NovelToon NovelToon
Misteri Hantu Penculik Bayi

Misteri Hantu Penculik Bayi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin / Hantu / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lili Aksara 04

Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.

Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.

Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.

Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.

Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.

Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.

Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.

Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.

Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Tolooooong, bayiku hilang!" teriak seorang wanita.

Malam itu, desa Dukuh Asem dikagetkan dengan teriakan seorang ibu-ibu yang membelah malam, membuat para warga desa Dukuh Asem langsung terbangun dari tidur lelapnya.

"Ya Allah, ada apa ini, Bu Lela?" tanya Bu Siti—yang merupakan tetangga Bu Lela.

"Bayiku hilang, Bu. Tadi aku tinggal sebentar dia ke kamar mandi, pas aku balik lagi, tahu-tahu udah nggak ada," jawab Bu Lela sambil menangis tersedu-sedu.

Perasaan Bu Lela begitu hancur, karena ia dan sang suami sudah menunggu kehadiran bayi itu lama sekali.

Namun, bayinya yang baru saja berusia 3 bulan itu malah sudah hilang entah ke mana.

"Ya sudah, ayo kita cari bayinya Bu Lela sekarang," ucap Pak RT.

Pak RT segera menyuruh para bapak-bapak untuk berpencar mencari bayinya Bu Lela.

***Sementara itu, terlihat seorang gadis ikut di antara kerumunan ibu-ibu yang penasaran dengan apa yang terjadi.

Nama gadis itu adalah Arumi Salsabila.

Ia adalah anak dari Nyai Sawitri dan Pak Broto, juragan terkaya di desa itu.

Setelah para bapak-bapak pergi untuk berpencar, Arumi kembali masuk ke rumahnya.

Rumah milik orang tua Arumi adalah rumah yang paling besar di desa Dukuh Asem.

Rumah itu adalah satu-satunya rumah yang sudah kramik dan berdinding bata.

Karena rumah warga desa yang lain masihlah rumah panggung sederhana.

"Kakak, itu di luar ada apa sih?" tanya Bella, yang merupakan adik dari Arumi.

"Itu, lo, Dek, bayinya Bu Lela hilang," jawab Arumi.

"Loh, kok bisa?" Bella tampak terkejut.

"Nggak tahu juga, sih, itu para bapak-bapak juga lagi nyari," jawab Arumi.

"Ih, kok aku jadi takut sih, jangan-jangan ada apa-apanya lagi," ucap Bella sambil bergidik ngeri.

"Hus, kamu itu ngomong apa, toh, jangan aneh-aneh," Arumi menutup mulut adiknya.

"Iya deh, Kak, ayo kita tidur aja," ajak Bella, karena perasaan gadis itu sedikit tak enak.

"Tidurlah sendiri, Dek, aku masih mau di sini," jawab Arumi.

"Nggak mau, pokoknya kamu harus nemenin aku, Kak, aku takut beneran ini," ucap Bella.

Bella menarik tangan kakaknya itu supaya berdiri dari tempatnya.

Dengan pasrah, Arumi mengikuti adiknya itu.

Arumi berdecak kesal, ia sungguh tak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu.

"Dek, kamu ini lari kok kenceng banget, sih, sudah macam dikejar maling saja," ucap Arumi.

"Ah, ganeng, nu penting bisa ka kamar," jawab Bella.

(Ah, berisik, yang penting bisa ke kamar)

***Kedua gadis itu akhirnya tiba di kamar Arumi.

Kamar Arumi memang memiliki kasur yang sedikit lebih besar, jadi bisa ditiduri oleh 2 orang sekaligus.

"Aku tidur di sini sama kamu, ya, Kak, ya," pinta Bella dengan wajah memelas.

"Terserahmu saja, lah," jawab Arumi tidak peduli.

Arumi merebahkan tubuhnya, diikuti dengan Bella.

Tong, tong, tong.

Saat kedua gadis ituhampir saja terpejam, tiba-tiba saja terdengar suara kentongan.

"Wah, ada apa itu, ya? Apa mereka udah nemuin bayinya Bu Lela?" Bella tampak heran.

Biasanya, jika kentongan itu dibunyikan, artinya ada sesuatu yang terjadi.

"Ayo kita lihat, Dek, kok aku penasaran," ajak Arumi.

Bella mengangguk, ia juga sama penasaranya dengan sang kakak.

Mereka berjalan ke depan pintu.

Rupanya, bapak dan ibunya juga sudah ada di depan pintu.

Ceklek.

Pak Broto membuka pintu rumah mereka, membuat udara dingin pedesaan langsung menyergap.

"Maaf, Pak, ini ada apa, ya?" tanya Pak Broto.

"Itu, Pak, bayinya Bu Lela udah ditemukan, tapi dia meninggal," jawab warga yang ditanyai oleh Pak Broto.

"Innalillahi wa innalillahi roji'un," ucap mereka semua serempak.

"Memang ditemukan di mana bayinya, Pak?" tanya Arumi.

"Di sawah milik Pak Basir, Neng. Awalnya kami itu memang melewati sawah-sawah, tapi ya nggak ada apa-apa. Nah, pas lewat di sawahnya Pak Basir, kami lihat ada mayat," jawab Bapak itu menjelaskan.

Arumi dan Bella tampak sedikit terkejut.

Mereka pun mendekat untuk melihat mayat bayi itu.

Saat diperhatikan lebih dekat, Arumi melihat seperti ada bekas cekikan di leher bayi itu.

Memang kalau tak benar-benar diperhatikan pasti tidak akan terlihat, tetapi sekarang banyak warga yang membawa senter.

Cekikan itu memang terlihat kecil.

