar tepat di ulu hati, menghancurkan seluruh bangunan jiwanya hingga berkeping-keping. Lima tahun... Lima tahun Ia hidup dalam bayang-bayang kebohongan yang sangat rapi. Pernikahan yang ia sakralkan, rumah tangga yang ia rawat dengan peluh dan doa, ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara di mana ia adalah satu-satunya orang yang menjadi peran pembantu yang bodoh.
Apakah semua ini bohong? Janji Suci di depan penghulu, malam-malam penuh tawa dan duka yang pernah mereka rasakan. Apakah semua itu palsu?
Dengan langkah gontai dan pandangan yang mengabur oleh air mata yang belum sempat jatuh, Arini keluar dari kantor tersebut. Ia tidak ingat bagaimana Ia bisa sampai ke rumah dengan taksi, pikirannya kosong namun hatinya meraung hancur, sedih kecewa dan sakit hati.
Selama lima tahun ini Arini selalu mengandalkan Galang. Setiap kali ia menanyakan perihal Kartu Keluarga dan akte kelahiran Galih yang asli Galang selalu punya jawaban yang sama. "Sabar ya, Sayang. Pekerjaanku lagi banyak aku masih belum bisa mengurusnya nanti kalau sudah agak longgar aku pasti akan mengurus semuanya."
Padahal dia tidak perlu mengurusnya sendiri, dia bisa meminta bantuan asistennya untuk mengurus hal kecil itu. Dan hari ini semuanya menjadi jelas. Galang tidak mengurusnya karena ada kebohongan besar yang sudah dia sembunyikan darinya selama ini.
Dan bodohnya Arini, ia selalu patuh dan menjadi istri yang mencintai suaminya tanpa syarat. Namun mungkin sudah saatnya Tuhan memberikan jalan kebenaran kepadanya. Saat mengurus pendaftaran Galih, ia harus segera mengurus kartu keluarga sebagai persyaratan. Dan akhirnya semua kebohongan yang mereka sembunyikan terungkap sudah.
Sesampainya di depan rumah mereka, Arini berhenti dan menatap rumah yang telah Ia tinggali selama ini. rumah yang ia kira penuh cinta, Ternyata semuanya palsu. Arini melangkah perlahan memasuki rumah. Namun langkahnya berhenti saat mendengar percakapan dua orang yang sangat ia kenal.
"Mas, Aku khawatir," itu adalah suara Dita. suara yang biasanya terdengar lembut dan sopan sebagai pengasuh, ini terdengar begitu manja,
"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Galang dengan kening berkerut.
"Galih sudah semakin besar. Wajahnya semakin hari semakin mirip denganmu. Orang-orang mungkin tidak akan curiga tentang anak kita. Tapi bagaimana dengan Arini. Cepat atau lambat dia akan mencurigai kemiripan wajah Galih denganmu. "
Arini membeku di balik dinding pembatas, tangannya mencengkram erat tasnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu tenang saja, sudah lima tahun kita bermain cantik. Dan dia tidak tahu apa-apa. Dia selalu mempercayai semua kata-kataku, karena dia sangat mencintaiku. Kamu tidak perlu khawatir. "
" Tapi sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi begini? Aku lelah pura-pura menjadi pelayan di depan istri palsumu itu. Apalagi mendengar anakku memanggilnya mama. Ingin sekali ku sumpal mulutnya." ucap Dita kesal.
"Sebentar lagi. Aku masih membutuhkannya. Semua proyek di perusahaan dia yang menangani. Dan semua investor sangat mempercayainya. Aku tidak mungkin membuangnya begitu saja. Dia masih sangat berguna untuk perusahaan ku. Bersabarlah sedikit lagi. Kalau semua berjalan sesuai rencana, kita akan menjadi pasangan romantis di runah ini. " Galang mencoba menenangkan Dita istrinya.
"Baiklah aku akan menuruti keinginanmu itu. Selama ini apa sih yang enggak buat kamu. Kamu nikah pura-pura sama dia aja aku turutin, Anakku memanggil dia mama aja aku bolehin walau rasanya sakit sekali, saat anak kita memanggil wanita lain dengan panggilan mama. Tapi janji tidak akan lama lagi. Aku sudah bosan dengan peran ini. " kata Dita manja sambil mengusap dada Galang.
"Iya, tenang saja. Dan ingat, selalu kasih tau Galih jangan memanggilmu mama kalau ada Arini. Aku tidak mau semua rencanaku gagal karena kesalahan kecil anakmu itu. " Galang memperingatkan.
"Iya... iya, semua terkendali. Galih sangat bisa di ajak kerjasama. "
Mereka berdua berciuman dan berakhir melakukan hal panas itu di siang bolong di ruang keluarga tanpa rasa malu sedikitpun. Ini mungkin alasan Galang tidak mau melakukan hubungan ekstrem seperti itu, karena takut istrinya melihatnya dan menyakiti hatinya. Lalu bagaiman dengan dirinya yang sekarang? Saat mengetahui semua kebenaran dan kebohongan mereka.
Tawa kecil penuh luka menyusul kalimat kejam itu. Arini menyandarkan tubuhnya ke dinding tembok yang dingin. Kebenaran itu sudah terkuak, dan itu benar-benar menyakitkan.
Dia bukanlah ratu di rumah ini. Dia hanyalah orang asing yang dimanfaatkan, seorang figuran dalam keluarga kecil bahagia milik Galang dan Dita. Di dalam sana mereka merayakan kebahagiaan di atas kehancurannya, sementara ia berdiri sendiri hancur tak bersisa. dan tak lagi memiliki tempat untuk pulang nyaman.