Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Nikah
“Mama, Papah gila!”
Suara itu menggema di ruang makan, memecah keheningan pagi yang biasanya hangat. Gadis berusia tujuh belas tahun itu berdiri dengan napas memburu, matanya memerah, dan dadanya naik turun menahan emosi.
PUK!
Sebuah bungkusan tisu melayang tepat mengenai kepalanya.
“Anak kurang ajar! Orang tua sendiri dibilang gila,” gerutu Mama Fenita tanpa menoleh, tangannya tetap sibuk menuangkan sop buah ke dalam mangkuk besar seolah tak terjadi apa-apa.
Clarindra Arabella—atau yang akrab dipanggil Clea—mengusap kepalanya, bibirnya langsung mengerucut kesal.
“Memang gila!” balasnya, suaranya bergetar antara marah dan ingin menangis.
“Coba saja Mama pikir pakai hati. Masa anak gadis yang cantik, manis, imut begini mau dinikahin sama pria tua? Itu bukan nikahin, itu jual anak!”
“Heh! Mulutnya kalau ngomong!” Papah Ramdan ikut bersuara dari kursi makan. "Kebanyakan nonton Dracin kamu ini."
"Papah yang nonton smapai nggak ngerti waktu!"
"Clea...," suara lembut Fenita menghentikan pedebatan ayah dan anak itu.
Clea langsung terdiam sejenak, tapi hanya beberapa detik.
Karena setelah itu, bendungan air matanya benar-benar jebol.
“Hiks... hiks... aku ini masih sekolah, Pah... Mama tega banget sih...” suaranya pecah, tangannya menutup wajah. “Mama sama Papah punya hutang?
Iya?
Aku dijadiin jaminan gitu?”
Tangisannya berubah jadi histeris.
“Huaaaaaaaa...!”
Fenita yang tadi masih terlihat tenang akhirnya menghela napas panjang. Ia meletakkan sendok sayur, lalu berjalan mendekat.
“Clea... sayang... sini,” ucapnya lembut.
Namun Clea menepis pelukan itu.
“Nggak mau! Mama jahat! Papah juga jahat!”
Fenita tetap menarik tubuh anaknya ke dalam pelukan. Meski Clea memberontak, akhirnya ia lelah sendiri dan hanya bisa terisak di bahu ibunya.
“Dengar Mama dulu, ya...” suara Fenita mulai bergetar, tak setegar sebelumnya. “Kami melakukan ini bukan karena tidak sayang. Justru karena kami sangat sayang sama kamu.”
Clea menggeleng cepat.
“Bohong! Kalau sayang, nggak mungkin Mama nikahin aku sama bapak-bapak!”
“Dia bukan bapak-bapak!” sela Ramdan. Dimatanya lelaki yang akan jadi menantunya itu merupakan bibit unggul.
“Ya, hampir tiga puluh lima tahun, Pa! Itu beda berapa tahun coba sama aku?!
Separuh usiaku Pah! Separuh!"
Clea benar -benar kesal kok bisa bisanya orang tuanya begitu.
“Sudah, sudah... nanti kamu juga suka,” suara Ramdan santai tak iba meski putrinya merengek sakit hati.
"Suka dari Hongkong! Jelas jelas umurnya saja tuwir, sudah pasti peyot kendor semua tuh organnya."
"Ngawur! Mana ada pria sekeren itu peyot?" bela Ramdan untuk calon mantunya.
"Kamu belum lihat sih Cle... Mama aja terpesona. Coba ketemu lebih dulu," Fenita ikut meyakinkan.
"Mama...," suara Ramdan agak meninggi. "Maksudnya apa itu?"
Fenita kikuk. "Eh, nggak kok Pah." Ia masih memaksakan senyum, "Papah juga ganteng kok, pas muda. He,he,he..."
"Mama Papah memang sudah tua nggak bisa bedain belasan sama puluhan," gerutu Cela lirih tapi juengkel nya amit-amit.