Bayi umur 3 bulan, dicekik sedikit saja nyawanya akan langsung tidak terselamatkan, berbeda dengan orang dewasa yang bisa bertahan beberapa menit, bahkan mungkin bisa melepaskan diri.

"Astaghfirullah haladzim, ya Allah gusti, siapa yang tega ngelakuin ini sama bayi yang tak berdosa begini," ucap salah satu ibu.

Bahkan, Bu Lela sendiri sampai pingsan berkali-kali, saking takuatnya melihat jasad sang bayi.

"Kak Arum, ini kira-kira mayatnya mau dikubur sekarang apa gimana ya?" tanya Bella dengan berbisik.

"Kayaknya enggak deh, Bel, soalnya ini udah malem, nggak baik mayat dimakamkan jam segini," kata Arumi.

"Oh, iya juga sih," jawab Bella.

Saat ini, jam menunjukan pukul 21.30 menit, sudah begitu malam untuk melakukan penguburan.

"Para warga sekalian, mayat bayi ini tidak akan dimakamkan malam ini, karena sekarang sudah tidak memungkinkan. Untuk itu, saya minta kepada bapak-bapak yang bisa untuk menjaga bayinya Bu Lela di rumahnya," ucap Pak RT mengumumkan.

Bayi itu pun dibawa pulang ke rumah Bu Lela, dan para bapak-bapak akan menjaganya sambil melakukan pengajian.

"Pak, Bapak nggak ikut ke rumah Bu Lela juga?" tanya Arumi.

"Enggak, Neng, Bapak capek banget. Nggak apa-apalah, toh yang lain juga udah pada ke sana," jawab Pak Broto.

"Betul itu, kasihan bapakmu, dia capek di sawah," timpal Nyai Sawitri.

"Oh, ya sudah, Bu, Pak," jawab Arumi.

"Kok Bapak sama Ibu aneh ya, mereka kayak nggak ada kaget-kagetnya lihat kondisi bayinya Ibu Lela," batin Arumi sedikit aneh.

Tapi, ia berusaha mengenyahkan pikiran buruknya itu.

Pak Broto, Nyai Sawitri, Arumi serta Bella segera kembali masuk ke dalam rumah.

Pak Broto juga mengunci pintu rumah mereka.

***Arumi kembali merebahkan tubuhnya di kamar diikuti dengan sang adik.

"Kak, kasihan banget ya bayi itu, padahal Akila itu lucu," ucap Bella.

Akila, itulah nama dari bayi Bu Lela itu.

"Iya, Dek. Bu Lela pasti sangat terpukul. Semoga aja sih, Bu Lela sama keluarganya bisa tabah, ya," harap Arumi.

"Aamiin," jawab Bella.

Mereka pun mulai berusaha terlelap kembali.

***Arumi membuka matanya secara perlahan.

Gadis itu menatap sekitarnya yang terasa sangat asing.

"Eh, di mana ya aku ini, perasaan tadi aku itu lagi tidur," ucap Arumi.

Kini, Arumi berada di sebuah hutan yang sangat gelap.

Dari tempatnya sekarang, Arumi bisa melihat bayangan pohon yang tampak begitu menakutkan.

Arumi melangkahkan kakinya menyusuri hutan.

Gadis itu hanya mengandalkan cahaya bulan, karena tak ada apapun yang ia bawa.

"Sebenarnya aku ini ada di mana ya, ini pasti mimpi," batin Arumi.

"Hihihiiiii! Ibumu telah membuatku hancur, Arumi!" teriak seorang wanita.

Suara wanita itu begitu menyeramkan, membuat Arumi merasa terkejut.

Namun, Arumi langsung tersentak bangun dengan napas tersengal-sengal, membuat Bella juga langsung terbangun, karena merasakan ranjang yang berderit.

"Kamu ini kenapa, Kak?" tanya Bella.

Arumi masih mengatur napasnya.

Suara wanita itu masih terngiang di kepalanya.

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ayoo cari tahu alasannya arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
dahar heula,, lapar aing eui😄
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
mangan saetik😄
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kayak disirep ya ini, buat orangnya jadi lupa ingatan beberapa saat
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor, yang paling kusukai dari novel ini adalah gaya penceritaan nya, pemilihan kata yang sederhana dan bahasa sehari-hari.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
pake istilah yang kekinian, cetaaaakkkkk
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
😄 aku suka sama istilah kamu Thor, ilmu melipat bumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
aduh, ya iya ada dong,, kayak kita Mauk ke dalam dunia cermin, nah dalam kamuflase cermin itu ada pantulan matahari juga, gitu kan yaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
emang iyaa dengan meditasi bisa fokus, trus fikiran tentang hantu akan hilang
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
di Sumatera istilah begu juga ada dipakai, begu artinya setan di salah satu daerah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ini tahapan-tahapan bersemedi yah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kayaknya meditasi kalau di dalam gua cocok bagi yang perlu liburan weekend kelar mumet kerjaan numpuk yaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
berat kalau jalani tirakat yaaa, tapi nanti semua keinginan sikabulin begitu kah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
tenaga dalamnya terkuras ya Arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
terima kasih sudah menyajikan cerita horor atau misteri dengan sederhana. Saya jadi tak parno membacanya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor tahu gak, kamu membuat sebuah cerita misteri jadi terkesan dialog sehari-hari antar sesama manusia, padahal mah setan dan cs semua tokoh-tokoh pembantunya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kenapa gak beli aja Arumi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
oh ini toh kujang
Lili Aksara
Nah guys, sekarang saya udah tahu ya caranya nambahin ilustrasi ke dalam bab, jadi mungkin sedikit saya akan masukan ilustrasi supaya nggak terlalu ngebosenin.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
emang tubuh yang sudah ditakdirkan dirasuki leluhur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!