Tangisan Clea hanya tersisa sesenggukan kecil.
Fenita mengusap rambut panjang anak gadisnya, mencoba menenangkan.
“Clea... kami tidak tega meninggalkan kamu sendirian di sini.”
Clea mengangkat wajahnya, matanya masih basah.
“Maksud Mama?”
Ramdan berdiri, berjalan mendekat, lalu bersandar di meja dengan wajah serius.
"Kita sudah bicarakan ini kan, sayang. Dalam waktu dekat kita akan pindah ke Jerman."
Clarinda ingat Ramdan dan Fenita pernah membicarakan hal ini tapi ia tak tahu tepatnya kapan mereka akan pindah.
"Seminggu lagi, sayang. Setelah urusan pernikahanmu selesai."
Deg.
Jantung Clea seperti berhenti berdetak.
“Apa...? Secepat itu?"
Bukan kepergian Mama dan Papah nya tapi ia akan menikah dalam hitungan hari.
Oh My GOD!!!
“Pekerjaan Papah tidak bisa ditunda. Ini kesempatan besar. Kami sudah menunggu ini bertahun-tahun.”
“Terus aku gimana?” suara Clea mengecil.
“Kamu kan tidak bisa ikut sekarang,” jawab Fenita lembut.
Ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi. Nama Clarinda Arabella sudah terdaftar sebagai peserta ujian. Tidak mungkin dibatalkan.
Clea menggigit bibirnya.
Air matanya kembali jatuh.
“Jadi... aku ditinggal?”
Fenita memeluknya lebih erat.
“Bukan ditinggal. Makanya kami butuh seseorang yang bisa menjaga kamu.”
“Menjaga?!” Clea langsung mendorong tubuh ibunya. “Itu alasan buat nikahin aku?!”
“Ini cara terbaik,” ujar Ramdan.
“Bukan! Ini cara paling jahat!”
Clea mundur beberapa langkah, kepalanya menggeleng tak percaya. "Mama Papah bisa sewa pengasuh sementara. Sesimpel itu ke apa mesti ribet pake nikah segala."
“Teman-teman aku gimana nanti? Hidup aku gimana? Masa muda aku gimana?” suaranya kembali pecah. “Aku bahkan belum lulus, Pa...”
“Rahasia.”
Satu kata itu keluar dingin dari mulut Ramdan.
Clea menatapnya bingung.
“Maksud Papah?”
“Pernikahan ini tidak akan diketahui siapa pun, kecuali orang tertentu saja," lanjutnya. “Kamu tetap sekolah seperti biasa. Tidak ada yang berubah.”
“Tidak ada yang berubah?!” Clea tertawa getir. “Status aku berubah, Pa! Hidup aku berubah!”
Fenita kembali mencoba menenangkan.
“Clea, dengar Mama. Ini hanya sementara. Semuanya berjalan seperti biasa.”
"Usai ujian kamu bisa susul kami ke Jerman bersama suamimu."
Mendengar kata suami Clarinda merasa jengkel kembali.
"Ini yang terbaik untukmu, sayang. Kami yakin kamu nggak akan kecewa," Ramdan mengusap kepala putrinya.
"Iya, sayang. Calon suamimu ini good looking banget, apalagi keluarganya nggak kaleng-kaleng. Tajir melintir. Masa depanmu pasti sangat terjamin."
"Good looking itu relatif Ma," gerutu Clarinda.
"Eh ini beneran sayang. Seperti Turki man," mata Fenita berbinar. "Kamu lihat kan, bahkan penjual jagung di jalan aja gantengnya gak ketulungan." Sementara Ramdan memutar bola matanya melihat sang istri.
"Hah? Brewokan dong?"
"Aaaahhhh.... Aku tak suka yang brewok!!!"
"Huaaaaaa..."
"Mama Papah jahat!"
Clarinda kembali histeris.
"Gak mau! Pokoknya gak mau!"
"Aku minggat saja!"
"Hiks...!"
Di sudut rumah, suara tangisan bayi terdengar.
Adik kecil Clea, yang baru berusia dua tahun, mulai rewel.
Fenita langsung menoleh.
“Tuh...adikmu bangun,” ucapnya lalu bergegas ke kamar diikuti Ramdan.
Clea berdiri sendiri di ruang makan.
Sunyi.
Sepi.
Tiba-tiba terasa... asing.
Ia menatap meja makan yang tadi penuh kehangatan, kini terasa dingin.
Pandangannya beralih ke foto keluarga di dinding.
Dirinya.
Mama.
Papah.
Dan adik kecilnya.
Ya adik kecil. Kadang Clarinda sebal juga. Ia malu. Di usia segede ini malah punya adik yang usianya jauh darinya.
"Dan setelah ini... Aku punya suami tua." Ia menghela nafas.
"Keluarga macam apa ini Ya Tuhan...? Hiks..."
Clarinda menutupi wajah dengan kedua tangannya. Lemah lesu. Perasaannya campur aduk nano nano.
*
Sementara itu, di tempat lain...
Seorang pria duduk di balkon apartemen mewahnya.
Segelas minuman beralkohol di tangan, rokok menyala di sela jari.
Wajahnya tampan. Tegas. Namun sorot matanya kosong.
Zavian Hardinata.
Nama yang dikenal hampir semua orang di kalangan bisnis elite.
Pewaris keluarga besar.
Calon pemimpin perusahaan raksasa.
Dan... pria yang sedang dipaksa menikah.
“Brengsyek!!!”
Ia menghembuskan asap rokok kasar.
“Menikah? Dengan anak SMA?”
Ia tertawa miring.
“Gila...”
Pintu balkon terbuka.
Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah tenang.
“Kamu masih di sini rupanya.”
Zavian tidak menoleh.
“Apa lagi, Kek?”
Damar Hardinata berdiri tegak, tatapannya tajam meski usia sudah lanjut.
“Jawabanmu?
"Batas waktumu sudah habis."
Zavian menghela napas panjang.
“Apa harus sekarang?”
“Ya. Sekarang.”
Sunyi beberapa detik.
Hanya suara angin yang berhembus.
Zavian memejamkan mata.
Ia tahu.
Ini bukan pilihan.
Ini paksaan.
Jika ia menolak—
Semua yang ia miliki akan hilang.
Nama.
Kekuasaan.
Uang.
Dan kehidupannya yang nyaman.
“Kamu terlalu lama bermain-main,” suara Damar dingin. “Perusahaan bukan tempat untuk orang yang tidak punya tanggung jawab.”
Zavian tersenyum tipis.
“Dan menikah dengan gadis kecil itu bentuk tanggung jawab?”
“Ya, salah satu dari sekian tanggung jawab yang akan kau emban nanti. Dia pilihan Kakek."
“Bukan pilihanku.”
“Kalau begitu, kamu tahu konsekuensinya.”
Kalimat itu seperti palu yang menghantam.
Zavian mengepalkan tangannya.
Rahangnya mengeras.
Dalam hidupnya, ia tidak pernah benar-benar melawan kakeknya.
Karena satu hal.
Pria tua itu memegang segalanya.
Dan Zavian... belum cukup kuat untuk kehilangan semuanya.
Akhirnya, ia membuka mata.
Tatapannya dingin.
“Baiklah.”
Damar menatapnya.
Zavian berdiri perlahan.
“Aku turuti kemauan Kakek.”
Senyumnya tipis, tapi penuh kepahitan. Ia terpaksa tunduk dibawah ancaman penguasa keluarga Hardinata.
"Anggap saja latihan."
“Tapi jangan berharap aku jadi suami yang baik.”
Damar tidak terlihat terkejut.
Seolah sudah tahu.
“Yang penting kamu menikah.”
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"